Senin, 12 September 2011

Cara Tuhan

inggu, 07 Juni 2009 11:01:00 WIB
kick andyMalam itu saya gelisah. Tidak bisa tidur. Pikiran saya bekerja ekstra keras. Dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Sampai jam tiga dini hari otak saya tetap tidak mampu memecahkan masalah yang saya hadapi.
Tadi sore saya mendapat kabar dari rumah sakit tempat kakak saya berobat. Menurut dokter, jalan terbaik untuk menghambat penyebaran kanker payudara yang menyerang kakak saya adalah dengan memotong kedua payudaranya. Untuk itu, selain dibutuhkan persetujuan saya, juga dibutuhkan sejumlah biaya untuk proses operasi tersebut.
Soal persetujuan, relatif mudah. Sejak awal saya sudah menyiapkan mental saya menghadapi kondisi terburuk itu. Sejak awal dokter sudah menjelaskan tentang risiko kehilangan payudara tersebut. Risiko tersebut sudah saya pahami. Kakak saya juga sudah mempersiapkan diri menghadapi kondisi terburuk itu.
Namun yang membuat saya tidak bisa tidur semalaman adalah soal biaya. Jumlahnya sangat besar untuk ukuran saya waktu itu. Gaji saya sebagai redaktur suratkabar tidak akan mampu menutupi biaya sebesar itu. Sebab jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan pendapatan saya. Sementara saya harus menghidupi keluarga dengan tiga anak.
Sudah beberapa tahun ini kakak saya hidup tanpa suami. Dia harus berjuang membesarkan kelima anaknya seorang diri. Dengan segala kemampuan yang terbatas, saya berusaha membantu agar kakak dapat bertahan menghadapi kehidupan yang berat. Selain sejumlah uang, saya juga mendukungnya secara moril. Dalam kehidupan sehari-hari, saya berperan sebagai pengganti ayah dari anak-anak kakak saya.
Dalam situasi seperti itu kakak saya divonis menderita kanker stadium empat. Saya baru menyadari selama ini kakak saya mencoba menyembunyikan penyakit tersebut. Mungkin juga dia berusaha melawan ketakutannya dengan mengabaikan gejala-gejala kanker yang sudah dirasakannya selama ini. Kalau memikirkan hal tersebut, saya sering menyesalinya. Seandainya kakak saya lebih jujur dan berani mengungkapkan kecurigaannya pada tanda-tanda awal kanker payudara, keadaannya mungkin menjadi lain.
Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Pada saat saya akhirnya memaksa dia memeriksakan diri ke dokter, kanker ganas di payudaranya sudah pada kondisi tidak tertolong lagi. Saya menyesali tindakan kakak saya yang “menyembunyikan” penyakitnya itu dari saya, tetapi belakangan -- setelah kakak saya tiada -- saya bisa memaklumi keputusannya. Saya bisa memahami mengapa kakak saya menghindar dari pemeriksaan dokter. Selain dia sendiri tidak siap menghadapi kenyataan, kakak saya juga tidak ingin menyusahkan saya yang selama ini sudah banyak membantunya.
Namun ketika keadaan yang terbutruk terjadi, saya toh harus siap menghadapinya. Salah satu yang harus saya pikirkan adalah mencari uang dalam jumlah yang disebutkan dokter untuk biaya operasi. Otak saya benar-benar buntu. Sampai jam tiga pagi saya tidak juga menemukan jalan keluar. Dari mana mendapatkan uang sebanyak itu?
Kadang, dalam keputus-asaan, terngiang-ngiang ucapan kakak saya pada saat dokter menganjurkan operasi. “Sudahlah, tidak usah dioperasi. Toh tidak ada jaminan saya akan terus hidup,” ujarnya. Tetapi, di balik ucapan itu, saya tahu kakak saya lebih merisaukan beban biaya yang harus saya pikul. Dia tahu saya tidak akan mampu menanggung biaya sebesar itu.
