Senin, 19 Juli 2010

Obituari : Mengenang Moyardi kasim

Jumat sore 7 September 2007, mendung dan berangin di Sorowako. Perenungan menunggu azan Isya sedikit terganggu oleh dering HP, rupanya dari karib lama : Moyardi Kasim. Saya yakin, dia pasti menelpon dari ruang kantornya yang apik di lantai 2 showroom Mitsubishi jalan Veteran 14 Padang. Pasti sendirian, karena karyawan sesorean biasanya sudah pada pulang.

”Lu dimana” ?, selalu demikian pertanyaan awal kawan ini, karena dia sudah memastikan saya tidak sedang berada di Padang. “di Sorowako, mencarikan belanja lebaran”, jawab saya. Selanjutnya, “ah, lu pergi-pergi aja (dalam bahasa Jakarte logat Minang Pariaman yang kental)” dan komunikasi kami diputus seketika. Biasanya, kalau tak telpon langsung, Molyardi selalu berkirim SMS, isinya ringan2 dan bahkan ngelantur kemana-mana.

Rupanya itulah komunikasi terakhir saya dengannya, setelah seminggu sebelumnya kami menjalani ritual rutin ba’da magrib dikantornya, yakni makan nasi bungkus gulai hati Restoran Selamat ditambah gorengan belut kering lado merah dari restoran Semalam Suntuk. Waktu itu ikut makan karib yang lain pengusaha pengembang Johny Halim (TI 76) dan Arsitek Rudy Ferial (AR 78) . Ritual rutin interaksi kami yang berlangsung bertahun-tahun, mengingat kesibukannya yang tak mungkin diganggu dalam jam kerja mengendalikan Grup Suka Fajar yang makin menyita perhatiannya. Waktu itu dan sampai saat akhir, tak ada sedikitpun sinyal tentang kepergiannya. Kami tetap bercanda dan saling ledek tentang banyak hal. Biasalah.

Rupanya tradisi kerja keras harian sampai sekitar jam 10 malam itulah yang membawanya kehadapan Sang Maha Pencipta. “Cara pulang menghadap-Nya” memang misteri Tuhan, dan selalu yang terbaik untuk Hamba-Nya. Gempa 7,9 Skala Richter,yang mengguncang kota Padang Rabu sore jam 16.10 minggu lalu itu, telah melantak-luluhkan bangunan utama Grup Suka Fajar berlantai empat. Saat mana Moyardi sedang akan mulai menjalani ritual rutinnya bekerja sampai malam. Seperti biasanya.

Menurut Johny Halim yang memimpin evakuasi malam itu, setelah mengantar tamunya keluar bangunan, ia kembali ke ruang kerjanya untuk segera berwudhuk dan ingin mengejar shalat Asyar yang belum tertunaikan. Subhanallah, melihat kondisi jasadnya ketika ditemukan esok siang : ia tengah di atas sajadah dalam posisi bersujud. Tim SAR yakin bahwa ia tengah shalat saat gempa datang. Moyardi pergi dalam sujud menghadap-Nya. Bersujud dihimpit reruntuhan bangunan, tempat ia syahid mencari nafkah keluarga dan ratusan karyawan yang menggantungkan nafkah bersamanya.

Itulah, ratusan handai taulan mengantarnya ke pekuburan umum Tunggua Hitam, sore kamis yang merupakan ”puaso tuo” bagi komunitas Minang.

****

Ingatan melayang pada 34 tahun lalu, saat SMA I Padang menerima adik kelas yang baru, dimana seorang anak muda cenderung mungil berkacamata berat ikut didalamnya. Belakangan ketahuan, ia anak pintar, juara umum dari SMP I dan anak pengusaha terkenal kota Padang, H. Sutan Kasim. Saya sudah agak kenal sebelumnya, karena kami sama-sama dibesarkan di pasar Raya Kampuang Jao. Juga demikian kawan-kawan segenerasi yang lain. Moyardi membantu orangtuanya berjualan kulit skala grosir, sedang saya membantu Ayah berjualan grosir pecah belah. Ada Reza Abidin (MS 76) membantu orangtuanya berjualan grosir kain, Zahedi Putra (TK 75) berjualan rupa-rupa, Chairinal Chaidir (SI 75) berjualan alat elektronik, Asrul Basari (GM 77) ikut mengurus grosir tekstil bersama kakak2nya di Pasar Bertingkat dan Badrul Mustafa (GM 76) mengendalikan kedai kontrakannya.

Kami merupakan produk entrepreneur pasar raya, yang sangat kami rasakan manfaatnya setelah merantau ke Bandung dan kini bekerja di berbagai bidang kehidupan. Hubungan kami sebagai ”anak pasa” langgeng sampai sekarang. Kerap kami kumpul-kumpul dan melakukan perjalanan bersama. Bila kumpul di Padang, nasi bungkus Restoran Selamat dan Semalam Suntuk menjadi makanan enak khusus menyemarakkan nostalgia.

Moyardi memang cerdas dan unggul dalam berbahasa Inggris karena ikut les inggris sejak kecil di privat bahasa IES. Makanya, saat beberapa diantara kami ikut bimbingan test dulu setahun untuk masuk ITB, ia langsung lulus. Jadinya kami seangkatan, sama-sama diterima tahun 76. Juga sama-sama lulus tahun 85, artinya sama-sama menghabiskan pendidikan S1 cukup lama, yakni 9 tahun !.

