Kamis, 12 Januari 2012

Cara Klasik Mengobati Batuk

Cara Klasik Mengobati Batuk
Diposkan oleh anugrah giffari on Rabu, 11 Januari 2012

Sering kali kalau kita mengalami batuk, pastinya kita pergi membeli obat ke apotik, kios-kios ataupun ke toko-toko obat. Yang harus kita ketahui adalah bahwa cara alami lebih ampuh dalam mengatasi batuk adalah dengan meraciknya sendiri di rumah, ini tidak memerlukan keahlian khusus.
Batuk biasa.
Siapkan kencur 3 jari dan garam sedikit. Caranya kencur diparut ditambah setengah cangkir air, peras lalu saring dan minum dua kali sehari dalam satu ramuan.
Batuk Pilek.
Siapkan jeruk nipis satu buah, minyak kayu putih secukupnya, dan kapur sirih secukupnya. Caranya jeruk nipis dipotong dan diperas airnya kedalam cawan, tambah minyak kayu putih dan kapur sirih, diaduk hingga seperti bubur dan dilumurkan ke leher, dada dan punggung.
Batuk Asma.
Siapkan daun randu 7 helai, pegagang satu genggam, gula batu secukupnya dan air matang satu cangkir. Caranya daun randu dan pegagang dicuci, ditumbuk dengan air matang sedikit, setelah halus tambah air sisanya dan saring, tambah gula batu dan diaduk hingga larut. Minum satu kali sehari sampai sembuh. Pemeliharaan seminggu sekali satu ramuan.
Mudah sekali bukan. Hanya dengan meracik sendiri kita sudah bisa mengobati diri kita sendiri.
Thanks.
Sumber:http://ureport.vivanews.com/news/read/279232-cara-klasik-mengobati-batuk

Kamis, 05 Januari 2012

JAM KERJA ORGAN TUBUH ANDA

Jam Kerja Organ Tubuh Manusia Internet

<p>Your browser does not support iframes.</p>
\"Gambar
Jangan dikira manusia aja yah yg punya jam kerja. Organ tubuh manusia juga punya jam kerja  juga, Bahkan dari sini kita semakin mengerti kenapa jam 9 malam waktunya anak tidur dan tidur siang cukup dianjurkan.
Untuk lebih jelasnya silahkan disimak..

Jam Kerja Organ Tubuh Manusia


LAMBUNG
Jam 07.00 – 09.00
Jam piket organ lambung sedang kuat, sebaiknya makan pagi untuk proses pembentukan energi tubuh sepanjang hari. Minum jus atau ramuan sebaiknya sebelum sarapan pagi, perut masih kosong sehingga zat yang berguna segera terserap tubuh.
LIMPA
Jam 09.00 – 11.00
Jam piket organ limpa kuat, dalam mentransportasi cairan nutrisi untuk energi pertumbuhan. Bila pada jam-jam ini mengantuk, berarti fungsi limpa lemah. Kurangi konsumsi gula, lemak,minyak dan protein hewani.
JANTUNG
Jam 11.00 – 13.00
Jam piket organ jantung kuat, harus istirahat, hindari panas dan olah fisik, ambisi dan emosi terutama pada penderita gangguan pembuluh darah .
HATI
Jam 13.00 – 15.00

Jam piket organ hati lemah, bila orang tidur, darah merah berkumpul dalam organ hati dan terjadi proses regenerasi sel-sel hati. Apabila fungsi hati kuat maka tubuh kuat untuk menangkal semua penyakit.
PARU-PARU
Jam 15.00 – 17.00

Jam piket organ [intlink id=\"992\" type=\"post\"]paru-paru[/intlink] lemah, diperlukan istirahat, tidur untuk proses pembuangan racun dan proses pembentukan energi paru-paru.
GINJAL
Jam 17.00 – 19.00

Jam piket organ ginjal kuat, sebaiknya digunakan untuk belajar karena terjadi proses pembentukan sumsum tulang dan otak serta kecerdasan.
LAMBUNG
Jam 19.00 – 21.00
Jam piket organ lambung lemah sebaiknya tidak mengkonsumsi
makan yang sulit dicerna atau lama dicerna atau lebih baik sudah berhenti makan.
LIMPA
Jam 21.00 – 23.00

Jam piket organ limpa lemah, terjadi proses pembuangan racun dan proses regenerasi sel limpa. Sebaiknya istirahat sambil mendengarkan musik yang menenangkan jiwa, untuk meningkatkan imunitas.
JANTUNG
Jam 23.00 – 01.00

Jam piket organ jantung lemah. Sebaiknya sudah beristirahat tidur, apabila masih terus bekerja atau begadang dapat melemahkan fungsi jantung.
HATI
Jam 01.00 – 03.00

