Senin, 14 Juni 2010

Cobalah memberi maka kau akan di beri.

Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya sedang membutuhkan pertolongan. Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan mobil Merecdes Benz wanita itu dan keluar menghampirinya. Mobil Pontiac-nya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya.

Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorangpun berhenti untuk menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan tak baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan.

Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri di Sana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu. Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan. Kata pria itu, “Saya di sini untuk menolong anda, Nyonya. Masuk ke dalam mobil saja supaya anda merasa hangat! Ngomong-ngomong, nama saya Bryan Anderson.”

Wah, sebenarn ya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita lanjut seperti dia, kejadian itu cukup buruk. Bryan merangkak ke bawah bagian mobil, mencari tempat untuk memasang dongkrak. Selama mendongkrak itu beberapa kali jari-jarinya membentur tanah. Segera ia dapat mengganti ban itu. Namun akibatnya ia jadi kotor dan tangannya terluka. Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban, wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan mencoba ngobrol dengan pria itu. Ia mengatakan kepada pria itu bahwa ia berasal dari St. Louis dan hanya sedang lewat di jalan ini..

Ia sangat berutang budi atas pertolongan pria itu. Bryan hanya tersenyum ketika ia menutup bagasi mobil wanita itu.. Sang nyonya menanyakan berapa yang harus ia bayar sebagai ungkapan terima kasihnya. Berapapun jumlahnya tidak menjadi masalah bagi wanita kaya itu.

Ia sudah membayangkan semua hal mengerikan yang mungkin terjadi seandainya pria itu tak menolongnya. Bryan tak pernah berpikir untuk mendapat bayaran. Ia menolong orang lain tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan, dan Tuhan mengetahui bahwa banyak orang telah menolong dirinya pada waktu yang lalu. Ia biasa menjalani kehidupan seperti itu, dan tidak pernah ia berbuat hal sebaliknya.

Pria itu mengatakan kepada sang nyonya bahwa seandainya ia ingin membalas kebaikannya, pada waktu berikutnya wanita itu melihat seseorang yang memerlukan bantuan, ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada orang itu, dan Bryan menambahkan, “Dan ingatlah kepada saya.”

Bryan menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu. Hari itu dingin dan membuat orang depresi, namun pria itu merasa nyaman ketika ia pulang ke rumah, menembus kegelapan senja.

Beberapa kilometer dari tempat itu sang nyonya melihat sebuah kafe kecil. Ia turun dari mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil, dan menghangatkan badan sebelum pulang ke rumah. Restoran itu nampak agak kotor. Di luar kafe itu ada dua pompa bensin yang sudah tua. Pemandangan di sekitar tempat itu sangat asing baginya.

Sang pelayan mendatangi wanita itu dan membawakan handuk bersih untuk mengelap rambut wanita itu yang basah. Pelayan itu tersenyum manis meskipun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya berdiri sepanjang hari. Sang nyonya melihat bahwa pelayan wanita itu sedang hamil hampir delapan bulan, namun pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya mempengaruhi sikap pelayanannya kepada para pelanggan restoran.

Wanita lanjut itu heran bagaimana pelayan yang tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu pelayanan yang baik kepada orang asing seperti dirinya. Dan wanita lanjut itu ingat kepada Bryan.

Setelah wanita itu menyelesaikan makanannya, ia membayar dengan uang kertas $100. Pelayan wanita itu dengan cepat pergi untuk memberi uang kembalian kepada wanita itu.. Ketika kembali ke mejanya, sayang sekali wanita itu sudah pergi. Pelayan itu bingung kemana perginya wanita itu. Kemudian ia melihat sesuatu tertulis pada lap di meja itu.

Ada butiran air mata ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis wanita itu: “Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya. Saya juga pernah ditolong orang. Seseorang yang telah menolong saya, berbuat hal yang sama seperti yang saya lakukan sekarang. Jika engkau ingin membalas kebaikan saya, inilah yang harus engkau lakukan: ‘Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti padamu’.'”

Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $ 100 lagi. Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu.

Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan kelahiran bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup. Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik lembut dan pelan, “Segalanya akan beres. Aku mengasihimu, Bryan Anderson!”

Ada pepatah lama yang berkata, “Berilah maka engkau diberi.” Hari ini saya mengirimkan kisah menyentuh ini dan saya harapkan anda meneruskannya. Biarkan terang kehidupan kita bersinar. Jangan hapus kisah ini, jangan biarkan saja!