Pagi dini hari itu, ketika saya tak kunjung mampu menemukan jalan keluar, saya lalu berlutut dan berdoa. Di tengah kesunyian pagi, saya mendengar begitu jelas doa yang saya panjatkan. “Tuhan, sebagai manusia, akal pikiranku sudah tidak mampu memecahkan masalah ini. Karena itu, pada pagi hari ini, aku berserah dan memohon Kepada-Mu. Kiranya Tuhan, Engkau membuka jalan agar saya bisa menemukan jalan keluar dari persoalan ini.” Setelah itu saya terlelap dalam kelelahan fisik dan mental.
Pagi hari, dari sejak bangun, mandi, sarapan, sampai perjalanan menuju kantor otak saya kembali bekerja. Mencari pemecahan soal biaya operasi. Dari mana saya mendapatkan uang? Adakah Tuhan mendengarkan doa saya? Pikiran dan hati saya bercabang. Di satu sisi saya sudah berserah dan yakin Tuhan akan membuka jalan, namun di lain sisi rupanya iman saya tidak cukup kuat sehingga masih saja gundah.
Di tengah situasi seperti itu, handphone saya berdering. Di ujung telepon terdengar suara sahabat saya yang bekerja di sebuah perusahaan public relations. Dengan suara memohon dia meminta kesediaan saya menjadi pembicara dalam sebuah workshop di sebuah bank pemerintah. Dia mengatakan terpaksa menelepon saya karena “keadaan darurat”. Pembicara yang seharusnya tampil besok, mendadak berhalangan. Dia memohon saya dapat menggantikannya.
Karena hari Sabtu saya libur, saya menyanggupi permintaan sahabat saya itu. Singkat kata, semua berjalan lancar. Acara worskshop itu sukses. Sahabat saya tak henti-henti mengucapkan terima kasih. Apalagi, katanya, para peserta puas. Bahkan pihak bank meminta agar saya bisa menjadi pembicara lagi untuk acara-acara mereka yang lain.
Sebelum meninggalkan tempat workshop, teman saya memberi saya amplop berisi honor sebagai pembicara. Sungguh tak terpikirkan sebelumnya soal honor ini. Saya betul-betul hanya berniat menyelamatkan sahabat saya itu. Tapi sahabat saya memohon agar saya mau menerimanya.
Di tengah perjalanan pulang hati saya masih tetap risau. Rasanya tidak enak menerima honor dari sahabat sendiri untuk pertolongan yang menurut saya sudah seharusnya saya lakukan sebagai sahabat. Tapi akhirnya saya berdamai dengan hati saya dan mencoba memahami jalan pikiran sahabat saya itu.
Malam hari baru saya berani membuka amplop tersebut. Betapa terkejutnya saya melihat angka rupiah yang tercantum di selembar cek di dalam amplop itu. Jumlahnya sama persis dengan biaya operasi kakak saya! Tidak kurang dan tidak lebih satu sen pun. Sama persis!
Mata saya berkaca-kaca. Tuhan, Engkau memang luar biasa. Engkau Maha Besar. Dengan cara-Mu Engkau menyelesaikan persoalanku. Bahkan dengan cara yang tidak terduga sekalipun. Cara yang sungguh ajaib.
Esoknya cek tersebut saya serahkan langsung ke rumah sakit. Setelah operasi, saya ceritakan kejadian tersebut kepada kakak saya. Dia hanya bisa menangis dan memuji kebesaran Tuhan.
Tidak cukup sampai di situ. Tuhan rupanya masih ingin menunjukkan kembali kebesaran-Nya. Tanpa sepengetahuan saya, Surya Paloh, pemilik harian Media Indonesia tempat saya bekerja, suatu malam datang menengok kakak saya di rumah sakit. Padahal selama ini saya tidak pernah bercerita soal kakak saya.
Saya baru tahu kehadiran Surya Paloh dari cerita kakak saya esok harinya. Dalam kunjungannya ke rumah sakit malam itu, Surya Paloh juga memutuskan semua biaya perawatan kakak saya, berapa pun dan sampai kapan pun, akan dia tanggung. Tuhan Maha Besar. 