Jam piket organ hati kuat. Terjadi proses pembuangan racun/limbah hasil metabolisme tubuh. Apabila ada gangguan fungsi hati tercermin pada kotoran dan gangguan mata.
Apabila ada luka dalam akan terasa nyeri.
PARU-PARU
Jam 03.00 – 05.00
Jam piket organ paru-paru kuat, terjadi proses pembuangan limbah/racun pada organ [intlink id=\"992\" type=\"post\"]paru-paru[/intlink], apabila terjadi batuk,bersin-bersin dan berkeringat menandakan adanya gangguan fungsi paru-paru. Sebaiknya digunakan untuk olah nafas untuk mendapatkan energi paru yang sehat dan kuat.
USUS BESAR
Jam 05.00 – 07.00

Jam piket organ usus besar kuat, sebaiknya biasakan BAB secara teratur.

sUMBER: http://pinginsehat.info/2010/08/jam-kerja-organ-tubuh-manusia/

Rabu, 04 Januari 2012

Deretan Mobil Nasional Indonesia

Rabu, 04/01/2012 08:39 WIB

Deretan Mobil Nasional Indonesia

Syubhan Akib -
img


Jakarta - Saat ini Indonesia dikenal sebagai salah satu pasar mobil paling potensial di dunia. Berbagai merek asing berdatangan namun tidak ada satu pun merek mobil lokal yang melawan. Tapi siapa sangka, mimpi memiliki mobil nasional ternyata sudah terajut hampir 20 tahun lamanya.

Petualangan anak-anak bangsa untuk menciptakan mobil merek Indonesia diketahui dimulai pada masa 1993 silam dimana mobil-mobil seperti Maleo lahir. Keluarga Bakrie pun diketahui sempat ikut bermain di segmen ini meski akhirnya patah di tengah jalan.

Ada pula duet keluarga Cendana, Tommy dan Bambang, yang sempat melahirkan Bimantara dan Timor meski pada akhirnya tidak pula bisa bertahan.

Apa saja mobil Indonesia yang sudah direncanakan akan lahir atau sudah lahir? Berikut beberapa mobil nasional yang detikOto rangkum dari berbagai sumber untuk Otolovers.

Maleo

Mulai dikembangkan pada 1993, proyek Maleo dimulai ketika pemerintah harus memiliki mobil nasional yang khas nusantara. Saat itu IPTN pun ditunjuk untuk mewujudkannya.

Bekerjasama dengan Rover, Inggris dan Millard Design Australia IPTN, mobil yang dibidani oleh menristek BJ Habibie ini sukses membuat 11 rancangan mobil sampai tahun 1997. Namun sayangnya, proyek ini terbengkalai saat refermasi tiba.

Beta 97 MPV

Mobil ini adalah proyek yang dibuat pada tahun 1994 oleh Grup Bakrie melalui Bakrie Brothers. Bakrie ketika itu ingin menjadikan Beta 97 MPV sebagai mobil nasional. Untuk itu, Bakrie pun meminta bantuan rumah desain Shado asal Inggris untuk menciptakan desain awal mobil ini.

Pada bulan April 1995 desain Beta 97 MPV pun telah selesai dan mulai diperlihatkan ke manajemen Bakrie. Setelah itu, desain tersebut langsung dikembangkan sampai prototipe mobil ini selesai di tahun 1997.

Bakrie juga sudah mulai menyiapkan segala aspek pendukung mobil ini mulai dari perakitannya hingga ke persiapan anggaran produksi untuk memenuhi jadwal peluncuran mobil yang sesungguhnya disiapkan pada bulan Desember 1997. Tapi sayang, krisis ekonomi menenggelamkannya sebelum terbang.

Timor

Timor adalah merek mobil yang dijual Indonesia pada pertengahan tahun 1990 yang merupakan rebadged mobil dari Korea Selatan, Kia Sephia. Timor adalah kepanjangan dari 'Teknologi Industri Mobil Rakyat', dan nama lengkap perusahaannya adalah Timor Putra Nasional. Perusahaan ini dimiliki oleh Tommy Soeharto, anak dari mantan presiden Soeharto.

Mobil ini dimaksudkan sebagai mobil nasional Indonesia, seperti Proton di negara Malaysia. Karenanya, mobil merek Timor dibebaskan dari pajak-pajak dan bea lainnya yang biasa dikenakan pada mobil-mobil lain yang dijual di Indonesia. Setelah krisis ekonomi Asia yang menyebabkan Kia Motors pada tahun 1997 bangkrut (pada tahun 1998 dibeli oleh Hyundai), dan keruntuhan rezim Soeharto, maka proyek Timor juga ditutup.

Bimantara

Sama seperti Timor, Bimantara adalah sebuah proyek mobil nasional yang digalang oleh keluarga Cendana. Bila Timor disokong oleh Tommy, Bimantara dibangun oleh Bambang Trihatmojo.

Tapi bila Timor menggandeng KIA sebagai partner, Bimantara memilih untuk menggandeng Hyundai. Tapi karena krisis, Bimantara pun ikut tenggelam.

MR 90

Mobil ini merupakan proyek nasionalisasi Mazda 323 Hatchback oleh PT Indomobil, model terakhir dari upaya ini adalah Mazda Van tren pada tahun 1994.