Namun medan kiprah kampus kami berbeda, ia dan Johny Halim menekuni bisnis sampai meninggalkan kuliah bertahun-tahun, saya menjalani kehidupan sebagai aktifis mahasiswa. Saat ia berkutat mengembangkan pembuatan KTP Massal bermesin laminating di kabupaten Subang dan Garut , saya menjadi aktifis Dewan Mahasiswa ITB yang menggerakkan berbagai demonstrasi mahasiswa dari berbagai kampus se Jawa. Mesin Pres KTP ciptaan mereka bersama Alex Yudhi (MS 75) tampil dengan merk lamilex, namun setelah pecah kongsi Johny mengembangkan produk lamiko. Saya ingat betul, untuk urusan KTP massal mereka mengajak tukang foto dari alun-alun bekerjasama.

Maret 1985, kami sama-sama pulang ke Padang. Saya bersama beberapa kawan lain mengejar mimpi ideologis dengan berusaha mengembangkan kembali sekolah alternatif INS Kayutanam, Moyardi mulai menekuni usaha meningkatkan kinerja perusahaan keluarga. Ia mulai bekerja mengembangkan sistem manajerial Grup Suka Fajar dan tak pernah berhenti memikirkannya sampai akhir hayat. Kerja kerasnya membuahkan ekspansi perusahaannya ke belasan titik operasi strategis di berbagai propinsi di Sumatera. Grup ini bahkan berani masuk kota Medan yang dikenal dengan sengitnya persaingan bisnis. Menjelang krisis moneter, mereka bahkan membuka core bisnis baru, membangun Hotel Ibis di kota Pekanbaru yang diperkirakan akan menjadi kota bisnis. Tahun tahun terakhir, sebagian besar waktu Moyardi adalah bolak-balik Jakarta dan Pekanbaru.

Menarik disimak, saat krisis moneter, grup ini malah makin berkembang. Nampaknya, silaturrahmi Moyardi kakak beradik cukup ampuh untuk membuat grup bertahan ditengah badai krisis moneter yang datang melanda. Saat perusahaan lain mem-PHK karyawan, Grup Suka Fajar malah merekrut pegawai untuk mendukung ekspansi. Grafik pemasaran malah meningkat. Kini Grup Suka Fajar telah berkembang menjadi usaha konglomerat pribumi yang tak tersaingi di Sumatera Barat.

Moyardi mantap terjun ke usaha keluarga saat kepulangan ke kampung. Tahun 1988 Johny Halim juga menyusul pulang dan mendirikan pengembang Grup Taruko. Kami sering bersilaturrahmi sampai bertahun-tahun sesudahnya. Namun sejak gempa 12 September 2007 sore, seorang kawan sudah berkurang. Moyardi duluan pergi menjalani ketentuan-Nya, menghadap mahkamah abadi sesuai amal ibadahnya.

Yang jarang diketahui publik, adalah semangat Moyardi mendukung berbagai aktifitas sosial yang saya kerjakan. Saat mendirikan Yayasan Insan 17 di Padang, Moyardi menjadi Direktur Keuangan dan diam-diam memfasilitasi kami dalam kondisi kesulitan finasial diawal pendirian lembaga. Waktu membantu pengembangan usaha kerajinan beberapa sentra di Sumbar, di gedung BI Sudirman, Ekonom Sritua Arief pernah bercanda dan kagum kok kapitalis bisa hadir dalam ruqang bernuansa sosialis. Moyardi hanya tersenyum simpul. Begitupun banyak sekali aktifitas LSM Insan 17 di pelosok Sumbar dalam mengatasi persoalan kemiskinan, Moyardi dari balik layar banyak memberikan pandangan dan tak lupa sokongan keuangan bila diperlukan. Hingga tahun 1992, kami bahu membahu mengurus LSM, sampai saya harus pindah ke Jakarta mengurus jaringan nasional LSM Lingkungan Hidup - Walhi. Komunikasi memang jarang karena masing-masing sibuk dengan urusannya, namun Moyardi dan kawan-kawan rupanya menyimpan agenda khusus untuk saya.

****

Silaturrahmi kami membuhul makin erat saat saya menjadi saksi mata langsung perkawinannya dengan Arni, alumni ITB - BI 77 yang sudah lebih dulu pulang ke Padang dan kelak menjadi Dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Pasangan Moyardi dan Arni telah dikaruniai 2 pasang anak yang kini telah remaja. Ivan mengikuti jejak papinya mengambil kuliah di jurusan Tehnik Industri Unand, Vina, Avin di tingkat SMA dan Vani masih di SMP. Kakak beradik nampaknya diprogram betul, masing-masing berjarak umur selang seling 2 tahun.

Itulah, karena keasyikan menjadi aktifis dan sering bepergian keluar negeri, saya lupa kawin. Ini meresahkan keluarga dan juga kawan-kawan. Tak lupa tentunya Moyardi. Saat jeda dan pulang berlebaran ke Padang, mereka mengatur pertemuan saya dengan seorang gadis bermarga harahap, yang kebetulan murid Dr. Badrul Mustafa (Kini WR III Unand) di Fakultas tehnik Sipil. Saat kunjungan lebaran, tiba-tiba mobil dibelokkan ke sebuah rumah yang asri di kawasan Linggarjati. Katanya ke rumah salah seorang mahasiswi Unand. Rupanya saya dikenalkan dan akhirnya mantan mahasiswi itu menjadi istri saya. Pesta kawin beberapa bulan sesudahnya, sebagian didanai oleh Moyardi secara diam-diam.

Maret 2003, dengan membawa sertifikat rumah dan BPKB mobil saya mendatanginya di kantornya. Mau pinjam uang tunai, untuk biaya pengobatan anak ketiga kami, Kembara, yang mendapat serangan penyakit kanker darah, lukemia limfositik akut. Sangat saya ingat kemarahan Moyardi dan akan membuang surat berharga itu, karena katanya persahabatan tidak bisa diukur dengan sekedar urusan pinjam uang. Saya disuruh segera berangkat ke Jakarta dan besok pagi rekening saya sudah terisi. Kalau tak salah dia mengirim dukungan sampai tiga kali.