Keindahan Memberi

Kamis, 30 Juni 2011 17:45:00 WIB

kick andy“Selamat siang Pak Andy. Saya Puri. Saya ingin mengucapkan terima kasih atas bantuannya bagi operasi tumor otak saya. Semoga Tuhan memberkati Bapak. Puri”. SMS itu saya terima suatu siang. Saya belum pernah bertemu Puri. Saya kenal namanya melalui dr. Eka Julianta, ahli bedah syaraf di RS Siloam Gleneagles Karawaci. Begitu juga wajahnya saya kenali hanya melalui foto yang dikirim dr. Eka. Di foto itu tampak seorang gadis tergolek di ranjang rumah sakit dengan kepala masih dibalut perban. Dia baru selesai dioperasi dan masih mengenakan baju rumah sakit. Ada senyum tipis di bibirnya. Itu saja.
Pada saat itu dr Eka melaporkan operasi terhadap Puri berjalan baik walau tidak seideal yang diharapkan tim dokter. Pasalnya, kondisi Puri sudah sangat berat karena tumor otaknya selama bertahun-tahun dibiarkan tanpa pengobatan memadai. Kemiskinan dan persoalan keluarga menyebabkan penyakit Puri tidak mendapat penanganan semestinya.
Selang beberapa hari setelah menerima foto dari dr Eka, saya mendapat SMS dari ayah Puri. Dia mengucapkan terima kasih karena saya sudah membantu mencari biaya operasi bagi putrinya. Saya katakan saya hanya “jembatan” untuk mempertemukan Puri dengan orang yang bisa membantu dia. Kemudian saya menyebut nama orang yang memberi bantuan biaya operasi untuk Puri.
Setelah itu, saya tidak lagi mendapat kabar tentang Puri. Saya sendiri kembali tenggelam dalam kesibukan. Saya baru teringat kembali pada gadis berusia 21 tahun itu ketika menerima SMS darinya. Pesan singkat itu mengingatkan saya kembali pada kasus yang dihadapi Puri tiga bulan lalu.
Waktu itu, saya mendapat SMS dari dr Eka yang mengabarkan ada pasien bernama Puri membutuhkan bantuan. “Semua biaya dokter gratis. Puri hanya perlu biaya obat-obatan,” tulis dr Eka dalam pesan singkatnya. Dia lalu menyebut jumlah biaya yang dibutuhkan. “Kondisinya sudah gawat. Perlu segera dioperasi. Jika terlambat nyawanya terancam,” dokter Eka menambahkan.
Walau biaya dokter dibebaskan dan rumah sakit tidak perlu dibayar sepenuhnya, biaya operasi tumor otak tetaplah tidak murah, sekitar Rp 40 juta. Setelah menerima SMS dr Eka, saya mencoba memikirkan kepada siapa saya bisa meminta bantuan dana untuk operasi Puri.
Pada waktu itu, yang terlintas wajah seorang pengusaha jamu asal Jawa Tengah. Tapi saya merasa tidak enak hati untuk menghubunginya, mengingat selama ini saya sudah sering meminta bantuan sang pengusaha jamu ini. Terakhir saya meminta bantuannya untuk membelikan kacamata baca untuk anak-anak SD Kampung Dadap, Tangerang, yang baru saja menjalani pemeriksaan mata gratis yang saya selenggarakan di kampung itu. Maka, keinginan untuk meminta bantuan sang pengusaha tersebut saya batalkan. Ada beberapa nama pengusaha dan yayasan yang kemudian muncul dikepala saya, yang saya harapkan bisa membantu biaya operasi Puri. Saya akan menghubungi satu per satu besok.
Boleh percaya boleh tidak, esok pagi, ketika baru bangun tidur, di layar handphone saya ada tanda misscalled empat kali dari pengusaha jamu kenalan saya. Ketika saya telepon balik, dia mengatakan baru saja melihat promo Majalah Kick Andy di Metro TV dan ingin memasang iklan produk jamunya di majalah tersebut. Itu alasan dia menelepon saya pagi-pagi.