Kalla Motor

Kalla Motor pernah menciptakan mobil kecil bermesin 500 cc sebagai calon mobil produksi Indonesia. Tidak dketahui kenapa tidak jadi diproduksi.

Texmaco Macan

Macan adalah Kendaraan berjenis minibus atau MPV dengan kapasitas mesin 1.800 cc dari PT. Texmaco. Dalam mengeluarkan mobil ini PT. Texmaco menggandeng Mercedes Benz, tercatat satu unit prototype sudah dipamerkan di arena pekan Raya Jakarta pada pertengahan tahun 2001, tapi belum sempat diproduksi masal PT. Texmaco bangkrut karena krisis moneter pada 1997-1998.

Gang Car

Gang Car adalah sebuah mobil mini berkapasitas 2 orang buatan PT. DI yang ditenagai mesin 125-200 cc. Mobil ini didesain berukuran cukup kecil sehingga bisa beroperasi di gang-gang sempit di daerah perkotaan (maka dari itu dinamakan Gang Car). Proyek ini tidak pernah terdengar lagi kabarnya sejak tahun 2003 setelah PT.DI dilanda kemelut dan merumahkan 9000-an karyawannya.

Marlip

Mobil ini adalah mobil listrik yang dikembangkan oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan dipasarkan PT. Marlip Indo Mandiri. Mobil ini digunakan untuk mobil golf, pasien, mobil keamanan. Marlip juga punya varian mobil empat penumpang dengan kecepatan mencapai 50 km/jam dengan jarak tempuh maksimal 120km. Harga Marlip berkisar antara Rp 60 sampai Rp 80 juta.

Kancil

Kancil (singkatan dari Kendaraan Niaga Cilik Irit Lincah) merupakan merek dagang terdaftar dari sebuah kendaraan angkutan bermotor roda empat yang didisain, diproduksi dan dipasarkan oleh PT. KANCIL (singkatan dari Karunia Abadi Niaga Citra Indah Lestari).

Mobil yang disiapkan untuk menjadi pengganti Bajaj/bemo ini menggunakan mesin 250 cc yang mampu melaju hingga 70 km/jam.

GEA

GEA adalah proyek mobil nasional hasil riset PT. INKA (Industri Kereta Api) dengan mesin Rusnas (Riset Unggulan Strategis Nasional), yakni mesin berkapasitas 640 cc. Tujuan GEA adalah memberikan alternatif mobil kecil menghadapi krisis energi.

Dilepas dengan harga antara Rp 45 -50 juta, mobnas yang satu ini masuk kategori city car berdimensi 3.320×1.490×1.640 mm dengan wheelbase 1.965 mm. Mesinnya 650 cc dan mampu melaju hingga kecepatan 85 km/jam dengan mesin 650 cc yang sistem pembakarannya injeksi EFI dengan penggerak roda depan.

Tawon

Mobil Nasional AG-Tawon diproduksi oleh PT Super Gasindo Jaya yang lokasi industrinya di Rangkasbitung - Banten. Mobil ini mampu melahap berbagai jenis bahan bakar mulai dari bensin dan atau bahan bakar gas CNG dan sudah memenuhi standarisasi Euro3.

Kapasitas mesin Tawon sebesar 650 cc, 4 Percepatan transmisi manual yang dapat dipacu hingga kecepatan 100 km/jam. Mobil ini mulai dikembangkan sejak tahun 2007, dan diproduksi sejak tahun 2009, serta mengandung 90% Kandungan Lokal. Direncanakan mobil ini akan dirilis pada bulan ini.

FIN Komodo

Mobil ini adalah mobil offroad yang mampu melahap segala medan. Bobotnya sangat ringan sehingga power yang diperlukan untuk melaju relatif kecil, akibatnya konsumsi bahan bakar relatif irit.

Untuk medan hutan, biasanya jarak tempuh sepanjang 100 km dapat dilalui dalam 6 - 7 jam dengan konsumsi bahan bakar kurang lebih hanya 5 liter, sedangkan kapasitas tangki 20 liter, sehingga dapat survive di dalam hutan selama 7 x 4 jam atau 4 hari perjalanan siang hari.

Disamping untuk misi penjelajah atau survey atau pengawasan, maka FIN Komodo yang dirancang oleh salah satu desainer pesawat CN-250 Gatotkaca Ibnu Susilo juga dapat digunakan untuk mengangkut beban (barang bawaan) seberat 250 Kg, sehingga dapat juga berfungsi sebagai kendaraan utility.

Wakaba

Wakaba berasal dari singkatan Wahana Karya Anak Bangsa adalah mobil buatan Jawa Barat yang didukung oleh mesin berkapasitas 500 cc, 4 tak, 2 silinder, yang diklaim tetap bertenaga untuk digunakan pada medan seperti pedesaan yang penuh dengan bukit dan pegunungan.

Dengan dimensi panjang 3.300 mm, serta lebar 1.500 mm, dan tinggi 1.820 mm, Wakaba siap memenuhi kebutuhan transportasi pedesaan yang selama ini masih jarang tersentuh secara khusus sektor transportasinya.