Demikian seterusnya, karena tetap menjalani kehidupan sebagai aktifis yang tak jelas penghasilannya, kapanpun kalau saya perlu uang, Moyardi tak pernah tinggal diam. Moyardi seakan ATM saya dalam menjalani kehidupan aktifis. Mungkin karena cukup terbuka rezekinya, tak pernah sekalipun uangnya yang saya pakai ditanyakan, apalagi ditagihnya. Setiap mau lebaran, selalu ada paket kiriman beberapa ikat uang pecahan seribu rupiah dan 2 ikat uang pecahan lima ribu. Katanya untuk persiapan lebaran. Lebaran mendatang dan selanjutnya, tentu fenomena itu tidak mungkin terulang lagi. Moyardi sudah tak ada, ia kini diseberang sana.

*****
Sedemikian erat interaksi kami, sehingga waktu menulis obituari ini, saya perlu mengunjungi Johny Halim untuk menanyakan apa sebetulnya kelemahan dari Almarhum. Refleksi kami, mungkin karena lama mengambil setiap keputusan, atau katakanlah berhati-hati, sehingga gaya manajerial dia terkesan lamban. Tapi kami juga sepakat, mungkin karena hati-hati itulah ia berhasil dalam mengendalikan perusahaan yang makin membesar. Dapat dikatakan kelemahan sekaligus kelebihannya. Bung Johny yang cepat mengambil keputusan, sampai sekarang ekonominya masih tambal sulam, masih fase gogo, belum menuju mapan. Moyardi sudah jauh lebih dulu.

Namun apapun, ada agenda yang masih tersisa. Kami bersepakat untuk mempercepat laju perhatian masyarakat ke usaha kelautan. Bersama kami mencoba merubah desain kapal tonda menjadi mini long-line agar bisa menangkap tuna bernilai tinggi untuk meningkatkan harkat hidup nelayan. Selain itu berniat pula kami untuk mendirikan BPR sebagai lembaga keuangan mendukung pertanian, khususnya padi organik. Agenda ini wajib diteruskan karena merupakan hasil diskusi kami berkepanjangan, tentang bagaimana tetap berkiprah membangun kampung halaman. Tentu tak lagi tanpa kehadiran fikiran-fikiran matang pengusaha Moyardi. Duh, entahlah.

Hanya yang mengganjal, sampai akhir hayatnya Moyardi tidak sempat menunaikan ibadah haji. Setiap diajuk, dia selalu mengatakan akan segera mendaftar. Tapi nyatanya tak pernah sempat, tersebab banyak sekali urusannya di bisnisnya. Tentu bebannya jatuh ke bahu Ivan sebagai putra tertua, untuk menemani maminya beribadah ke Baitullah.

Selamat jalan kawan, semoga kau mendapat tempat yang layak disisi-Nya. Suatu saat kami semua pasti menyusulmu.

Sumber:

Punk Muslim, Ketika Idealisme Punk Melebur dengan Islam

Monday, 09/11/2009 10:52 WIB

Siapa yang menyangka kehidupan jalanan ternyata tak seburuk yang dibayangkan. Di antara segerombolan pengamen, anak-anak jalanan, pedagang asongan, yang kerap diidentikkan dengan minuman keras, ngelem (menghirup aroma lem aibon), narkoba, free sex, dan sebagainya, masih ada setitik cahaya yang memberikan harapan bahwa dakwah di kalangan yang dianggap termarjinalkan ini masih ada dan mungkin dilakukan. Salah satunya adalah komunitas yang menamakan diri mereka Punk Muslim.

Punk Muslim berdiri pada Ramadhan 1427 H, hampir 3 tahun lalu, yang digagas oleh seorang Budi Khoironi, yang akrab dipanggil Buce. Buce yang jebolan pesantren ini menganggap masih ada harapan untuk memperbaiki kondisi pemuda yang berada di komunitas punk yang sudah telanjur dianggap hidup tanpa orientasi, antikemapanan, dan meninggalkan agamanya.Susah payah Buce merangkul anak-anak punk dan mengajak mereka kembali ke Islam, agama yang sebagian besar dianut oleh komunitas ini. Pilihan Buce untuk hidup di jalanan adalah pilihan untuk menyentuh objek dakwah yang tak pernah disentuh, yaitu anak-anak jalanan. Keprihatinan dan kesukaan Buce terhadap musik dan kesenian sempat dituangkannya dalam sanggar kesenian bernama Warung Udix Band, sekitar 8 tahun lalu. Di sanggar inilah, anak-anak jalanan berkumpul untuk latihan band sekaligus belajar mengaji. Namun ternyata, kedekatan Buce dengan komunitas punk dan anak jalanan tidak berlangsung lama karena Allah swt memanggil Buce pada Mei 2007. Buce meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Sebelum meninggal, Buce telah menitipkan amanah untuk membimbing dan mengasuh komunitas punk dan anak jalanan tersebut kepada Ahmad Zaki.

Buat Zaki, bergaul dengan komunitas punk dan anak jalanan ternyata tak semudah yang dibayangkan. Pada awalnya, dirinya pun tidak diterima oleh komunitas punk tersebut, tapi dengan usaha yang keras, Zaki pun dapat melanjutkan tongkat estafeta dari Buce yang diembankan kepadanya. Kuncinya hanya satu, Zaki selalu mengingat pesan Buce untuk tidak menggunakan bahasa-bahasa yang terlalu elit dan bersifat menggurui kepada komunitas itu. Walhasil, dalam percakapan, kata lu-gue sudah jadi unsur wajib dalam bahasa yang mereka gunakan selayaknya sahabat, bukan antara guru dengan murid.

