Kamis, 20 Desember 2012

Kejujuran Office Boy ini Luar Biasa !

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Jakarta - Kejujuran Agus Chaerudin (35) patut diacungi jempol. Office boy di Bank Syariah Mandiri, Bekasi ini menemukan uang Rp 100 juta di tempat sampah kantornya. Dia tidak mengambilnya tetapi memilih mengembalikannya.

"Allah Maha melihat," kata Agus saat ditemui di kantornya di kawasan Kalimalang di Plaza Duta Permai, Jakasampurna, Bekasi, Rabu (19/12/2012).

Agus, ayah 3 anak yang masih tinggal bersama mertua ini mengaku, orang tuanya selalu mengajarinya untuk tak menjadi pencuri. Kejujuran harus diutamakan. Orang tua Agus juga seorang pegawai rendahan di salah satu bank.

"Kisah yang saya kagumi Umar bin Khatab," terang Agus.

Agus mengaku pernah membaca kisah Umar bin Khatab kala menjadi khalifah. Sahabat nabi itu amat mengutamakan kesederhanaan dan kejujuran.

"Khalifah Umar bahkan hanya mempunya dua helai pakaian," cerita Agus sambil menitikan air mata.

Yang dia kagumi, bahkan Umar tak mau memakai fasilitas negara kala berbicara dengan anaknya. Agus menukilkan kisah Umar yang memadamkan lampu ketika berbincang dengan anaknya. Lampu dimatikan karena menggunakan uang negara, sedang berbicara dengan anak urusan pribadi.

"Saya berharap ada pemimpin seperti Umar," tutur Agus yang sudah bekerja 3 tahun dengan gaji sebulan Rp 2,2 juta ini.

Agus menemukan uang itu pada bulan Ramadan, 4 Agustus lalu. Saat itu hari sudah sore, kantor sudah sepi. Kala itu, seperti biasa dia membereskan kantor sebelum pulang.

Di tempat sampah dia menemukan uang pecahan Rp 100 ribu dalam 10 bundel. Agus tak berani menyentuh uang itu, dia lalu memanggil satpam.

Satpam kemudian melaporkan kepada staf bank. Uang dihitung dan ada Rp 100 juta. Uang itu bukan milik nasabah, tetapi milik bank. Uang itu tercecer karena ketidakhati-hatian seorang teller.

Agus karena kejujurannya, diberi hadiah Rp 1,75 juta dan piagam. "Saya tak mengharap hadiah, bekerja saja sudah alhamdulillah," terang Agus yang dahulu pernah bekerja serabutan sebagai tukang parkir dan asongan ini.

Selasa, 25 September 2012

Mirela: Aku Mencintai Rasulullah Tanpa Kehilangan Yesus

Senin, 24 September 2012, 05:58 WIB
onislam.net

Mirela: Aku Mencintai Rasulullah Tanpa Kehilangan Yesus
Manuela Mirela Tanescu.
REPUBLIKA.CO.ID, BUKAREST -- Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Manuela Mirela mulai mendalami agama baru yang dipeluknya. Tak hanya terpesona dengan tata cara beribadah umat Islam, ia juga tertarik dengan tata cara kehidupan umat muslim di sejumlah negara Islam.

Hal lain yang menarik perhatian dirinya adalah selama kunjungannya ke sejumlah negara Islam, lingkungan yang ditinggali umat Islam lebih bersih ketimbang daerah yang dihuni non-muslim. Selain itu, Islam menghormati dan memuliakan semua Nabi dan Rasul.

"Jadi, aku mencintai Nabi Muhammad SAW tanpa kehilangan Yesus," kata dia.

Kekaguman Mirela lainnya adalah Islam sangat menghargai perempuan. Sebabnya, ia merasa heran dengan sikap Barat yang selalu saja menyatakan muslimah itu derajatnya lebih rendah daripada laki-laki. Padahal, perempuan Barat justru lebih direndahkan sebagai akibat dari materialistis peradaban barat.

Mereka menjadi komoditas dan objek seksual tanpa batas. Sementara Islam, tidak demikian. (baca: Manuela Mirela: Islam Agama yang Mudah Dimengerti).REPUBLIKA.CO.ID, BUKAREST -- Manuela Mirela Tanescu lahir dan besar di Bukarest, Rumania. Keluarganya merupakan penganut Kristen Ortodoks. Namun, dari kecil ia tidak pernah ke gereja.