Arina

Arina merupakan mobil mungil buatan Semarang. Mobil ini berawal Universitas Negeri Semarang yang didanai oleh Departemen Perindustrian. Mobil Arina ini menggunakan mesin sepeda motor dengan kapasitas mesin 150 cc, 200 cc, dan 250 cc.

Perancang mobil adalah seorang dosen jurusan Teknik Mesin Unnes bernama Widya Aryadi.

Nuri

Nuri merupakan saudara Tawon yang juga diproduksi oleh PT Super Gasindo Jaya. Mobil ini menggunakan mesin 800 cc. Mobil ini memiliki model hatchback yang mampu membuatnya lincah bermanuver.

Boneo

Mobil ini merupakan mobil buatan PT Boneo Daya Utama dan masih dalam tahap purwarupa. Modelnya ada dua yakni city car dan pikap dengan mesin V-Twin berkapasitas 653 cc yang mampu mengeluarkan tenaga 15,3 kW dan torsi 44,3 Nm.

Esemka

Mobil nasional berikutnya adalah Esemka. Esemka mengambil nama dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Mobil ini sebenarnya merupakan mobil rakitan karya siswa-siswi SMK.

Nama-nama merek Esemka berbeda-beda tergantung SMK mana yang membuatnya. Ada Didgaya, Rajawali, dan lainnya dengan model berbeda-beda mulai dari SUV, MPV dan pikap kabin ganda.

Esemka pertama kali muncul ke publik pada 2009 lalu saat sebuah event di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Mesinnya menggunakan mesin 1.500 cc yang berawal dari mesin Timor, namun dimodifikasi sendiri oleh Esemka. Karena berbagai keterbatasan, beberapa parts kendaraan diambil dari mobil yang sudah beredar di Indonesia. Seperti lampu depan, dashboard, dan lampu belakang.

Mobil ini langsung menarik minat publik, karena desainnya sudah sangat bagus. Terakhir mobil ini juga menjadi sorotan di awal tahun 2012 menyusul keputusan Walikota Surakarta Joko Widodo yang menggunakan mobil ini sebagai mobil dinas.


Sumber:http://oto.detik.com/read/2012/01/04/083936/1806076/1207/deretan-mobil-nasional-indonesia?9911012

Senin, 02 Januari 2012

Bandara Paling Berbahaya di Dunia

12 Bandara Paling Berbahaya di Dunia

Senin, 14 November 2011

Share lintasberita Berikut ini adalah gambar 12 bandara paling berbahaya di dunia.Lokasi bandara yang ekstrim mungkin tampak mendebarkan bagi yang menyaksikannya apalagi bagi seorang pilot untuk melakukan pendaratan sukses dan lepas landas pesawat.Meskipun bandara-bandara ini terlihat begitu seram dan menakutkan ,namun bukan berarti setiap hari ada yang kecelakaan loh,buktinya sampai saat ini bandara berbahaya ini masih beroperasi dan sangat jarang terdengar ada kecelakaan fatal.Lokasi bandara yang tidak ideal yang terletak dipegunungan berbatu,landasan pacu pendek atau di daerah perkampungan banyak penduduk menjadikannya sebagai bandara paling berbahaya di dunia.

1. Ice Runway
Pulau Ross, Antartika


2. Bandara Internasional Madeira
Madeira, Portugal
Bandara Internasional Madeira
3. Bandara Internasional Kansai
Osaka, Jepang
Bandara Internasional Kansai
4. Bandara Lukla
Khumbu, Nepal
Bandara Lukla
5. Bandara Internasional Princess Juliana
St. Maarten
Bandara Internasional Princess Juliana
6. Bandara Internasional Toncontin
Tegucigalpa, Honduras
Bandara Internasional Toncontin
7. Bandara Aspen-Pitkin County
Colorado, United States
Bandara Aspen-Pitkin County
8. Bandara Internasional Barra
Barra, Scotland
Bandara Internasional Barra
9. Bandara Shimla
Shimla, India
Bandara Shimla
10. Bandara Courchevel
Courchevel, Prancis
Bandara Courchevel
11. Bandara Juancho E. Yrausquin
Saba,Belanda
Bandara Juancho E. Yrausquin
12. Bandara Paro
Paro, Bhutan
Bandara Paro

RITUAL KEDEWASAAN, MENGERIKAN !!!

6 Ritual Kedewasaan Yang Aneh dan Mengerikan
Quote:

1. Satere Mawe - Amazone

Jauh didalam pedalaman hutan Amazon ada sisi menarik dari ritual kedewasaan dari suku Satere-Mawe. Para pemuda dari suku Satere-mawe harus memasukkan tangan ke dalam "sarung tangan" yang terbuat dari anyaman yang penuh dengan semut peluru (bullet ant) untuk mencapai kedewasaan mereka.