Zaki melanjutkan usaha Buce dengan menggelar pengajian rutin untuk anak-anak jalanan mulai 1428 H, seminggu dua kali, yaitu malam Selasa untuk belajar membaca Alquran, dan malam Jumat untuk kajian keislaman yang sifatnya diskusi dan berbagai ilmu tentang Islam. Menurut Zaki, panggilan hatinya untuk membimbing anak-anak punk kembali ke Islam lebih besar daripada janjinya kepada Buce untuk membina anak-anak punk tersebut. Walhasil, meskipun jumlah peserta pengajian anak-anak jalanan tersebut berkurang dari 50 orang hingga menjadi 20 orang, Zaki tetap optimis karena itu adalah sunnatullah. Peserta pengajian itu berasal dari berbagai profesi, usia, dan latar belakang pendidikan, seperti ada yang hanya tamat kelas 2 SD hingga S1, berusia 15 hingga 28 tahun, dan ada yang berprofesi sebagai pedagang asongan, pengamen, pelukis, bahkan pemahat patung, ada yang laki-laki dan ada pula perempuan. Jumlah yang sedikit itu tetap dioptimalkan Zaki untuk tetap mengingatkan mereka agar menghindari hal-hal negatif dan menanamkan nilai-nilai akhlak Islami. Salah satu upaya Zaki adalah dengan memanajemen band 'warisan' Buce bernama Punk Muslim.

Punk Muslim (PM) beranggotakan Ambon, Asep, Mongxi, dan Lutfi. Dahulu, Buce sempat menjadi vokalis Punk Muslim sebelum dia wafat. Sepeninggal Buce, PM sebagai sarana dakwah anak-anak punk memfokuskan tujuannya kepada dua hal, yaitu gerakan (movement) dan musik. Selain pengajian, PM lebih menggali gerakan dan konsep musiknya lebih dalam agar sarat makna dan kualitas yang lebih baik. PM telah mengeluarkan album pertama bertajuk Soul Revolution dan sebanyak 1000 kaset album tersebut dibagikan gratis kepada para peminat band yang beraliran campur-campur ini: ngepunk, ngerapp, bahkan kadang etnik.

Punk Muslim telah manggung di beberapa mal dan kampus, seperti Pangrango Plaza, Margo City, ITC Cempaka Mas, Univ. Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Univ. Negeri Jakarta. Selain itu, PM juga melayani permintaan untuk pentas di komunitas punk, sekolah-sekolah, dan pengajian rutin.

Kepiawaian PM dalam bermusik diasah setiap malam Jumat di rumah Ambon di sekitar Vespa, Pulogadung, yaitu dengan latihan rutin. PM juga dijuluki Nasyid Underground karena aliran musiknya yang banyak menyuarakan syair Islami tapi dengan gaya punk. Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, banyak kalangan yang dapat menerima gaya bermusik Punk Muslim hingga permintaan albumnya pun membludak. Kini, PM sedang merampungkan album kedua.

Zaki sebagai pengasuh PM pun melakukan berbagai variasi kegiatan untuk komunitas ini, seperti mabit tiap dua bulan sekali, tafakur alam setiap tahun, dan rekrutmen. Selain kegiatan tersebut, PM juga kebanjiran agenda silaturahim, bulan lalu, PM jaulah ke komunitas punk di Indramayu yang juga merasakan hidayah untuk kembali ke Islam dengan meneladani PM di Jakarta.

Salah satu PR bagi Zaki dalam pembinaan komunitas punk ini adalah meluruskan paradigma pergaulan yang lekat pada sebagian besar anak-anak punk, misalnya soal free sex. Sebagian anak-anak punk mengakui telah melakukan dosa besar dan ada pula yang menikah karena telah hamil. Ada pula yang menjalani proses pernikahan dengan seorang muslimah penghafal Alquran 18 juz, namun gagal karena beberapa alasan. Zaki mengakui, intensitas pergaulannya dengan anak-anak punk juga mengundang kritik dari berbagai pihak, misalnya dari keluarga dan sahabat. Tak sedikit dari mereka juga enggan mengikuti Zaki untuk berdakwah di kalangan minoritas tersebut. Namun, Zaki terus bertahan dan berharap ada teman-teman dai yang mengikuti jejaknya. Terakhir, Zaki mengingatkan dengan tulus, bahwa anak-anak punk dapat pula menjadi agent of change jika saja ada yang terus membimbing dan mengarahkan mereka dalam keislaman.

Punk Muslim dapat dihubungi lewat Ahmad Zaki di 0852 162 88 236 atau http://punkmuslim.multiply.com. (Ind)

Sumber:

Selasa, 29 Juni 2010

ISTRIKU… AKU MENCINTAIMU

14 Mei 2010 jam 10:07

Kendati dirinya telah keliling dunia, bahkan hampir tidak ada negara baru di dalam peta, dan terlalu sering naik pesawat terbang sehingga seperti naik mobil biasa, namun istrinya belum pernah naik pesawat terbang kecuali pada malam itu. Hal itu terjadi setelah 20 tahun pernikahan mereka. Dari mana? Dan kemana? Dari Dahran ke Riyadh. Dengan siapa? Dengan adiknya yang orang desa dan bersahaja yang merasa dirinya harus menyenangkan hati kakaknya dengan semampunya. Ia membawa wanita itu dengan mobil bututnya dari Riyadh menuju Dammam. Pada waktu pulang, wanita itu berharap kepadanya agar ia naik pesawat terbang. Wanita itu ingin naik pesawat terbang sebelum meninggal. Ia ingin naik pesawat terbang yang selalu dinaiki Khalid, suaminya, dan yang ia lihat di langit dan di televisi.