Mencari Tuhan di Penggorengan Pisang Raja

SORE hari terasa lezat jika disisipi beberapa potong pisang goreng dan teh manis hangat. Setelah lelah berdiri beberapa jam menyampaikan materi pelatihan, laju mobil saya mengantarkan saya ke sebuah warung gorengan yang tidak jauh dari komplek perhotelan mentereng di negeri ini. Kaca mata bisnis saya selalu saja senang memperhatikan geliat orang-orang yang berani menolong diri sendiri dan keluarganya melalui usaha halal dalam bentuk apapun. Melihat warung ini, saya mencoba mengkalkulasikan kira-kira berapa besar nilai bisnisnya. Bagaimana pengelolaannya, bagaimana pemasarannya, teknik jual si pelayan dan berbagai hal-hal teoritis lainnya. Seorang paruh baya menyodorkan sepiring pisang goreng ke hadapan saya sambil tersenyum ramah dan berbasa-basi mempersilahkan saya untuk mencicipinya sekaligus menanyakan minuman apa yang saya minati. Pemilik wajah yang begitu teduh dan damai itu bernama Sudiro yang akhirnya saya tahu bahwa panggilan akrabnya adalah Wak Diro. Menikmati pisang goreng terasa lebih hangat dengan obrolan ringan bersama Wak Diro. Dalam guyonan yang mengalir saya tahu ternyata Wak Diro adalah perantau asal Kudus yang sudah 16 tahun menjual gorengan pisang. Dalam satu hari ia bisa menghabiskan satu tandan besar dan hasil penjualannya bisa menyekolahkan ke empat anaknya hingga menjadi sarjana. Wak Diro rupanya jebolan fakultas teknik universitas negeri tertua di Jogjakarta, walau ia hanya bisa sampai semester 5. Kenapa tidak bisnis yang lain Wak? Atau menjadi pegawai negeri? Tanya saya menyelidik. Belum sempat menjawab pertanyaan saya, ia menggukkan badan tanda permisi kepada saya karena datang satu mobil Kijang Inova baru yang mendekat. Ternyata mobil itu dikemudikan oleh istrinya yang mengantarkan sesuatu. Pikiran saya berputar tak tentu. Tanpa sadar saya sedang menakar kantong orang tua ini. "Seorang penjual pisang goreng mampu menguliahkan keempat anaknya hingga sarjana dan kini didepan mata saya, si Istri datang dengan mobil baru yang tidak murah harganya".

Bukan cari uang
Sekali lagi saya jarah lagi semua sudut warung kecil itu. Penataan dagangan lumayan menarik, tetapi tidak istimewa. Kualitas produknya berupa gorengan juga terasa sama seperti pisang goreng ditempat lain. Atmosfir warung juga sama seperti warung-warung lain, walau yang ini terlihat lebih bersih dan terjaga. Sarana promosi sangat sederhana, hanya tulisan Pisang Goreng Panas yang ditulis tangan dengan kuas biasa. Daftar harga tercetak di selembar kertas terlaminasi yang ditempel di dinding sebelah kiri. Ada dua orang pegawai yang membantu menggoreng, membuat minuman dan melayani pelanggan sekaligus. Tetapi jumlah pembelinya silih berganti, tidak sederah air pancuran, tetapi datang satu-satu seperti tiada henti. Tak lama kemudian istri Wak Diro pergi, kata Wak Diro, istrinya harus mengantar beberapa kertas tisue ke lima cabangnya yang lain. Dan informasi itu membuat saya memilih untuk bertahan lebih lama demi mengetahui apa rahasia sukses bisnis ini. Setelah melewati beberapa basa-basi, lalu ia bertanya kepada saya, "Mas, sampean apa percaya sama Gusti Allah?". Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab, karena saya tidak bisa memperkirakan kemana arah pemikirannya. Lalu tanpa menunggu jawaban saya, Wak Diro menjelaskan bahwa dalam 8 tahun terakhir Ia tidak lagi mencari uang semata, tapi Ia mencari Tuhan. "Uang bagi saya hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Gusti Allah". Seperti pengakuan kebanyakan manusia, Ia meyakini bahwa hanya Tuhan yang sanggup mengarahkan dirinya kepada kondisi apapun."Mas, saya bukan jualan pisang gorang lho", aku Wak Diro, "Saya ini sedang membantu orang-orang agar bisa beribadah dengan baik". "Wow..." pikir saya, apakah penjual pisang goreng ini masih waras? "Saya ini senang membantu banyak orang dengan mengganjal perutnya agar ibadah shalat Ashar dan Maghrib-nya berjalan dengan baik, karena jam makan malam biasanya setelah Shalat Isya" terang Wak Dirno. Saya mulai memahami apa maksud kalimat Wak Diro sebelumnya, "Uang bagi saya hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Gusti Allah". Kini saya paham, mengapa ia begitu ramah menyambut tamu-tamunya, kualitas gorengan tetap terjaga baik ukuran maupun takarannya dan ruangan kedai ini tetap terjaga kebersihannya. Jelas bukan karena sekadar mencari uang, tetapi Wak Dirno sedang beribadah. Mencari keridhaan Tuhan. Seperti dijanjikan Allah ketika kita bersyukur, maka nikmat itu terus bertambah dan mengalir lancar. Saya benar-benar terbayang betapa saya dan banyak sahabat saya yang kerja mati-matian siang -malam hanya sekadar mencari uang. Bayangan itu begitu asam terasa setelah mendengar pengakuan Wak Dirno itu. Betapa Wak Dirno sudah menemukan kunci dasar sukses bisnis. Ia tidak sekadar menjual jajanan, ia muncul dengan alasan yang lebih mulia. Pisang goreng hanya media mendapatkan ridha Sang Khalik. Semua bentuk kerja dan bisnis dikerjakannya dengan menghadirkan batin, tulus dan iklas.