Di ujung pembicaraan, secara spontan saya menceritakan kisah Puri yang membutuhkan biaya untuk operasi. Kepadanya saya jelaskan saat itu tim dokter sedang berburu dengan waktu mengingat kondisi Puri cukup parah. Tanpa banyak tanya, dia langsung menyatakan setuju membantu biaya operasi. “Berapa pun biayanya, saya yang tanggung,” ujarnya.
Dia lalu berjanji akan meminta stafnya menindaklanjuti pembicaraan kami itu. Pada saat yang sama terlintas di kepala saya wajah Priska, perempuan tunanetra di Semarang. Priska pernah mendapat penghargaan Kick Andy Hero Award. Dalam keterbatasannya, bersama suaminya Priska menampung dan mengasuh lebih dari seratus anak yatim piatu, anak jalanan, dan anak-anak cacat. Padahal secara fisik dan ekonomi, Priska justru seharusnya yang dibantu.
Kepada sang pengusaha, saya ceritakan kisah Priska. “Apa mungkin Priska juga dibantu?” Tanya saya. Dengan bersemangat sang pengusaha meminta alamat dan nomor telepon Priska. Seminggu kemudian saya mendapat  kabar Priska sudah menerima bantuan Rp 100 juta. Tuhan Maha Besar.
Jujur saja, saat meminta bantuan untuk Puri dan Priska waktu itu, saya merasa tidak enak hati terhadap pengusaha jamu kenalan saya itu. Kepadanya saya berkali-kali meminta maaf karena sering merepotkan dia dengan permintaan-permintaan bantuan untuk orang-orang yang membutuhkan.
Saya semakin merasa tidak enak karena selama ini pengusaha tersebut meminta saya untuk menjadi bintang iklan produk jamunya. Tetapi saya selalu menolak. Selama setahun lebih dia terus membujuk untuk meyakinkan saya bahwa iklan promo tersebut akan disesuaikan dengan misi Kick Andy dan tidak dibuat dengan cara yang komersial. Tapi dengan cara halus saya selalu menghindar.
Bahkan ketika perusahaan tersebut berhasil mengajak mantan wakil presiden dan seorang tokoh ekonomi membintangi produk jamu tersebut, dia kembali “merayu” kesediaan saya. “Saya akan buatkan iklan yang berkelas untuk Anda. Seperti yang saya buat sekarang ini,” ujarnya sambil menunjuk iklan yang mereka buat untuk dua tokoh tadi. Saya tetap mengelak dan mengatakan bahwa sejak awal saya sudah berkomitmen pada diri saya untuk tidak menjadi iklan untuk produk komersial. Saya ingin agar saya dan Kick Andy menjadi milik semua orang. Dengan demikian saya akan lebih leluasa menjalankan kegiatan sosial melalui Kick Andy Foundation.
Nah, dalam situasi selalu menolak permintaannya, sebaliknya saya justru sering meminta bantuannya untuk menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan. Selain merasa tidak enak hati, saya juga khawatir permintaan saya yang terlalu sering itu akan menjadi beban baginya.
“Salah kalau Anda menganggap saya terbebani,” ujar sang pengusaha ketika saya menyampaikan kekhawatiran tersebut. “Bagi saya permintaan Anda itu justru sebuah opportunity. Tidak semua orang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk membantu orang lain,” ujarnya. “Melalui Anda, Tuhan memberi saya kesempatan untuk menolong orang,” dia menambahkan.
Pengusaha tersebut lalu mengatakan dia justru berterima kasih kepada saya karena memberi peluang untuk membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan. “Mungkin orang lain merasa terbebani, tapi saya sebaliknya. Saya merasa ini kesempatan yang diberikan Tuhan kepada saya untuk berbuat baik.”
Saya tercenung mendengar penjelasannya. Tidak terpikirkan ada orang yang merasa menolong orang lain adalah kesempatan yang diberikan Tuhan kepadanya. Kesempatan untuk berbuat baik pada orang-orang yang membutuhkan. Sekali lagi saya mendapat pelajaran tentang  keindahan memberi. Terima kasih Tuhan.
SUMBER:

Jumat, 09 September 2011

Rencana Tuhan

Senin, 22 Agustus 2011 21:19:00 WIB
kick andy“Maaf salah sambung”. SMS itu masuk beberapa saat setelah saya mengirim SMS untuk seorang teman. Jawaban yang saya terima dari teman itu membuat saya bertanya-tanya. Mengapa teman saya mengatakan salah sambung? Merasa tidak enak, saya mengirim SMS lagi untuk menyatakan permintaan maaf. Lalu saya cantumkan nama saya di akhir SMS dengan harapan jika itu benar nomor telepon teman saya, maka dia akan menyadari yang mengirim SMS tadi itu saya. Tak lama kemudian handphone saya berdering. Di layar muncul nomor teman saya. “Maaf Pak Andy, nama saya Wahidin. Saya bekerja di Imigrasi,” ujar suara di seberang sana. Ternyata nomor tersebut memang bukan nomor telepon teman saya. Setelah sedikit berbasa-basi saya meminta maaf lalu menutup pembicaraan.
Tidak ada yang istimewa dari peristiwa itu. Saya hanya heran mengapa bisa salah mencatat nomor telepon teman. Tapi sebulan kemudian saya mendapat SMS dari Pak Wahidin. Setelah mengingatkan bahwa SMS saya pernah nyasar ke handphone-nya, dia kemudian menginformasikan  di sebuah desa di Subang ada seorang anak, usianya 9 tahun, yang selama ini menanggung derita karena mengalami kelainan di tubuhnya. Anak itu tidak punya anus. Kalau buang air besar melalui kemaluannya. “Mungkin Pak Andy bisa membantu,” tulis Pak Wahidin sembari menyertakan nama, alamat, dan nomor kontak anak tersebut.
Saya bilang saya tidak berjanji, tetapi akan berusaha mencari orang yang bisa membantu anak tersebut. Setelah itu, saya mengirim kisah anak tersebut via SMS ke seorang pimpinan sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan. Esoknya saya mendapat jawaban, “Pak Andy, saya masih di Italia. Bisakah saya dapatkan data lebih lengkap dari anak itu? Sesampai di Jakarta akan saya diskusikan dengan tim dokter.”
Dua minggu kemudian, tim Kick Andy sudah menjemput anak tersebut dan membawanya ke Jakarta. Pihak rumah sakit setuju untuk melakukan operasi. Untuk tahap pertama, akan dibuatkan “lubang pembuangan” di perut. Setelah itu baru dibuatkan anus untuk pembuangan permanen.
Tiga hari kemudian, saya menerima SMS dari pimpinan rumah sakit tersebut. “Alhamdulilah operasi berjalan baik. Semoga semuanya berjalan sesuai rencana”. Sejenak saya terhenyak membaca SMS tersebut. Ada rasa haru yang memenuhi relung hati. “Tuhan, terima kasih,” gumam saya dalam hati. Sungguh saya tidak menyangka semua berjalan begitu cepat dan lancar. Bahkan pihak rumah sakit memperlakukan Ani sangat istimewa. Semua kebutuhan Ani dan ayahnya selama di Jakarta semuanya ditanggung rumah sakit.
Malamnya saya merenung. Ah, kalau dipikir seringkali rencana Tuhan sulit dipahami akal manusia. Termasuk sulit bagi saya memahami mengapa saya salah mencatat nomor handphone teman saya. Sulit memahami mengapa Pak Wahidin yang saya kenal gara-gara salah sambung menginformaskan kondisi seorang anak nun jauh di sebuah desa
kecil di Subang yang membutuhkan pertolongan.  Juga sulit dipahami oleh akal manusia respon rumah sakit yang bersedia melakukan operasi gratis. Padahal, operasi semacam itu tentu membutuhkan biaya yang besar. Pimpinan rumah sakit itupun baru saya kenal dan kami baru sekali bertemu.
Akal manusia memang tidak akan pernah mampu mencerna rencana Tuhan. Rencana Tuhan hanya mampu dicerna melalui iman. Karena itu saya meyakini semua yang terjadi itu bukan sesuatu yang kebetulan. Sejak saya salah mencatat nomor telepon teman, sebenarnya Tuhan sudah “mengatur” untuk mempertemukan saya dengan Ani. Kemudian melalui SMS “nyasar”, Tuhan menghubungkan saya dengan Pak Wahidin. Melalui Pak Wahidin Tuhan memberi tahu ada seorang anak di Subang yang membutuhkan bantuan. Kemudian Tuhan “memerintahkan” saya untuk menghubungi pimpinan rumah sakit tersebut. Lalu semuanya berakhir dengan operasi oleh tim dokter terhadap Ani.
Sejak awal, Tuhan sudah mengatur semuanya untuk Ani. Pak Wahidin, pimpinan rumah sakit, dokter-dokter yang mengoperasi, dan semua pihak yang ikut membantu -- termasuk saya -- hanya mendapat “tugas” untuk menolong Ani.  Setelah memahami semua itu, saya lalu tersenyum.  “Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengikutsertakan aku untuk menjalankan suatu misi mulia.”
Sumber: 

MANAJEMEN WAKTU

Suatu hari, seorang ahli 'Manajemen Waktu' berbicara didepan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para siswanya. Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia berkata: "Baiklah, sekarang waktunya kuis " Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya diatas meja. Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu kedalam toples.

Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk kedalamnya, dia bertanya: "Apakah toples ini sudah penuh?" Semua siswanya serentak menjawab,"Sudah! "

Kemudian dia berkata, Benarkah? Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang- guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu. Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi: "Apakah toples ini sudah penuh? Kali ini para siswanya hanya tertegun "Mungkin belum!", salah satu dari siswanya menjawab. "Bagus!" jawabnya.

Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan. Sekali lagi dia bertanya, Apakah toples ini sudah penuh? "Belum!" serentak para siswanya menjawab Sekali lagi dia berkata, "Bagus!" Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas. Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kepada para siswanya dan bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?" Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!" "Bukan!", jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa : JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.

Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu. Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya. Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu".

Sumber: Milis

Rabu, 07 September 2011

Buku Wirausaha "Sukses di Usia Muda" (1) Mengepakkan Sayap Bisnis dari Titik Nol

SELASA, 20 APRIL 2010 | 01:33 WITA | 23324 Hits


Amran Sulaiman, Amirullah Abbas, Mawardi Jafar
TIDAK banyak orang mampu menggali ide kemudian sukses menjadi entrepreneur atau wirausaha, apalagi di usia yang terbilang masih muda.

Berawal dari titik nol, delapan entrepreneur muda Makassar mendobrak keterbatasan menjadi keberhasilan. Dari buku terbitan eLSIM berjudul Sukses di Usia Muda, Harian Fajar menurunkan nukilan sosok dan kiprah wirausahawan Makassar. Berikut tulisan pertama kesuksesan mereka.

KESUKSESAN hak semua orang dan bukan monopoli orang tertentu. Prinsip ini menjadi pegangan pengusaha berdarah Bugis, Amran Sulaiman, mencapai kesuksesannya yang bermula sebagai peneliti kemudian berkembang menjadi pengusaha pembasmi hama tikus temuannya sendiri.

Tujuh perusahaan kini dipimpin ayah empat anak kelahiran Bone, 27 April 1968 itu. PT Tiran Indonesia, CV Empos Tiran, CV Profita Lestari, CV Empos, PT Amrul Nadin, PT Tiran Sulawesi, dan PT Titan Bombana berhasil dibawanya pada titik kesuksesan sebagai implementasi bahwa sukses milik semua orang.

Perusahaan itu tidak terbangun begitu saja dan bukan warisan orangtua. Butuh modal kedisiplinan, keyakinan, kreasi, ketekunan, serta optimisme yang tinggi untuk membesarkannya. Makna kejujuran senantiasa dicontohkan kepada karyawannya untuk membesarkan usaha yang dimulai dari nol.

Pergulatan hidup yang cukup panjang membawanya pada satu masa menaklukkan kegagalan. Amran memulai usahanya dengan model industri rumah tangga. Perusahaan bernama CV Empo Tiran yang didirikan 1996 memproduksi alat serta racun hama tikus dan mendistribusikannya sendiri.

Racun tikus Tiran 58PS dan alat pembasmi tikus Alpostran yang diproduksinya merupakan hasil temuannya sendiri. Temuan yang sangat bermanfaat bagi petani itu juga yang mengantarnya menerima Satyalencana dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, Juli 2009 lalu di Palembang.

Amran meneliti Tiran 58 PS dan Alpostran sejak Desember 1989 hingga 1992. Ujicoba dalam kurun waktu 1992-1998 menunjukkan hasil memuaskan berupa respons petani yang tinggi.

Permintaan terus meningkat mulai hanya seratus dus dari 15 provinsi pada 2003 tumbuh menjadi 2000 dus, 20 ribu dus, hingga 40 ribu dus. Temuannya kini bahkan sudah dimanfaatkan petani pada 168 kabupaten yang tersebar di 26 provinsi se Indonesia.

Mengenai nama Tiran dan Alpostran, sebenarnya merupakan singkatan yang dirancangnya sendiri. Tiran kepanjangan "Tikus Diracun Amran" dan Alpostran "Alat Empos Tikusnya Amran". Keduanya racun tikus menggunakan sistem pengasapan.