"Keluargaku tidak terlalu religius, tapi kita selalu percaya adanya Tuhan," akunya seperti dinukil onislam.net.

Jalan hidupnya berubah, ketika ia dinikahi Muslim Palestina. Melalui suaminya itu ia berkenalan dengan Islam. Hingga akhirnya setelah mengunjungi Yordania, Suriah, Iran, Pakistan, Malaysia dan Indonesia, Mirela memutuskan memeluk Islam di Teheran, Iran.

"Saya berterima kasih padanya," kenang Mirela.

Menurut Mirela, Islam adalah agama yang mudah dimengerti dan logis. Berbeda dengan ajaran Kristen yang membingungkan.

Mirela mencontohkan, umat Islam diwajibkan melaksanakan shalat lima waktu, sementara orang Kristen hanya beribadah pada hari Ahad saja. Singkatnya, kewajiban itu membuat umat Islam cenderung religius ketimbang umat Nasrani.

"Aku melihat banyak orang yang membenci Islam karena mereka tidak tahu bagaimana Islam sebenarnya. Itu juga menjadi otokritik kita, yang kadang lupa dengan identitas sebagai muslim," papar 
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/12/09/23/maswyo-mirela-aku-mencintai-rasulullah-tanpa-kehilangan-yesus

Sabtu, 11 Agustus 2012

Keceriaan Kembar Siam Satu Tubuh


Kini mereka siap menjadi bintang reality show bertajuk 'Abby and Britanny'.
Pipiet Tri Noorastuti
Sabtu, 11 Agustus 2012, 07:04 WIB
Pasangan kembar siam Abigail dan Brittany Hense (Facebook)

Pasangan kembar siam Abigail dan Brittany Hense (Facebook)

VIVAlife - Kembar siam Abigail dan Brittany Hensel telah menantang prediksi dokter. Dengan satu tubuh, dua kepala, dua kepribadian, mereka masih lincah beraktivitas menikmati usia 22 tahun dengan tawa mengembang.

Setelah sempat memukau dunia saat muncul di The Oprah Winfrey Show dan Life Magazine pada 1996, kini mereka siap menjadi bintang reality show bertajuk 'Abby and Britanny'.

Reality show yang tayang perdana 28 Agustus ini akan menampilkan perjalanan hidup mereka di tengah keterbatasan. Tentang bagaimana mereka berhasil lulus dari Bethel University di Minnesota, usaha mencari kerja, hingga perjalanan keliling Eropa bersama teman-temannya.

Meski hanya memiliki satu tubuh, mereka adalah dua pribadi yang berbeda. Masing-masing memiliki karakter dan ketertarikan yang berbeda. Yang membuat mereka bisa hidup normal adalah kekompakan.

Dalam aktivitas sehari-hari, Abby mengendalikan tubuh bagian kanan dan Brittany mengontrol tubuh bagian kiri. Mereka bisa bermain piano, mengemudikan mobil, makan dengan dua piring terpisah, bahkan berenang.

Senin, 06 Agustus 2012

Dengan 2 Kaki Teramputasi, Oscar Pistorius Bikin Sejarah Olimpiade

Doni Wahyudi - detiksport
Senin, 06/08/2012 01:32 WIB


Getty Images
London - Oscar Pistorius menuliskan sejarah saat dia tampil di babak kualifikasi lari 400 meter Olimpiade London. Untuk kali pertama sepanjang sejarah, Olimpiade diikuti oleh atlet yang kedua kakinya sudah diamputasi.

Momen bersejarah buat Pistorius terjadi pada Sabtu (4/8/2012) waktu London saat dia ikut heat pertama di nomor 400 meter individu putra. Catatan waktu pria asal Afrika Selatan itu adalah 45,44 detik, yang cukup membuatnya melangkah ke semifinal.

Waktu yang ditorehkan Pistorius jelas tidak spesial, tapi yang membuat pria 25 tahun menjadi sangat istimewa adalah fakta dia sudah menjalani amputasi pada kedua kakinya. Untuk berlaga dalam Olimpiade, dan beragam event atletik yang sudah diikuti, Pistorius menggunakan alat bantu berupa kaki buatan berbahan serat karbon yang disebut 'Flex-Foot Cheetah'.