Khawatir
"Bagian saya adalah mempermudah ibadah orang lain, bagian Gusti Allah menjaga saya Mas" "Saya hanya pasrah dan memohon agar selalu dituntun Gusti Allah" aku Wak Dirno. "Apapun langkah saya, saya percaya Gusti Allah akan menyelamatkan saya. Jika saya dibawa ke kubangan Kebo sekalipun, saya tetap percaya kalau itu adalah kehendak Gusti Allah dengan maksud tertentu agar saya mendapatkan hikmah atas perjalanan itu". Menyelesaikan pisang terakhir, saya bertanya, "Wak, apakah sampean tidak khawatir dengan kenaikan BBM?", dengan ringan Wak Dirno menjawab, "Lha wong, saya sudah serahkan hidup saya ke Gusti Allah, kok mesti kuatir?". Sambil mengulurkan uang kembalian ke saya, ia berujar, "Saya kan cuma kawulo, apakah pantes kalau saya ikut campur tangan 'ngatur kerjaan Kanjeng Gusti?"

Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tanggal 26 mei 2008, dihalaman bisnis dan teknologi.

Bekerja dengan Cinta dan Ketulusan

Bila anda tidak mencintai pekerjaan anda, maka cintailah orang-orang yang bekerja di sana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu. Dan, pekerjaan anda pun jadi menggembirakan.

Bila anda tidak mencintai teman kantor anda, maka cintailah gedung dan suasana kantor. Ini akan memotivasi anda berangkat kerja dan melakukan pekerjaan kantor dengan lebih bersemangat.

Bila ternyata anda tidak bisa melakukannya, cintai perjalanan pulang pergi dari dan ke tempat kerja anda. Perjalanan yang menyenangkan akan menjadikan tujuan perjalanan atau kantor tampak menyenangkan.

Tapi jika anda pun tak menemukan kesenangan di perjalanan, cintai apapun yang bisa anda cintai dari tempat kerja anda. Bisa tanaman hias di meja kerja, barisan semut di dinding, atau burung-burung yang beterbangan di luar sana. Apa saja !

Jika tidak juga menemukan sesuatu yang bisa anda cintai dari kerja anda, kenapa anda masih di situ??? Cepat pergi dan carilah apa yang anda cintai, lalu bekerjalah di sana. Hidup cuma sekali. Tak ada yang lebih indah selain melakukan sesuatu dengan cinta yang tulus.
Sumber:

AYAH, MAAFKAN DITA

Sepasang suami istri, seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anaknya di rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerapkali dibiarkan pembantunya bermain karena sibuk di dapur. Bermainlah ia bersama ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari ia melihat sepotong paku karat. Dan kemudian iapun mencoretkan paku itu ke lantai dimana ayahnya memarkir mobil, tetapi karena lantai itu terbuat dari marmer maka coretan itu tidak nampak jelas. Dicobanya lagi coretan di mobil baru ayahnya. Ya.... karena mobil itu berwarna gelap, maka coretannya nampak jelas. Apalagi anak inipun semakin membuat coretan sesuai dengan kreatifitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imajinasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh pembantu rumah.

Sore hari saat kedua orangtuanya pulang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si ayah yang belum sempat masuk ke dalam rumah itupun terus berteriak, ”Kerjaan siapa ini? Pembantu rumah yang tersentak dengan teriakan itu berlari keluar rumah.. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan, lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi si bapak mengajukan pertanyaan keras kepadanya, diapun terus menjawab ”Saya tidak tahu ... tuan...”. Kamu sepanjang hari di rumah, apa saja yang kau lakukan?, hardik sang istri lagi.