Sang adik mengabulkan keinginannya dan membeli tiket untuknya. Ia menyertakan putranya sebagai mahramnya. Sementra ia pulang sendirian dengan mobil sambil diguncang oleh perasaan dan mobilnya.
Malam itu Sarah tidak tidur, melainkan bercerita kepada suaminya, Khalid, selama satu jam tentang pesawat terbang. Ia bercerita tentang pintu masuknya, tempat duduknya, penerangannya, kemegahannya, hidangannya, dan bagaimana pesawat itu terbang di udara. Terbang!! Ia bercerita sambil tercengang. Seolah-olah ia baru datang dari planet lain. Tercengang, terkesima, dan berbinar-binar. Sementara suaminya memandanginya dengan perasaan heran. Begitu selesai bercerita tentang pesawat terbang, ia langsung bercerita tentang kota Dammam dan perjalanan ke sana dari awal sampai akhir. Juga tentang laut yang baru pertama kali dilihatnya sepanjang hidupnya. Dan juga tentang jalan yang panjang dan indah antara Riyadh dan Dammam saat ia berangkat. Sedangkan saat pulang ia naik pesawat terbang. Pesawat terbang yang tidak akan pernah ia lupakan unuk selama-lamanya.

Ia berlutut seperti bocah kecil yang melihat kota-kota hiburan terbesar untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Ia mulai bercerita kepada suaminya dengan mata yang berbinar penuh ketakjuban dan kebahagiaan. Ia melihat jalan raya, pusat perbelanjaan, manusia, batu, pasir, dan restoran. Juga bagaimana laut berombak dan berbuih bagaikan onta yang berjalan. Dan bagaimana ia meletakkan kedua tangannya di air laut dan ia pun mencicipinya. Ternyata asin… asin. Pun, ia bercerita bagaimana laut tampak hitam di siang hari dan tampak biru di malam hari. “Aku melihat ikan, Khalid! Aku melihatnya dengan mata kepalaku. Aku mendekat ke pantai. Adikku menangkap seekor ikan untukku, tapi aku kasihan padanya dan kulepaskan lagi ke air.

Ikan itu kecil dan lemah. Aku kasihan pada ibunya dan juga padanya. Seandainya aku tidak malu, Khalid, pasti aku membangun rumah-rumahan di tepi laut itu. Aku melihat anak-anak membangun rumah-rumahan di sana. Oh ya, aku lupa, Khalid!” ia langsung bangkit, lalu mengambil tasnya, dan membukanya. Ia mengeluarkan sebotol parfum dan memberikannya kepada sang suami. Ia merasa seolah-olah sedang memberikan dunia. Ia berkata, “Ini hadiah untukmu dariku. Aku juga membawakanmu sandal untuk kau pakai di kamar mandi.”

Air mata hampir menetes dari mata Khalid untuk pertama kali. Untuk pertama kalinya dalam hubungannya dengan Sarah dan perkawinannya dengan sang istri. Ia sudah berkeliling dunia tapi tidak pernah sekalipun memberikan hadiah kepada sang istri. Ia sudah naik sebagian besar maskapai penerbangan di dunia, tapi tidak pernah sekalipun mengajak sang istri pergi bersamanya. Karena, ia mengira bahwa wanita itu bodoh dan buta huruf. Apa perlunya melihat dunia dan bepergian? Mengapa ia harus mengajaknya pergi bersama?

Ia lupa bahwa wanita itu adalah manusia. Manusia dari awal sampai akhir. Dan kemanusiaannya sekarang tengah bersinar di hadapannya dan bergejolak di dalam hatinya. Ia melihat istrinya membawakan hadiah untuknya dan tidak melupakannya. Betapa besarnya perbedaan antara uang yang ia berikan kepada istrinya saat ia berangkat bepergian atau pulang dengan hadiah yang diberikan sang istri kepadanya dalam perjalanan satu-satunya dan yatim yang dilakukan sang istri. Bagi Khalid, sandal pemberian sang istri itu setara dengan semua uang yang pernah ia berikan kepadanya. Karena uang dari suami adalah kewajiban, sedangkan hadiah adalah sesuatu yang lain. Ia merasakan kesedihan tengah meremas hatinya sambil melihat wanita yang penyabar itu. Wanita yang selalu mencuci bajunya, menyiapkan piringnya, melahirkan anak-anaknya, mendampingi hidupnya dan tidak tidur saat ia sakit. Wanita itu seolah-olah baru pertama kali melihat dunia. Tidak pernah terlintas di benak wanita itu untuk mengatakan kepadanya, “Ajaklah aku pergi bersamamu!” Atau bahkan, “Mengapa ia tidak pernah bepergian?” Karena ia adalah wanita miskin yang melihat suaminya di atas, karena pendidikannya, wawasannya, dan kedermawanannya. Tapi ternyata bagi Khalid, semua itu kini menjadi hampa, tanpa rasa dan tanpa hati. Ia merasa bahwa dirinya telah memenjara seorang wanita yang tidak berdosa selama 20 tahun yang hari-harinya berjalan monoton.

Kemudian, Khalid mengangkat tangannya ke matanya untuk menutupi air matanya yang nyaris tak tertahan. Dan ia mengucapkan satu kata kepada istrinya. Satu kata yang diucapkannya untuk pertama kalinya dalam hidupnya dan tidak pernah terbayang di dalam benaknya bahwa ia akan mengatakannya sampai kapan pun. Ia berkata kepada istrinya, “Aku mencintaimu.” Ia mengucapkannya dari lubuk hatinya.