Dan hal itu dilakukan selama kurang lebih 10 menit tanpa boleh berteriak dan dilakukan selama berulang kali, bahkan bisa mencapai 20 kali. Semut-semut diletakkan di sarung tangan yang terbuat dari anyaman tumbuhan, dengan taring sengat mengarah ke dalam.

Sebelumnya semut-semut tersebut telah di berikan cairan yg membuat semut-semut tak sadarkan diri. Setelah semut-semut tersebut sadar, dimulailah ritual tersebut .

Menurut "schmidt sting pain index" Semut peluru dari amazon terkenal mempunyai sengat paling menyakitkan di antara semua semut-semut jenis lain yang ada di seluruh dunia. Kulit akan terasa terbakar apabila terkena sengatan semut ini dan rasa nyeri sengatan tersebut akan bertahan selama 24 jam.



2. Mardudjara circumcision - aborigin Australia

Ritual sunat bagi suku Mardudjara agak sedikit berbeda dari biasanya. Ketika para pemuda suku Mardudjara sudah mendekati umur dewasa, para pemuda tersebut di haruskan bersunat, yaitu sekitar umur 15 - 16 tahun.

Dalam ritual sunat ini sang pemuda ditelentangkan di dekat api unggun, kemudian dada si pemuda tersebut di duduki oleh kepala suku dengan menghadap ke arah kemaluan si pemuda tersebut. Kemudian kulit kemaluannya di potong dengan menggunakan pisau yang sudah dijampi-jampi.

Tapi proses ritual tidak berhenti sampai disini. Setelah proses pemotongan tersebut selesai si kepala suku memerintahkan si pemuda untuk membuka mulut dan kemudian si pemuda di haruskan menelan kulit kemaluannya sendiri tanpa harus dikunyah.



3. Maasai warrior – Kenya, Tanzania

Para pemuda suku Maasai Kenya dan Tanzania memiliki serangkaian ritual peralihan yang membawa anak laki-laki menuju kedewasaan. Sekitar umur 10 atau 15 tahun yang akan dijadikan prajurit-prajurit yang baru.

Malam sebelum upacara, setiap anak laki-laki tersebut akan dibawa tidur di hutan dan kembali pada waktu fajar. Setelah kembali ke perkampungan, mereka di haruskan minum susu yang di campur dengan darah sapi dan kemudian di sunat. Setelah disunat, semua suku Maasai akan menganggap dirinya seorang pria, pahlawan, dan pelindung dari desanya.



4. Land Diving Vanuatu, negara kepulauan pasifik selatan

Bungee jumping, semua orang pasti sudah mengenal olahraga ekstrem ini, tapi di Vanuatu, bungee jumping tersaji lain dari yang biasanya kita jumpai. Pada musim panen sekitar bulan-bulan April - Mei, diselenggarakan sebuah ritual kedewasaan oleh suku Vanuatu di pulau pasifik.

Dimana Para pemuda yang beranjak dewasa diharuskan memanjat konstruksi tiang-tiang kayu setinggi 30 meter bahkan lebih, lalu melompat dari atas dengan kecepatan jatuh kurang lebih 72km/h.

Yang menahan mereka hanyalah seutas tanaman merambat yang dibuat menjadi sebuah tali tambang panjang yang hanya di ikat di kedua kakinya. Salah perhitungan berarti nyawa melayang!

Parahnya lagi, dalam ritual ini setidaknya kepala harus menyentuh tanah. Ritual ini telah ada setidaknya sejak 15 abad yang lalu, ritual ini bertujuan untuk persembahan bagi dewa-dewa mereka atas panen yang melimpah dan juga untuk mempersiapkan para pemuda-pemuda matang untuk menjadi laki-laki sejati.



5. Sambia – Papua New Guinea
Suku Sambia di pedalaman Papua new guinea memiliki ritual kedewasaan yang terbilang unik dan ekstrim. Pada permulaan anak laki-laki yang berumur 7 tahun akan di pisahkan dari ibunya dan di tempatkan di sebuah pondok yang semuanya adalah laki-laki.

Setelah dipisahkan dari wanita-wanita, anak-anak muda akan mengikutii beberapa ritual yang terbilang berbahaya. Yang pertama adalah penyedotan darah dari hidung dengan cara menusukan rumput tajam ke dalam hidung sang bocah sampai darah mengalir dengan deras.

Dan kemudian anak-anak tersebut dipukuli oleh banyak orang laki-laki dewasa. Yang kedua adalah anak-anak tersebut di haruskan meminum air sperma dari tetua-tetua adat suku Sambia. Tujuan dari ritual ini adalah untuk menguatkan anak-anak mereka dan mempersiapkan mereka untuk hidup sebagai prajurit.



6. Mandan hook hanging – Native American

Penduduk asli amerika yang disebut suku Indian memiliki ritual-ritual yang berbeda-berbeda di setiap sukunya, dan yang agak menarik adalah dari suku Mandan. Sebelum ritual di selenggarakan, para laki-laki suku Mandan di haruskan berpuasa selama 3 hari untuk membersihkan tubuh dari kotoran.