Mendengar suara ayahnya, Si anak yang sedang berada di dalam kamar lalu keluar. Dengan penuh manja seorang anak, diapun berkata ”Dita yang membuat gambar itu ayah..... cantik ... kan! katanya sambil sambil memeluk ayah dan bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah mulai hilang kesabaran kemudian mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya., terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tidak mengerti apa2 lalu menangis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Belum puas memukul telapak tangan anaknya, si ayahpun memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan kepada anaknya itu. Pembantu rumah tangga terbengong, tidak tahu harus berbuat apa. Si ayah cukup lama memukuli tangan kanan anaknya dan kemudian ganti tangan sebelah kiri. Setelah merasa puas, kemudian si ayah masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh si istri, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu dan membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat tangan anak kecil itu luka2 dan berdarah. Pembantu rumah itu lalu memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramkan air, iapun ikut menangis karena merasa iba. Anak kecil itu menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanyan itu terkena air. Lalu si pembantu rumah itu menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan si anak kecil itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokan harinya, kedua tangan anak kecil itu terlihat bengkak. Pembantu rumah mengadu kepada majikannya. ”Oleskan obat saja” jawab si ayah.



Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktunya di kamar pembantu. Si ayah konon ingin memberikan pelajaran kepada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk si anak, sementara si ibu juga demikian, meski setiap hari ia bertanya kepada pembantu rumah. Dita demam, Bu” jawab si pembantu rumah singkat. ”Berikan panadol saja” timpal si ibu. Sebelum si ibu masuk ke rumah, dia pun menyempatkan menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihatnya anaknya Dita dalam pelukan si pembantu iapun kembali menutup pintu kamar pembantu dan masuk ke kamar tidurnya.
Masu hari ke empat, pembantu rumah memberitahu kepada tuannya bahwa suhu badan Dita sangat panas. ”Sore nanti kita bawa ke klinik.... pukul 5 sore sudah siap” kata majikannya. Sampai saatnya si anak dalam kondisi anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah sangat serius.

Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, kemudian dokter memangggil kedua orang tua si anak kecil itu. ”Tidak ada pilihan lain ...” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah sangat parah dan infeksi akut. ”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan si anak, maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan si ibu bagaikan terkena halilintar mendengarkan kata2 dokter itu. Terasa dunia seperti berhenti berputar, tapi apa yang dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung-raung sambil merangkul si anak. Dengan berat hati dan klelehan air mata istrinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anakpun menangis karena kesakitan. Diapun heran kedua tangannya dibalut dengan kasa putih. Ditatapnya wajah ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. ”Ayah..ibu ... Dita tidak akan melakukannya lagi .... Dita tidak mau lagi ayah pukul. Dita tidak mau jahat lagi .... Dita sayang ayah .... Dita sayang ibu” katanya berulang kali membuat si ibu tak kuasa menahan sedihnya. ”Dita pun sayang sama mbok Narti ...” katanya pula sambil memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat pembantu rumah itupun meraung histeris.

”Ayah kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil .... Dita janji tidak akan mengulangi lagi ! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti? ... Bagaimana Dita mau main nanti? ..... Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi... katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah menjadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangannya dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya mesti harus dipotong meskipun ia sudah meminta maaf.

Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat sang ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yang tak bertepi. Namun si anak, dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar dan bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya.

Sumber dr Email teman

Sabtu, 12 Juni 2010

Trading Places

oleh : Arfan Pradiansyah

Dua kakak-adik bersama-sama mengelola sebuah ladang dan penggilingan. Setiap malam mereka membagi butir-butir padi untuk digiling esok siang. Yang seorang hidup sendiri, yang satunya menikah dan dikaruniai banyak anak.

Suatu hari pria yang hidup sendiri itu berkata dalam hati, “Tidak adil kalau butir padinya dibagi rata. Aku hidup sendiri sedangkan saudaraku punya banyak anak yang harus diberi makan.” Maka, setiap malam ia diam-diam mengambil sekarung padi bagiannya dan meletakkan di lumbung saudaranya.

Ternyata pria yang menikah juga memikirkan situasi saudaranya dan berkata dalam hati, “Tidak adil kalau kami membagi butir padi sama rata. Aku punya anak-anak yang akan mengurus diriku kalau aku sudah tua. Bagaimana dengan dia?” Maka setiap malam ia diam-diam mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya, dan meletakkan di lumbung saudaranya.