Kedua tangan sang istri berhenti membolak-balik tas itu. Mulutnya pun berhenti bercerita. Ia merasa bahwa dirinya telah masuk ke dalam perjalanan lain yang lebih menakjubkan dan lebih nikmat daripada kota Dammam, laut, dan pesawat terbang. Yaitu, perjalanan cinta yang baru dimulai setelah 20 tahun menikah. Perjalanan yang dimulai dengan satu kata. Satu kata yang jujur. Ia pun menangis tersedu-sedu.

(diambil dari catatan al akh abu Ibni Ummihi)
http://www.facebook.com/note.php?note_id=388645287465

Sabtu, 19 Juni 2010

Ibu.. Aku Hanya Ingin Dipahami

::bagi orang tua yang memiliki anak berpotensi otak kanan..

Oleh : Muliadi Saleh

Ibu,
Bukannya aku malas dan suka melamun, tapi aku lagi menyiapkan diriku menerima seluruh keindahan alam semesta. Beri aku kesempatan berdiam sejenak karena gambar-gambar kehidupan yang sedang kurekam akan membuatku bisa memahami simfoni dan harmoni. Ingin sekali aku menciptakan melodi yang indah agar Ibu bisa menikmatinya sambil membuatkan aku masakan yang enak.

Ibu,
Bukannya aku tak bisa menjumlah 2 + 0 + 4, tapi aku lagi melihat seekor bebek berenang di kolam yang indah dengan deretan kursi cantik di sekelilingnya. Beri aku kesempatan merekamnya di alam kesadaranku karena ingin sekali aku membuatkan Ibu sebuah kolam renang yang indah dan kita duduk bersama di kursi yang empuk dan cantik sambil menikmati bahagianya bebek berenang.
Ibu,
Bukannya aku tak mau mendengar dan menatap mata Ibu ketika dongeng-dongeng itu dibacakan dan lagu nina bobo dinyanyikan, tapi aku lagi merasakan indahnya suara Ibu berpadu dengan suara-suara lain di kamar ini. Beri aku kesempatan menikmatinya karena suatu hari nanti akan kubuatkan sebuah ruangan agar Ibu bisa menyanyi dan mengaji. Di Ruangan itu kita bisa bernyanyi bersama dan selalu bisa kunikmati suara Ibu yang merdu melantunkan ayat-ayatNya.
Ibu,
Bukannya aku tak bisa membaca kata demi kata yang ibu ajarkan, tapi aku lagi merekam taburan kata-kata agar terangkai sebuah kalimat yang indah, layak dan sopan. Beri aku kesempatan melihat kata-kata itu saling merangkai, karena aku ingin menulis sebuah puisi yang indah yang spesial untuk aku persembahkan di hari ulang tahun Ibu.
Ibuku Sayang,
Kalau Ibu marah dan mencubit, tangis dan air mataku itu bukanlah karena aku benci atau marah. Aku hanya sedih jika cubitan dan amarah Ibu mengikis rasa sayang, cinta, dan potensiku untuk menghadiahi Ibu sebuah rumah mungil dengan kolam renang, ruang bernyanyi dan dapur yang indah. Dan hatiku akan sangat menyesal jika tak tak sanggup merangkai dan membacakan puisi indah di hari spesial Ibu. Karena bagiku : IBU ADALAH SEGALANYA.

Jakarta, 19 Juni 2010

Muliadi Saleh

(dimuat di :http://ayahkita.blogspot.com/)

Ulat dan Kaktus

Pada suatu hari ada seorang ibu yang membeli beberapa pohon bunga yang ada di pot. Bunga itu diletakkan di halaman rumah untuk menambah ke asrian dan keindahan rumahnya. Sambil berkata kecil dalam hati, ibu ini berdoa pada Tuhan, Ya Tuhan...Melalui bunga-bunga ini semoga nanti akan banyak berdatangan kupu-kupu indah kerumahku...

Lalu si ibu ini kembali lagi pada kesibukannya sehari-harinya, setelah seminggu berselang ia menunggu dan menunggu, mengapa tidak juga ada kupu-kupu yang ia lihat dihalaman rumahnya tersebut. Hingga suatu hari betapa kagetnya si Ibu mendapati bahwa bukannya kupu-kupu yang datang tapi malah Ulat bulu yang merambat pada pohon-pohon yang dibelinya itu.

Bukan main marahnya....dan saking kesalnya si ibu ini dengan keras berkata....bagaimana sich Tuhan ini... lah wong yang saya minta adalah kupu-kupu yang cantik, eh yang datang malah ulat-ulat jelek seperti ini. Sambil terus mengumpat, pot-pot bunga yang penuh dengan ulat bulu itu akhirnya dipindahkan dari taman ke tempat tersembunyi di dalam gudang.

Sebulan sudah berselang, dan ibu tersebut telah melupkan kejadian pohon-pohon di pot yang dipenuhi ulat bulu tersebut.

Dan tepat di hari yang ke 30 sejak kejadian tersebut, si ibu rupanya sedang mencari peralatan tamannya yang rupanya lupa ia taruh di gudang. Dan ketika ia membuka pintu gudang, betapa kagetnya, ia melihat begitu banyak kupu-kupu yang berwarna-warni dan sangat indah memenuhi gudang tersebut. Kupu-kupu itu satu demi satu mulai berterbangan keluar pada saat pintu gudang dibuka...untuk mencari bunga-bungaan disekitarnya.

Terang saja kejadian yang luar biasa ini telah membuat si ibu tadi menjadi diam tertegun, ia tidak bisa berkata-kata lagi, melainkan hanya memandangi satu persatu kupu-kupu yang keluar dari gudang menuju tamannya. Dan tanpa sadar kakinya bergerak melangkah mengikuti arah kupu-kupu tadi terbang.