Kemudian pada hari ritual dilaksanakan, ketua suku akan mengaitkan dada mereka dengan 2 buah stik kayu dan diikat dengan dua buah tali kemudian di gantungkan di langit-langit tenda dan tidak di perbolehkan berteriak ataupun menangis sampai pemuda tersebut tak sadarkan diri.

Setelah para ketua suku yakin bahwa si pemuda tersebut tak sadarkan diri, barulah si pemuda tersebut di lepaskan dari kait penyangganya.

Sumber:http://forum.vivanews.com/aneh-dan-lucu/226107-6-ritual-kedewasaan-yang-aneh-mengerikan.html 

Kamis, 10 November 2011

Kisah inspirasi untuk para istri dan suami

Kisah inspirasi untuk para istri dan suami

Oktober 7, 2011 | |


Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
Sumber:

Kamis, 29 September 2011

KOSONG

KOSONG 




SUDAH hampir 11 tahun kita tidak bertemu, Kawan. Sejak kau menerima tawaran, sebulan setelah nama kita mendapat embel- embel di belakang, dan tak sampai enam bulan kemudian kau pergi untuk sebuah ilmu atas permintaan ketua lembaga.

Atasanmu. Kau masih sempat meneleponku di rumah waktu itu, “Aku berangkat malam nanti.”Namun ternyata kau tidak berterima kasih.Sepulang dari Amsterdam kau malah masuk partai sempalan yang menawarimu jabatan lumayan– sekretaris jenderal–katamu karena lewat partai maka perjuangan akan lebih nyata dan mudah bergerak. Sudah lupakah kau dengan cita-citamu di kamar sumpek 3X3 meter yang kita sewa 75.000 sebulan di Pondok Cina–dalam diskusi rutin tiap Sabtu malam yang kita sebut “buka forum” dan kita melakukannya selama lima tahun–kau dengan bersemangat mengatakan bahwa apa pun yang terjadi,cita-cita mengubah negeri ini harus terus berjalan? “Harus ada perubahan di negeri ini.

Kita tak mungkin terus-menerus hidup dalam ketakutan. Soeharto harus turun. Rejim militer ini harus berganti dengan sipil. Pikiranpikiran dan semangat kita bisa diandalkan. Siapa penggerak demonstrasi besar-besaran di Jakarta tahun enam-enam? Pemuda! Mahasiswa! Tiru Arief Rachman Hakim! Contoh Soe Hok Gie!” Bila mengingat itu, aku sering tersenyum karena saat itu kita baru tepat tiga bulan memiliki NRP dan kepala belum terisi penuh.

Sudah lupakah kau dengan kata-katamu di kamar kita itu sampai tengah malam,dini hari, bahkan pagi, sambil sesekali mengutip Lenin, Marx, Pram, Tan, dan makan mi instan– setiap bulan kita melahapnya selama 20 hari di pagi,siang, dan malam–bahwa kau membenci segala gemerlap produk kapitalis yang serbamaterialistis dan memabukkan orangorang muda?

Sudah lupakah kau dengan pikiran-pikiranmu yang tak cuma kau lisankan tetapijugadiselebaran- selebaran yang kau sebar diam-diam di kampus kita bahkan kampuskampus lain melalui temanteman diskusi yang menjadi mahasiswa di sana? Sudah lupakah kau dengan ajakan-ajakanmu yang kau ucapkan sampai tengah malam, dini hari,bahkan pagi, sambil ditemani satu mug besar kopi yang kita minum bergantian di kamar kita yang sumpek itu bahwa kau muak dengan segala budaya hedonisme kaum yuppies kota yang memabukkan orang-orang muda?

Lalu di Kelapa Dua, di kamar kos, seorang rekan dari kampus yang lain yang kau datangi untuk kau pinjam bukunya– biografi Tan Malaka dan Che Guevarra–sekaligus mengembalikan uang 15.000 perak yang pernah kau pinjam untuk makan seminggu, dan kau meminta aku menemani, kau mengulangi kata-kata yang sudah kau ucapkan di kamar kita, kamar teman di Margonda, Lenteng Agung, Kukusan, Beji, dan teman-teman kampus kita sendiri, “Kita harus jadi kaum proletar! Marhaen! Kaum kiri yang antikemapanan! Kita harus jadi pemberontak,pendobrak,pembawa nilai-nilai perubahan!” Dua puluh satu tahun kita waktu itu.

*** Masih ingatkah kau ketika kita–bersama mahasiswa dari kampus kita sendiri dan kampus- kampus lain bahkan masyarakat– turun ke jalan membawa poster-poster, mengusung spanduk-spanduk,membakar ban-ban bekas di tengah jalan, membakar boneka kertas Pak Harto–waktu itu dengan bangga kita menyebutnya hanya dengan “Soeharto” saja–dan kaus Golkar serta kemeja batikKorpri? Lalu kau naik ke atap metromini dan berteriak, “Harus ada perubahan di negeri ini!