Suatu malam mereka berpapasan di jalan antara dua rumah mereka. Dan tiba-tiba mereka menyadari apa yang selama ini terjadi. Mereka baru menyadari mengapa selama ini persediaan butir padi mereka tidak pernah berkurang. Mereka pun berpelukan dengan penuh kasih sayang.

Pembaca yang budiman, betapa indahnya dunia ini kalau kita bisa saling menghayati apa yang dibutuhkan orang lain. Bukankah berbagai masalah yang kita hadapi dalam hidup ini sesungguhnya bersumber dari ketidakmampuan kita untuk saling bertukar tempat (trading places) dan melihat segala sesuatu dari kacamata orang lain?

Bertukar tempat sesungguhnya merupakan rahasia kesuksesan yang terbesar. Orang yang mampu bertukar tempat mampu membaca pikiran orang lain. Ia berusaha mendengar dari telinga orang lain dan melihat dari mata orang lain. Ini tentu saja membuatnya mampu berkomunikasi dengan siapa saja. Bukan itu saja, bertukar tempat juga merupakan rahasia kebahagiaan (happiness) yang terbesar. Kemampuan bertukar tempat akan melahirkan rasa kasih yang luar biasa. Dan bukankah kasih sejatinya merupakan inti kebahagiaan?

Kalau semua orang di dunia ini mampu bertukar tempat, tentu tidak akan ada lagi kejahatan, kesedihan, kekecewaan, keburukan. Dunia juga akan bersih dari pembunuhan dan peperangan. Bagaimana mungkin Bush (ketika menjadi Presiden Amerika Serikat) bisa memerangi orang lain, membuat mereka cacat dan kehilangan keluarga yang mereka cintai, bila ia bisa membayangkan dirinya sendiri yang menjadi cacat atau kehilangan anak yang sangat ia cintai?

Namun bertukar tempat ternyata tidak semudah yang dikatakan. Ada lima alasan yang membuat bertukar tempat itu sulit. Pertama, karena pada dasarnya kita mementingkan diri sendiri. Mementingkan diri sendiri memang menjadi fitrah kita dan merupakan tahap perkembangan manusia yang paling awal. Tanpa mementingkan diri sendiri kita akan punah dari kehidupan. Namun berada pada fase ini membuat kita tidak berbeda dari seorang anak kecil yang bila meminta sesuatu mengharuskan orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan dia saat itu juga. Seorang anak kecil belum mampu memahami bahwa orang tuanya saat ini sedang sangat sibuk. Berada dalam fase ini selamanya juga akan membuat kita tak ada bedanya dari hewan. Tahap pendewasaan seseorang sebenarnya ditandai dengan kemampuan bertukar tempat dan merasakan apa yang dialami oleh orang lain.

Kedua, karena yang paling menarik perhatian kita adalah diri kita sendiri. Ini mudah sekali membuktikannya. Coba Anda ambil sebuah foto yang memuat gambar Anda dan teman-teman Anda. Dari mana Anda menilai bahwa foto itu bagus atau tidak? Siapa yang menjadi pusat perhatian Anda? Sudah tentu Anda sendiri bukan? Tak peduli bagaimana amburadulnya gambar orang lain, sebuah foto kita nilai bagus kalau pose kita dalam foto itu bagus.

Ketiga, kita sulit bertukar tempat karena kita tidak pernah mengalami menjadi orang lain. Bagaimana kita bisa merasakan tantangan yang dialami oleh para sopir angkutan umum – yang sering kali membawa kendaraan secara ugal-ugalan dan mengganggu kenyamanan kita – kalau kita setiap harinya duduk nyaman di mobil kita yang ber-AC? Bagaimana seorang karyawan – yang setiap hari senantiasa mengeluh – bisa memahami apa yang dirasakan oleh pemilik perusahaan? Bagaimana kita yang setiap hari makan enak dan tidur nyenyak bisa membayangkan bagaimana menjadi orang miskin? Bagaimana seorang suami bisa memahami apa yang dirasakan oleh istrinya yang tengah mengandung anak pertama?

Kita tidak akan pernah mengalami situasi yang demikian, karena itu kita tidak akan bisa berempati dan benar-benar merasakan apa yang dialami oleh orang lain. Namun sejatinya bertukar tempat tidak selalu berarti mengalami. Justru bertukar tempat adalah kemampuan kita untuk “mengalami” tanpa benar-benar mengalami. Ini bisa dicapai dengan latihan dan mengembangkan kedewasaan kita.