Pistorius lahir dengan tidak memiliki fibula, tulang terluar dan paling kecil di kaki. Kondisi tersebut mengharuskan dia menjalani operasi amputasi di antara lutut dan pergelangan kaki saat usianya baru 11 bulan.

Namun hal tersebut tak membuat atlet kelahiran Johannesburg itu patah semangat. Saat di sekolah hingga kuliah Pistorius aktif di berbagai kegiatan olahraga mulai dari renang, polo, tenis dan rugby. Jenis olahraga yang terakhir menyebabkannya menderita cedera parah dan akhirnya memiluh fokus ke lari sejak tahun 2004.

Di tahun 2008, Pistorius punya ambisi besar lolos ke Olimpiade Beijing. Rencana keikutsertaannya saat itu sempat 'dihalangi' IAAF (organisasi atletik dunia) dengan alasan Pistorius justru bisa membahayakan dirinya sendiri dan kontestan lain terkait penggunaaan 'Flex-Foot Cheetah'. Meski kemudian tetap boleh ikut kualifikasi, Pistorius akhirnya gagal lolos.

Dan di London 2012 ini dia akhirnya punya kesempatan unjuk gigi. Selain tampil di 400 meter individual, atlet berjuluk 'Blade Runner' dan 'manusia tanpa kaki tercepat' itu juga akan berlaga di 4 x 400 estafet putra.

"Saya sudah berusaha selama enam tahun untuk ini… untuk bisa mendapatkan kesempatan saya. Bisa berada di sini dan tahu bahwa Anda sudah mengorbankan sangat banyak hal untuk meraihnya, itu benar-benar membuat terasa sangat luar biasa," sahut Pistorius usai memastikan lolos ke semifinal, dikutip dari situs resmi Olimpiade.

Keikutsertaan Pistorius di nomor lari bersama atlet dengan kondisi kaki sempurna sempat mengundang kontroversi, dia dianggap dintungkan dengan 'Flex-Foot Cheetah'. Alat tersebut dianggap memberi efek pegas dan membuat lajunya menjadi lebih cepat.

Penelitian lain yang dilakukan juga menyebut kalau pengguna 'Flex-Foot Cheetah' membuat otot kaki membutuhkan lebih sedikit energi untuk berlari. Ini kemudian membuat IAAF mengeluarkan aturan soal larangan penggunaan 'peralatan teknik yang terkait dengan sistem kerja pegas'.

Aturan itu kemudian dibatalkan CAS (pengadilan arbitrase olahraga), tentunya setelah Pistorius mengajukan banding.

Senin, 16 Juli 2012

Wanita Ini Candu Makan Batu

Kelainan Langka, Wanita Ini Candu Makan Batu
Sudah 20 tahun ia makan batu untuk mengatasi stres.
Pipiet Tri Noorastuti
Senin, 16 Juli 2012, 11:06 WIB
Teresa Widener (daily mail)
Teresa Widener (daily mail)

VIVAlife - Teresa Widener, 45, selalu tergoda setiap kali melihat batu. Bukan tergoda untuk melemparnya ke orang-orang yang menyebalkan, tapi memakannya. Ia tak pernah bisa menahan godaan untuk menyantap batu.

Dikutip Daily Mail, wanita asal Bedford, Virginia, itu bisa memakan sekitar 1,3 kilogram batu setiap pekan. Jika dikalkulasi, ia telah menyantap lebih 1.360 kilogram batu sepanjang hidupnya.

Widener memiliki lemari khusus untuk menyimpan batu-batu favoritnya di dapur. Ia juga menyimpan palu khusus untuk memecah batu menjadi ukuran yang lebih mudah masuk ke mulut. "Saya merasa lebih baik ketika tahu masih memiliki simpanan batu di lemari, sedikit saja saya sudah tenang."

Ia biasanya memilih batu-batu yang mudah rapuh sehingga mudah dikunyah dan ditelan. "Selama 20 tahun terakhir saya makan batu. Banyaknya batu yang saya makan tergantung perasaan. Jika sedang down, saya makan batu lebih banyak," ujarnya.