Kita tak mungkin terus-menerus hidup dalam ketakutan! Soeharto harus turun! Rejim militer ini harus berganti dengan sipil! Hidup reformasi! Hidup mahasiswa!! Hidup!! Hidup!!” Masih ingatkah kau ketika kita dan mereka mendobrak gerbang besi kokoh di Senayan setelah pembakaran dan penjarahan Kamis, kemudian taruhan 5.000 perak, siapa di antara kita yang berhasil lebih dahulu sampai di atap gedung menyerupai yoni itu, duduk dan berdiri bersama mahasiswamahasiswa lain yang sudah lebih dahulu? Ah,lumayan untuk bahan cerita kepada anak-cucu nanti.

Masihingatkahkauketikakita– bersama beberapa teman dari kampus-kampus lain–meninggalkan gedungitubeberapajam untuk mengikuti rapat yang dipimpin dua aktivis perempuan di lantai dua Biro Oktrooi Rooseno di samping Bioskop Megaria,dengan gaya layaknya ahli-ahli strategi politik dan penentu arah negeri ini? Bahkan, setiap relawan dari lantai satu naik mengantar masyarakat yang membawa uang–di lantai bawah mereka melayani masyarakat yang menyumbang mi instan, nasi bungkus,

pakaian bekas, obat-obatan, handuk, sabun, sikatgigi,pastagigi,bahkan celana dalam dan pembalut,karena mereka tak diperbolehkan membawa langsung ke Senayan– kita langsung berhenti bicara padahal mereka sama sekali tidak peduli. Masih ingatkah kau ketika kita–bersama mahasiswa dari kampus kita sendiri–menyuruh mahasiswa-mahasiswa dari kampus kita sendiri dan kampus- kampus lain untuk antre satu per satu dengan kupon di tangan untuk mengambil nasi bungkus–padahal seorang wartawan ANTARA

sudah mengatakan persetan dengan kupon dan ia menyarankan supaya nasi bungkus diserahkan per dua puluh bungkus karena banyak mahasiswa yang sudah memegang perut akibat udara dingin, atau mendirikan tenda lain sehingga tak hanya di satu titik? Ah,akhirnya nasi bungkus yang bergunung-gunung itu pun rusak oleh hujan dan kemudian terbuang.Bodohnya,Kau.

Masih ingatkah kau ketika kita–bersama mahasiswa dari kampus kita sendiri dan kampus- kampus lain bahkan masyarakat– berteriak-teriak,berlompat- lompat, menari-nari bagai oranggila,berenangdikolam,lalu saling berpelukan dan menangis– lainnya sujud syukur dan salat–ketika mendengar kabar Pak Harto mengundurkan diri? Kita bagai orang yang terbebas dari siksa neraka,padahal Kamis itu awalnya.

Di sana kita bertemu Dono dan Indro yang ternyata begitu serius. Masih ingatkah kau ketika kita–bersama mahasiswa dari kampus kita sendiri dan kampus- kampus lain–sore mendatangi Posko SIP1untuk meminta dana dan nasi bungkus karena malamnya akan mengadakan syukuran di Salemba? Ah, betapa lembek dan manja kita.Merengek pada ibu.

Masih ingatkah kau dengan kondom-kondom yang katamu dibuang–bersama milikmu sendiri– di tempat-tempat sampah dan sudut-sudut gelap gedung beratap menyerupai yoni itu? Ah,entah perempuan dari kampusmanadanberapaorangyang terpikat pada kata-katamu selamakitabeberapamalamdisana.

*** Kudengar dari seorang kawan lama yang bertemu denganmu di Komnas HAM dua minggu lalu–dia menjadi wartawan politik sekarang–dan sore empat hari lalu datang ke rumahku, sepulang dari Amsterdam kau menjadi gemar ngobrol di kafe-kafe di Kemang, Darmawangsa Square, Setia Budi One, Cilandak Town Square, atau Plaza Senayan.

Kau juga menjadi gemar ke Vertigo, Embassy, dan Retro katanya, sambil menjauhi Metallica, Nirvana, Sepultura, Pearl Jam,dan Fire House yang sering kita dengar di kamar kita yang sumpek, karena sudah mengakrabi Chemical Brother, Fat Boy Slim, DJ Naro dan DJ Riri–entah siapa mereka. Lalu kuajak kau bertemu di TIM.Tapi kau menolak karena muak melihat calon-calon seniman yang sok nyentrik.

Kusebutkan TUK2. Kau setuju, ada kafe di sana.Katamu siapa tahu bertemu Ayu Utami lantas ditawari ngobrol di Radio 68H.Syukurlah kau tidak berpura-pura lupa karena ‘sudah berbeda’. “Itu hanya penyakit orang idiot.” “Tapi memang benar berbeda, kan? Kafe, diskotek, kartu kredit, mobil, komunikator, sepatu dan pakaian mahal. Minyak wangi bahkan.Kenzo?” ”Armani.” “Tentu kau sudah lebih ‘tenang’ sekarang, tidak lagi gemar menghujat dan mengumpat, sinis dan sarkasme.”