Keempat, kita sulit bertukar tempat karena kita sedang dalam situasi krisis. Bayangkan. Bila Anda sedang sakit gigi, dan di kanan-kiri Anda ada orang yang sedang terkena bencana gempa bumi, tanah longsor, kebakaran, kebanjiran atau kehilangan orang yang dicintai. Dari sekian banyak masalah tersebut, manakah yang merupakan masalah terbesar di dunia ini? Sudah pasti gigi Anda!


Kelima, kita sulit bertukar tempat karena menganggap bertukar tempat itu tidak penting. Pasalnya, kita tidak benar-benar menyadari manfaatnya bagi kesuksesan dan kebahagiaan kita.

Orang yang mampu bertukar tempat sejatinya adalah orang yang dapat melampaui dirinya sendiri. Dan ketika kita mampu melampaui diri sendiri, maka segala sesuatu di dunia ini akan dapat kita pahami. Tiada lagi kebencian dan permusuhan. Toh, bukan berarti kita setuju dengan apa yang dilakukan orang lain. Memahami tidaklah berarti setuju dengan perbuatan buruk, kata-kata yang kasar, penyelewengan, korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Memahami berarti memandang apa pun yang ada di hadapan kita – seburuk apa pun itu – dengan mata kasih.

Penulisan adalah Direktur Pengelola ILM & penulis best seller The 7 Laws of Happiness (Friday, February 12th, 2010)

Sumber Tulisan:

Kisah Sinar menggugah banyak orang

6 Januari 2010

SubhanaLlah, Maha Suci Allah! Sangat mengharukan! Itulah sebagian besar ungkapan penonton saat melihat tayangan di SCTV tentang kisah anak usia 6 tahun mengurus ibunya yang lumpuh. Bahkan tidak sedikit yang menitikkan air mata saat menyaksikan Sinar, nama bocah belia itu menampakkan bakti, cinta dan kasih sayangnya pada sang bunda, mengabaikan masa kecilnya pada saat anak-anak seusianya menghabiskan waktunya dengan bermain, sementara ia harus berada di samping bundanya yang sakit sejak dua tahun lalu.

Rumah Murni, nama ibu yang lumpuh ini terletak Desa Riso, Kecamatan Tapango, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Walau tampak jauh dari keramaian kota, tapi rumah Murni juga tidak luput dari keramaian Pemilu lalu. Terbukti dengan banyaknya sticker partai dan caleg yang tertempel di dinding rumah kayu sangat sederhana itu. Tapi sepertinya para politisi dan kader partai itu abai dengan apa yang terjadi di tengah keluarga miskin ini. Para tetanggalah yang terkadang memberikan bantuan ala kadarnya untuk Murni dam putrinya, Sinar. Karena suami Murni sendiri merantau ke Malaysia.

Sinarlah yang membantu dan menemani ibunya selama ini. Mulai dari memindahkan atau menggeser tubuhnya, masak, makan, minum, mandi hingga buang air. Semua itu ia kerjakan sendiri dengan penuh cinta. Tayangan yang ditampilkan SCTV ini bahkan sanggup meruntuhkan air mata mereka yang menyaksikannya. Ada rasa iba dan takjub sekaligus melihat bocah usia 6 tahun yang tampak penuh tanggung jawab melakukan tugas mulianya, sambil mengusap mesra pipi ibunya.

Bocah kelas satu Sekolah Dasar ini bahkan kerap terlambat ke sekolah karena harus mengurus ibunya. Begitu pula setelah pulang sekolah. Nyaris seluruh waktunya telah ia persembahkan bagi ibunya yang sakit parah. Walaupun Sinar memiliki lima orang kakak dan juga belum dewasa, namun mereka semua tinggal terpisah dengannya. Faktor ekonomi membuat mereka menjadi pembantu rumah tangga.

Kisah Sinar, bocah belia usia 6 tahun ini mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya berbakti kepada kedua orang tua. Walau di antara kita mungkin ada yang bertanya, apakah karena usianya yang masih sangat belia itu yang membuat Sinar mampu memahami arti berbakti kepada orang tua? Karena kita sendiri heran melihat perilaku seorang anak yang sudah dewasa justru tak sudi melayani ibunya yang renta dan tak mampu lagi berbuat apa-apa. Ia telah kehabisan cinta dan kasih sayang untuk ibunya.

Tapi begitulah Allah mengajarkan kepada kita tentang cinta kasih kepada orang tua melalui anak kecil ini. IA telah letakkan dalam hatinya pada saat banyak manusia yang justru tak memilikinya. Semoga saja ibu Murni dapat segera sembuh dari penyakit yang menimpanya. Dan putrinya, Sinar, senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah Ta’ala berbakti kepada ibunya.