Alangkah Indahnya tamanku saat ini.....si ibu berujar dalam hati...., Ya Tuhan.....ternyata ulat bulu yang dulu jelek itu kini telah berubah menjadi seekor kupu-kupu yang begitu cantik dan menawan. Seandainya saja dulu aku tahu.......katanya dalam hati...mungkin aku tidak akan pernah mengeluh dan merasa terusik dengan keberadaan mereka.

Wahai...para orang tua yang berbahagia dimanapun anda berada..., begitulah kita para orang tua dan guru pada umumnya, sering kali melihat dan menilai anak-anak kita bak ulat bulu, yang mengganggu dan membuat kita gatal untuk selalu mengeluh, marah dan berusaha menyingkirkan mereka.

Anak kita tidak ubahnya seperti ulat bulu yang sering kali dinilai berdasarkan sisi negatifnya saja, padahal dibalik itu semua ada sebuah proses metamorfosa yang tersembunyi...... ya sisi indah yang kelak akan dimunculkan-nya saat mereka dewasa.

Saya sering mendengar banyak orang tua dan guru yang mengeluhkan anaknya yang hiper aktif dan tidak mau diam atau tidak bisa tenang...., Padahal sesungguhnya kelak anak-anak ini akan menjadi orang yang sangat dinamis... kelak anak-anak ini akan mampu mengerjakan berbagai tugas dalam waktu bersamaan, atau malah memimpin lebih dari satu perusahaan tanpa merasa kesulitan sama sekali.

Ada juga orang tua yang mengeluhkan anaknya yang katanya keras kepala dan susah sekali di atur.....padahal sesungguhnya kelak anak-anak semacam ini akan menjadi Pimpinan-pimpinan oraganisasi/perusahaan yang sangat berhasil dangan peningkatan karir yang sangat cepat.

Atau ada juga orang tua yang mengeluhkan anaknya yang katanya pemalu dan sulit bergaul, ia lebih suka menyendiri melakukan seuatu di kamar dan anaknya cengeng sekali. Padahal sesungguhnya kelak anak-anak semacam ini akan menjadi anak yang sangat unggul dibidang Sains Teknologi atau bisa juga menjadi Seniman-seniman kelas dunia, mereka adalah anak-anak yang peka dan penuh cinta kasih terutama pada orang tuanya...

Lain lagi misalnya ada orang tua yang mengeluhkan anaknya terlau cerewet dan tidak tahu malu....bahkan cenderung malu-maluin katanya. Padahal sesunguhnya kelak anak-anak ini akan menjadi orang-orang yang terkenal karena kemampuan tampilnya di depan umum dan keberaniannya untuk berekpresi.

Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada....Begitulah sejarah telah membuktikan berkali-kali bahwa anak-anak yang dulu pada saat masa kecilnya dianggap sebagai anak yang aneh dan menyebalkan seperti Ulat Bulu...namun nyatanya setelah mereka dewasa justru menjadi orang-orang yang sangat sukses dan terkenal di kehidupan.

Tapi bagaimana mungkin Sang Ulat Bulu akan bisa menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah, jika kita semua selalu menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh, menjijikkan dan harus segera disingkirkan dari pandangan kita.

Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada....Sesungguhnya..begitu banyak anak-anak Indonesia yang mengalami nasib mirip seperti ulat bulu tadi....dan karena mereka selalu di anggap sebagai anak bermasalah maka mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk bermetamorfosa menjadi seekor kupu-kupu yang indah....yah...begitu malangnya mereka.....sampai akhirnyanya mereka harus tetap menjadi ulat bulu disepanjang hidupnya. ya Ulat bulu yang benar-benar mengganggu kehidupan kita semua....

Mari kita renungkan bersama.....saya yakin.....jika kita semua mau berubah...kita akan banyak memiliki kupu-kupu indah yang berterbangan menghiasi seluruh bumi nusantara tercinta ini....

Mari bersama-sama kita bangun Indonesia yang kuat melalui anak-anak kita tercinta.

Kalau bukan kita siapa lagi...? Kalau bukan sekarang Kapan lagi...?
Sumber:

Jumat, 18 Juni 2010

Bersyukurlah

Seorang anak laki2 tunanetra duduk di tangga sebuah bangunan dengan sebuah topi terletak di dekat kakinya. Ia mengangkat sebuah papan yang bertuliskan: 'Saya buta, tolong saya.' Hanya ada beberapa keping uang di dalam topi itu.



Seorang pria berjalan melewati tempat anak ini. Ia mengambil beberapa keping uang dari sakunya dan menjatuhkannya ke dalam topi itu. Lalu ia mengambil papan, membaliknya dan menulis beberapa kata. Pria ini menaruh papan itu kembali sehingga orang yang lalu lalang dapat melihat apa yang ia baru tulis.

Segera sesudahnya, topi itu pun terisi penuh. Semakin banyak orang memberi uang ke anak tuna netra ini. Sore itu pria yang telah mengubah kata-kata di papan tersebut datang untuk melihat perkembangan yang terjadi. Anak ini mengenali langkah kakinya dan bertanya, 'Apakah bapak yang telah mengubah tulisan di papanku tadi pagi? Apa yang bapak tulis?'



Pria itu berkata, 'Saya hanya menuliskan sebuah kebenaran. Saya menyampaikan apa yang kamu telah tulis dengan cara yang berbeda.' Apa yang ia telah tulis adalah: 'Hari ini adalah hari yang indah dan saya tidak bisa melihatnya.'
Bukankah tulisan yang pertama dengan yang kedua sebenarnya sama saja?

Tentu arti kedua tulisan itu sama, yaitu bahwa anak itu buta.
Tetapi, tulisan yang pertama hanya mengatakan bahwa anak itu buta. Sedangkan, tulisan yang kedua mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka sangatlah beruntung bahwa mereka dapat melihat. Apakah kita perlu terkejut melihat tulisan yang kedua lebih efektif?