Psikolog Amerika Serikat, Jason Mihalko, menyebut kelainan macam itu sebagai Pica. Merupakan kondisi kelainan pola makan di mana penderita gemar mengonsumsi za-zat non-pangan. Ada kasus di mana penderita makan logam, debu, kotoran, kapur, peralatan menulis dan getah pohon.

Mihalko mengatakan, penelitian tentang Pica sangat sedikit. Belum ada yang mengungkap penyebab pasti kelainan ini. "Beberapa poin penelitian menyatakan akibat kurang mineral, sementara pemikiran lebih dikaitkan dengan gangguan obsesif kompulsif."

Pica umumnya menimpa anak-anak usia satu tahun ke atas, saat periode oral, di mana anak suka memasukkan dan menggigit benda di sekitar ke mulut. Pica bisa sembuh dalam hitungan bulan. Namun, dalam sejumlah kasus, kelainan ini bisa bertahan hingga dewasa. (umi)

Senin, 25 Juni 2012

Penghormatan Terakhir Tim Dokter Pada Sang Bocah 'Pemberi Harapan'

enin, 25/06/2012 07:33 WIB
Rachmadin Ismail - detikNews

China Daily
Chefing Kisah Xiwang, bocah berusia dua tahun yang mendonorkan organnya bagi anak lain membuat tim dokter di China terharu. Mereka memberi penghormatan terakhir sambil membungkukkan badannya.

Diberitakan AsiaOne, Senin (25/6/2012) momen ini dijepret oleh para jurnalis sesaat setelah Xiwang dinyatakan meninggal dunia karena kerusakan otak. Anak itu kemudian dibawa ke ruang operasi untuk diambil ginjal dan hatinya bagi dua anak lain yang membutuhkan.

Suster dan dokter yang menangani Xiwang pun berbaris rapi mengelilingi ruangan. Mereka memberi penghormatan terakhir sambil membungkukkan badan. Suasana haru di ruangan itu sangat terasa.

Orang tua Xiwang (2) membuat keputusan penting saat sadar anaknya tak bisa tertolong lagi karena sakit. Mereka memutuskan untuk mendonorkan organ sang anak bagi dua anak lain yang membutuhkan.

"Dibandingkan dengan membakar anak kami menjadi abu, kami memutuskan untuk mendonorkan organ supaya bisa menolong anak-anak lain," ujar ibu Xiwang, Wang Xiaofei.

"Kami memanggilnya Xiwang karena kami ingin memberi harapan hidup untuk anak lain yang membutuhkan bantuan," sambungnya.

Xiwang meninggal dunia pada 9 Juni lalu pukul 17.30 waktu setempat. Setelah dikecup untuk terakhir kalinya oleh sang ayah, Xiwang langsung masuk ke ruang operasi untuk diambil hati dan ginjalnya bagi dua anak lain yang sudah menunggu pertolongan.

Kini, dua anak yang mendapat organ dari Xiwang kondisinya semakin membaik. Orang tua kedua anak tersebut pun sangat berterima kasih pada Xiwang.

(mad/mad)