“Maksudmu sejak jerih payahku menjadi aktivis kampus, aktivis 98,dan aktivis LSM,akhirnya terbungkam di partai? Maksudmu karena aku hanyalah boneka sejarah yang berulang– semata 66 kedua?” “Ya.” “Aku senang ke kafe-kafe itu karena nyaman untuk berdiskusi.” “Politik?” “Apa lagi? Kau tahu aku suka politik dan diskusi.” “Lebih nyaman dibanding kamar kita yang sumpek?” “Itu masa lalu.

Waktu berubah. Tak mungkin kita kembali ke sana.” Masa lalu? Seberapa lalu? “Setidaknya tidak perlu di tempat mewah,‘kan?” “Aku tidak menganggapnya mewah.Biasa saja.” “Biasa? Sudah pandai bergoyang disko tentunya sekarang?” “Teman-temanku di Belanda yang mengajari.Aku mengasahnya dua kali seminggu.” “Punya pacar di sana?” “Sekitar satu-dua ada.” “Bule?” “Ya, tentu.Apa lagi? Mereka radikal dalam setiap gerakan. Bahkan,di ranjang.”

“Keturunan Westerling atau Jan Pieterszoon Coen?” Kau tertawa. “Jangan-jangan kau sudah puas pula buang kondom di Rooseburt?” Kau hanya menyengir. “Bawa majalah porno atau alat bantu seks?” “Datanglah ke rumahku.” Padahal aku hanya bercanda! Kalau Sri Bintang Pamungkas bersama kita,pasti ia akan menertawakanmu habishabisan, Kawan.

*** Aku turun di depan Bioskop Megaria dari Kopaja jurusan Senen-Kampung Rambutan. Menyeberang dan menyeberang lagi, berdiri dekat lampu merah di pertigaan ke arah Tugu Proklamasi di selatan. Aku menunggu bis ke arah Blok M.Di sebelah kiri berjongkok dan bersila anak-anak muda gondrong dengan ransel di punggung.Celana blue-jeanskotor, kaos, atau kemeja lengan panjang lusuh digulung, serta sandal jepit dan sepatu bot butut.

Melihat mereka bagaikan melihat diriku 19 atau 18 tahun lalu.Tapi, lukisan Agus Suwagedan Oji Lirungan di Galeri Cipta II tadi lebih menarik kuingat-ingat daripada melihat kekumalan mereka.Lebih baik aku membayangkan rencana menyusul. Bagaimanapun aku ingin berpameran di sana. Aku menyumpah-nyumpah karena bis itu belum juga terlihat. Sekali-sekali aku melihat ke arah kanan.Kalau bis itu datang, aku akan segera menaikinya.

Tak kupeduli sesak.Obrolan- obrolan anak-anak muda kumal itu sudah mulai menusuk- nusuk kepalaku. Aku pening seketika.Kelihatan sekali mereka berusaha atraktif. Bis datang. Aku bergegas naik, begitu pula tiga-empat orang anak muda kumal tadi, berjejal. Mulut mereka terus bicara. Di depan kantor lama PDI, mereka kembali mengulang kalimat yang sama, seperti ingin semua orang di dalam bis mendengarnya.

“Kita orang muda jangan terbuai gemerlap produk kapitalis yang serbamaterialistis. Juga budaya hedonisme kaum yuppies kota. Kita ini harus jadi kaum proletar. Marhaen. Kaum kiri yang anti-kemapanan.Kita harus jadi pemberontak,pendobrak, pembawa nilai-nilai baru.” “Dik,”tegurku. “Ya, apa, Mas?” Seorang dari mereka melihat ke arahku. Lagaknya benar-benar membuatku terkekeh-kekeh.Bocah tengik.Persis aku sepuluh atau sembilan tahun lalu. “Bicara proletar, Dik? Marhaen?” Aku menatap matanya. “Ya, proletar.” Dia menjawab semangat.“Saya proletar. Marhaen.” Aku tetap menatap matanya,“ Omong kosong.”

CHAIRIL GIBRAN RAMADHAN

Lahir di Pondok Pinang, Jakarta Selatan–yang sebagiannya “menjadi” Pondok Indah. Menyelesaikan pendidikan formal di IISIP Jakarta, Lenteng Agung; Cerpennya tampil di Horison, Suara Pembaruan, Kompas, Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, The Jakarta Post, Sinar Harapan, Seputar Indonesia, Lisa, Nova, Swara Cantika, Kartini, Kartika, Annida,

Femina, serta antologi bersama untuk pasar internasional terbitan Yayasan Lontar: Menagerie 5 (ed. Laora Arkeman, 2003) dan I Am Woman”(ed. John H. McGlynn, 2011). Antologi tunggal pertamanya Sebelas Colen di Malam Lebaran (Masup Jakarta, 2008). Cerpennya tampil pula dalam antologi bersama: Ujung Laut Pulau Marwah (Temu Sastrawan Indonesia III, 2010) dan Si Murai dan Orang Gila (Dewan Kesenian Jakarta&KPG, 2010).  
Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/430568/