Moral dari cerita ini: Bersyukurlah untuk segala yang kau miliki. Jadilah kreatif. Jadilah innovatif. Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda dan positif.

Ajaklah orang-orang lain menuju hal-hal yang baik dengan hikmat. Jalani hidup ini tanpa dalih dan mengasihi tanpa rasa sesal. Ketika hidup memberi engkau 100 alasan untuk menangis, tunjukkan pada hidup bahwa engkau memiliki 1000 alasan untuk tersenyum.

Hadapi masa lalumu tanpa sesal.
Tangani saat sekarang dengan percaya diri.
Bersiaplah untuk masa depan tanpa rasa takut.
Peganglah iman dan tanggalkan ketakutan.

Orang bijak berkata, 'Hidup harus menjadi sebuah proses perbaikan yang terus berlanjut, membuang kejahatan dan mengembangkan kebaikan... Jika engkau ingin menjalani hidup tanpa rasa takut, engkau harus memiliki hati nurani yang baik sebagai tiketnya.

Hal yang terindah adalah melihat seseorang tersenyum..
Tapi yang terlebih indah adalah mengetahui bahwa engkau adalah alasan di belakangnya! !!
Sumber Tulisan:

Senin, 14 Juni 2010

Cobalah memberi maka kau akan di beri.

Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya sedang membutuhkan pertolongan. Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan mobil Merecdes Benz wanita itu dan keluar menghampirinya. Mobil Pontiac-nya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya.

Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorangpun berhenti untuk menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan tak baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan.

Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri di Sana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu. Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan. Kata pria itu, “Saya di sini untuk menolong anda, Nyonya. Masuk ke dalam mobil saja supaya anda merasa hangat! Ngomong-ngomong, nama saya Bryan Anderson.”

Wah, sebenarn ya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita lanjut seperti dia, kejadian itu cukup buruk. Bryan merangkak ke bawah bagian mobil, mencari tempat untuk memasang dongkrak. Selama mendongkrak itu beberapa kali jari-jarinya membentur tanah. Segera ia dapat mengganti ban itu. Namun akibatnya ia jadi kotor dan tangannya terluka. Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban, wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan mencoba ngobrol dengan pria itu. Ia mengatakan kepada pria itu bahwa ia berasal dari St. Louis dan hanya sedang lewat di jalan ini..

Ia sangat berutang budi atas pertolongan pria itu. Bryan hanya tersenyum ketika ia menutup bagasi mobil wanita itu.. Sang nyonya menanyakan berapa yang harus ia bayar sebagai ungkapan terima kasihnya. Berapapun jumlahnya tidak menjadi masalah bagi wanita kaya itu.

Ia sudah membayangkan semua hal mengerikan yang mungkin terjadi seandainya pria itu tak menolongnya. Bryan tak pernah berpikir untuk mendapat bayaran. Ia menolong orang lain tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan, dan Tuhan mengetahui bahwa banyak orang telah menolong dirinya pada waktu yang lalu. Ia biasa menjalani kehidupan seperti itu, dan tidak pernah ia berbuat hal sebaliknya.

Pria itu mengatakan kepada sang nyonya bahwa seandainya ia ingin membalas kebaikannya, pada waktu berikutnya wanita itu melihat seseorang yang memerlukan bantuan, ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada orang itu, dan Bryan menambahkan, “Dan ingatlah kepada saya.”

Bryan menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu. Hari itu dingin dan membuat orang depresi, namun pria itu merasa nyaman ketika ia pulang ke rumah, menembus kegelapan senja.

Beberapa kilometer dari tempat itu sang nyonya melihat sebuah kafe kecil. Ia turun dari mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil, dan menghangatkan badan sebelum pulang ke rumah. Restoran itu nampak agak kotor. Di luar kafe itu ada dua pompa bensin yang sudah tua. Pemandangan di sekitar tempat itu sangat asing baginya.

Sang pelayan mendatangi wanita itu dan membawakan handuk bersih untuk mengelap rambut wanita itu yang basah. Pelayan itu tersenyum manis meskipun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya berdiri sepanjang hari. Sang nyonya melihat bahwa pelayan wanita itu sedang hamil hampir delapan bulan, namun pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya mempengaruhi sikap pelayanannya kepada para pelanggan restoran.

Wanita lanjut itu heran bagaimana pelayan yang tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu pelayanan yang baik kepada orang asing seperti dirinya. Dan wanita lanjut itu ingat kepada Bryan.

Setelah wanita itu menyelesaikan makanannya, ia membayar dengan uang kertas $100. Pelayan wanita itu dengan cepat pergi untuk memberi uang kembalian kepada wanita itu.. Ketika kembali ke mejanya, sayang sekali wanita itu sudah pergi. Pelayan itu bingung kemana perginya wanita itu. Kemudian ia melihat sesuatu tertulis pada lap di meja itu.

Ada butiran air mata ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis wanita itu: “Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya. Saya juga pernah ditolong orang. Seseorang yang telah menolong saya, berbuat hal yang sama seperti yang saya lakukan sekarang. Jika engkau ingin membalas kebaikan saya, inilah yang harus engkau lakukan: ‘Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti padamu’.'”

Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $ 100 lagi. Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu.

Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan kelahiran bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup. Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik lembut dan pelan, “Segalanya akan beres. Aku mengasihimu, Bryan Anderson!”

Ada pepatah lama yang berkata, “Berilah maka engkau diberi.” Hari ini saya mengirimkan kisah menyentuh ini dan saya harapkan anda meneruskannya. Biarkan terang kehidupan kita bersinar. Jangan hapus kisah ini, jangan biarkan saja!