Rabu, 09 Mei 2012

Sehari Bersama Pak Guru Kakao Tanah Mandar

Sekitar dua tahun lalu, Kompas mengulas tentang profil seorang petani tua sekaligus mantan penyuluh pertanian  dari tanah Mandar. yang sukses mengembangkan kakao dengan teknik sambung samping, dan hasilnya bisa membuat orang yang melihatnya berdecak kagum.
kakao hasil Sambung Samping haji Malik (Dok. Sribudi Astuti)
kakao hasil Sambung Samping Haji Malik (Dok. Sribudi Astuti)
Sekitar dua bulan lalu, selepas acara Kompasiana Nangkring di Makassar, saya berkesempatan mengunjungi Pak Haji Malik, Sang guru kakao yang tinggal di Mamuju. Senin siang selepas menyelesaikan seluruh kegiatan saya di Ibukota Kabupaten Mamuju, saya bersama seorang teman dan dipandu salah seorang putra haji Malik, kami  berkendara menyusuri jalan trans sulawesi sejauh 30 kilometer kearah utara. Kami sampai di Rumah haji Malik tepat tengah hari, tetapi sayangnya Haji Malik Sedang berada di kebun yang katanya hanya berjarak 2 km saja dari rumahnya.
Pikir saya jarak segitu tidak terlalu jauh, tetapi ternyata sepanjang jalan saya mengumpat “wah kalau ini mah 2 km nya dalam ukuran para raksasa” saking jauhnya. ketika berbelok dari jalan trans Sulawesi, kami memasuki kawasan perkebunan yang sunyi, mirip hutan, saya langsung berpikir, kok Haji Malik berani ya ke kebun yang sepi begini.
Wajah saya yang jutek karena panik melewati kebun yang sepi, serta jalanan yang berbatu dan naik turun langsung menguap ketika memasuki batas kebun milik Haji Malik. begitu memasuki ‘pintu utama’kebun, saya dihadapkan pada pohon kakao yan sarat buah, mengkilat dan ranum. Seorang lelaki tua kemudian keluar dari pondok dan menyambut kami dengan keramahannya dan menerima kami berbincang-bincang di kolong rumah panggung yang sekaligus berfungsi sebagai ‘kelas’ bagi siapa saja yang ingin belajar tentang kakao.
Dengan panjang lebar Haji Malik menceritakan sepak terjangnya sebagai penyuluh, sebagai petani dan tak lupa beliau juga menunjukkan tulisan tentang dirinya di koran Kompas yang dicopy dan dicetak di spanduk fiber yang terpajang di kolong rumah panggung.
Haji Malik dibawah Koran Kompas yang memuat tentang dirinya (sribudi Astuti)
Haji Malik dibawah Koran Kompas yang memuat tentang dirinya (sribudi Astuti)
Saking semangatnya, tanpa saya minta Haji Malik mengajak saya berkeliling kebun kakaonya, yang hampir semuanya sudah diremajakan dengan teknik sambung samping, dan saat ini Haji malik juga sedang mempersiapkan bahan tanam yang akan dijadikan sebagai bahan teknik sambung pucuk.
kakao siap panen(Dok. Sribudi Astuti)
kakao siap panen(Dok. Sribudi Astuti)
ketika saya berkeliling kebun, ternyata jauh didalam kebun terdapat sekelompok mahasiswa yang sudah hampir dua bulan tinggal bersama Haji Malik untuk menimba ilmu tentang budidaya kakao. Dengan senang hati pula Haji Malik mengarahkan mahasiswa tersebut untuk bekerja sesuai prosedur.
Mahasiswa yang berguru pada haji Malik (Dok. Sribudi Astuti)
Mahasiswa yang berguru pada haji Malik (Dok. Sribudi Astuti)
Dalam kebun Haji Malik terdapat berbagai macam Klon Kakao, ada dari Medan, Filipina, Puslit Kopi Kakao dan Klon R1 dan R2 hasil sambung samping Haji malik Sendiri. Memang banyak perbedaannya, hasil sambung samping dari Haji Malik dengan kakao dari Puslit Kopi Kakao, saya menduga, kakao yang bagus ditanam di jawa, belum tentu cocok dengan iklim di Sulawesi Barat, begitu pula sebaliknya.
Haji Malik tidak hanya fokus padda kakao, didalam kebunnya juga terdapat kambing kambing yang diberi makan daun lamtoro yang tumbuh sebagai penaung tanaman kakao dan kotorannya dimanfaatkan sebagai pupuk bagi tanaman kakao.
Tanpa sengaja, saya nyeletuk mengapa Haji Malik di masa tuanya masih mau bersusah-susah hidup di kebun sepi seperti itu, padahal dari hasil pensiun dan hasil kebun seandainya didelegasikan pengelolaannya pada orang lain pasti lebih dari cukup untuk menopang hidup. ternyata, prinsip seorang penyuluh yang tidak hanya omong doang benar-benar dipegang. Jangan sampai sebagai seorang yang mengajari orang lain, tidak bisa memberi contoh nyata.. hem.. prinsip sederhana yang mengena.
Tepat sore hari saya mohon diri pada Haji Malik untuk kembali ke Makassar, dengan berat hati saya meninggalkan kebun itu, karena masih banyak hal yang ingin saya pelahjari, tapi apalah daya, saya harus mengejar bis tujuan Makassar dan kembali bekerja lagi keesokan harinya.