Kisah Sinar, bocah kelas satu Sekolah Dasar Tondo Pata, Polewali Mandar, Sulawesi Selatan, ternyata menggugah nurani banyak orang. Sejumlah dermawan memberikan berbagai bantuan seperti pakaian, beras, uang hingga kasur untuk tidur. Bahkan beberapa dermawan lainnya akan membantu biaya sekolah Sinar.

Cinta bocah bernama Sinar pada ibunya juga telah menginspirasi Charlie, vokalis band ST12. Sebagai bentuk simpati, Charlie menciptakan lagu berjudul Sinar Pahlawanku. Bukan hanya mencipta lagu, ST12 bahkan menginap di rumah anak perempuan berusia enam tahun itu.

Sontak rumah warga Dusun Tondo Pata, Desa Riso, Kecamatan Tapango, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, menjadi ramai. Penduduk berdatangan untuk melihat band Ibu Kota. Sementara bagi ST12, mereka ingin melihat langsung ketabahan dan kegigihan Sinar merawat ibunya yang lumpuh.

Kebiasaan sehari-hari Sinar, yaitu memasak dan mencuci pakaian. Semua dilakukan seorang diri karena para saudaranya sudah tidak tinggal di rumah. Jangan menangis sayang, ini hanyalah cobaan Tuhan. Hadapi semua dengan senyuman, dengan senyuman. ST12 berharap, bait lagu ciptaan untuk Sinar bisa menguatkan anak yang mencintai ibunya itu.

ini dia video lagu tersebut :

video charlie ST12 menginap dirumah Sinar :

sumber liputan6.com, kompasiana.com, yahoo.com
Sumber tulisan:

AYO PUKUL, AYAH!

(Sebuah pengalaman hidup)

Ayah adalah penggemar baseball yang fanatik. Saya tumbuh di New York City, karena itu bisa melihat team-team yang hebat berlaga di Polo Grounds, Ebbets Field dan Yankee Stadium.
Pada hari Sabtu, saya dan ayah sering menjadi sporter untuk mendukung team favorit kami di stadion itu. Lama-lama saya juga menyukai permainan baseball. Tetapi karena saya seorang anak perempuan – saya lebih banyak sebagai penonton daripada pemain; seperti lazimnya yang terjadi masa itu.

Tiap ada kesempatan, ayah selalu mengajak saya ke taman dimana ada team anak-anak yang bermain baseball, dan ayah melemparkan bola untuk saya pukul. Kami bermain bersama berjam-jam, dan baseball menjadi bagian terbesar dari hidup saya.

Suatu hari saat sedang bermain baseball di taman, saya melihat seorang wanita mendorong anak laki-lakinya di atas kursi roda, berhenti untuk melihat permainan kami. Ayah menghentikan permainan dan bertanya kepada
anak itu apakah mau ikut bermain. Ibunya menjelaskan bahwa yang di kursi roda itu adalah anaknya dan menderita polio; sehingga tidak bisa beranjak dari kursi roda. Tetapi penjelasan itu tidak menghentikan niat ayah.

Ayah memberikan pemukul di tangan kecil anak itu, dan mendorong kursi roda di base pemukul serta membantunya menggenggam tongkat pemukul. Kemudian ayah berteriak pada saya, “Anne, lemparkan bola pada kami.”

Saya sempat gugup karena kuatir jika bola yang saya lempar mengenai anak itu. Tetapi saat melihat mata anak laki-laki itu berbinar-binar, saya meyakinkan diri untuk melemparkan bola padanya. Saat bola sampai, tongkat
pemukul yang digenggam oleh anak laki-laki dan ayah menghantam dengan tepat, dan anak itu berteriak kegirangan. Bola terbang melintas di atas kepala saya dan jatuh di di seberang lapangan. Saya berlari untuk memungut bola, dan saat berbalik, saya mendengar ayah menyanyikan lagu ‘Bawa Aku Ke Pertandingan Baseball’ sambil mendorong kursi roda itu melewati semua base di sekeliling lapangan. Ibunya bertepuk tangan dengan riuh dan anak itu minta untuk bisa tetap ikut meneruskan permainan.

Satu jam kemudian kami meninggalkan lapangan, sangat lelah tapi bahagia.

Dengan air mata membanjir di pipinya, ibu anak laki-laki itu mengucapkan banyak terima kasih kepada ayah karena sudah memberikan kebahagiaan yang tak ternilai bagi anaknya yang menderita polio. Ayah tersenyum dan
berkata bahwa dia juga ikut merasakan kebahagiaan itu, dan memintanya untuk bisa kembali lagi dan bermain baseball bersama kami.

Pada hari Sabtu berikutnya, saya dan ayah menunggu, tetapi anak laki-laki dengan kursi rodanya tidak muncul. Saya merasa sedih dan menduga-duga apa yang terjadi sehingga mereka tidak datang. Saya dan ayah bermain baseball
sampai siang, tetapi mereka tetap tidak datang.

Dua puluh tahun telah berlalu dan ayah yang saya cintai meninggal dengan tenang di usia lima puluh sembilan tahun. Dengan kepergian ayah, segala sesuatunya berubah dan dan keluarga kami memutuskan untuk pindah ke Long Island. Perasaan saya campur aduk, karena harus meninggalkan lingkungan dan tetangga yang sudah sangat akrab sejak saya kecil.

Terakhir kali, saya memutuskan untuk pergi ke taman dimana saya dan ayah telah mengukir banyak kenangan indah di sana. Saya berhenti di lapangan baseball. Di sana saya dan ayah biasa bermain pada hari Sabtu. Saat itu saya melihat dua group anak-anak sedang bermain baseball.

Saya duduk untuk melihat sejenak. Saya merasa air mata menetes ketika melihat anak-anak itu larut dalam permainan yang sangat saya sukai. Saya sangat rindu pada ayah.

“Jeff, jaga base-mu,” seorang pelatih berseru. Saya menyoraki seorang pemain yang berlari kencang setelah berhasil memukul bola hingga keluar lapangan. Pelatih itu berbalik dan tersenyum. Dia berkata, “Anak-anak sangat senang jika bisa berlari home run, bu.”

Dia meneruskan, “Saya tidak pernah membayangkan bisa menjadi pelatih di lapangan ini. Saat masih kecil saya menderita polio dan harus duduk di kursi roda. Suatu hari ibu mendorong kursi saya ke lapangan ini dan saat itu ada seorang laki-laki dan anak perempuannya sedang bermain. Saat melihat kami, mereka menhentikan permainannya dan bertanya pada ibu saya apakah saya bisa ikut bergabung dalam team itu. Dia membantu saya memegangi tongkat pemukul dan anak perempuannya melemparkan bola pada saya. ”

“Saat itu saya berhasil memukul bola dengan kencang karena dibantu oleh laki-laki itu. Selanjutnya dia berlari mendorong kursi saya melewati semua base di sekeliling lapangan sambil bernyanyi, ‘Bawa Aku Ke Pertandingan Baseball.’ Itu adalah hari yang paling membahagiakan saya, lebih daripada tahun-tahun yang sudah saya lalui. Saya percaya bahwa pengalaman itu memberi dorongan semangat yang luar biasa supaya bisa berjalan.”

“Kami pindah ke New Jersey hari berikutnya. Itulah sebabnya pada itu ibu membawa saya ke taman untuk mengucapkan perpisahan dengan teman-teman saya. Saya tidak pernah melupakan laki-laki berserta anak perempuannya itu. Saya bermimpi bisa berlari melintasi base di sekeliling lapangan dengan kedua kaki saya sendiri. Dengan mimpi itu, melalui kerja keras tiap hari, akhirnya bisa terwujud.”

“Saya kembali lagi ke sini tahun lalu, dan mulai saat itu menjadi pelatih team anak-anak di sini. Saya berharap suatu hari dengan berdiri tegak, bisa bertemu dengan laki-laki dan anak perempuannya lagi. Siapa tahu, saya bisa menemukannya sedang berada di lapangan sedang melemparkan bola pada cucunya – setelah tahun-tahun datang dan pergi. Saat itu saya akan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga padanya.”

Air mata mengalir di pipi saat mengetahui bahwa ayah menerima ucapan terima kasih dari seorang anak yang ditemuinya dua puluh tahun lalu. Saya merasa seolah-olah masih mendengar seruannya “Pukul dengan keras!”, sambil
berdiri tepat di samping saya, tidak peduli apakah hidupnya sudah direnggut dari sisi saya dan keluarganya.

Suatu contoh kebaikan hati yang sederhana di musim semi itu telah mengubah hidup saya selamanya. Setelah dua puluh tahun berlalu, kenangan indah itu ternyata berbuah dengan mengagumkan. “Ayo pukul, ayah!” kata saya saat
meninggalkan lapangan itu. “Saya tahu, ayah masih memainkan pertandingan yang kita sukai bersama – baseball!”