Kendati hanya industri rumah tangga, CV Empo Tiran yang pertama kali didirikan Amran menyerap tenaga kerja 300-400 orang saat berproduksi. Kapasitas produksinya sekira 40 ribu batang selama dua sampai tiga bulan.

Menjadi peneliti sekaligus wirausaha sebenarnya bukanlah cita-cita Amran ketika muda. Pengalaman getir yang dirasakannya membentuk pandangan dan pemikirannya melihat sosok tentara sebagai gambaran manusia ideal. Maka sejak kecil, suami dari Martati itu rajin berolahraga, syarat menjadi perwira.

Namun, impian kadang tidak sesuai kenyataan. Tamat SMA di Bone, dia mendaftar pendidikan menjadi tentara juga ikut tes Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) pada Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin.

Kedua pilihannya itu menjadi simalakama tatkala pengumuman menyatakan Amran lulus mengikuti pendidikan menjadi tentara dan tes di Unhas. Disebut simalakama, karena tentara merupakan cita-cita yang sudah disiapkannya selama enam tahun dan di sisi lain, ibunya tidak merestui menjadi tentara.

Impian menjadi tentara harus dikuburnya demi membahagiakan sang bunda. Baginya, tak ada artinya cita-cita besar terkabul tanpa restu sang Bunda. Kemantapan hati menetapkan pilihan kuliah di Fakultas Pertanian mengantarnya menjadi peneliti dan pengusaha muda sukses.

Wirausaha yang sudah muncul sejak kecil juga membuat Amirullah Abbas kini memiliki aset hingga Rp 164 miliar. Direktur Utama PT Andatu Lestary yang bergerak di bidang pertambangan dan perkebunan sawit ini bukan berasal dari keluarga kaya nan terpandang.

Ayah pengusaha kelahiran 21 Januari 1975 itu hanya seorang petani di Desa Tamanyeleng, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa. Ibunya juga hanya seorang ibu rumah tangga. Namun didikan kedua orangtuanya membuatnya lebih mandiri sejak kecil.

Kewirausahaan sudah dilakoni Amirullah sejak kecil dengan menanam sayuran lalu menjualnya ke pasar. Bakat ini tak disadarinya, karena dia merasa senang mendapatkan uang dari usaha sendiri, serta orangtuanya mengarahkan agar menjadi karyawan sukses di perusahaan atau paling tidak menjadi pegawai negeri sipil. Dia juga pernah bermimpi menjadi polisi meskipun akhirnya harus terkubur.

Tamat dari MAN 1 Ujungpandang tahun 1994, Amir memilih bekerja di perusahaan kayu di Sulawesi Tenggara, PT Tridaya. Keuletan, kerja keras, dan profesionalisme mendorong kariernya melejit cepat. Dia juga pandai mengatur waktu merampungkan kuliah di STIE Makassar.

Suasana yang mulai tidak nyaman di tempat kerja yang sudah digelutinya selama tujuh tahun membuatnya memilih; bertahan atau berhenti. Beruntung selama menjadi karyawan Amirullah cakap membangun relasi di luar Sulawesi.

Otak bisnisnya mulai jalan. Dia melobi relasinya di Jakarta agar diberi alat berat dan dibayar dengan kayu. Trik bisnisnya itu jitu juga. Kurang dari enam bulan, Amirullah sudah memiliki lebih dari sepuluh unit alat berat dan terus berkembang hingga omzetnya tumbuh positif.

Cobaan pernah dialaminya dan membuatnya harus banting setir memilih bidang usaha lain. Kebijakan pemerintah menyelamatkan hutan tidak hanya memberantas illegal logging, tetapi juga membuat bisnis legal logging terganggu, hingga akhirnya dia harus menutup perusahaan kayunya.

Jiwa entrepreneurship membuatnya terus bangkit dan tidak larut dalam kegagalan mempertahankan usaha. Bermodalkan alat berat, Amirullah membuka usaha tambang. Kebetulan dia memiliki lahan yang di dalamnya terdapat bijih nikel dan batubara.

Tahun 2006 hingga 2008 merupakan masa emas komoditi nikel. Banyak permintaan dari dalam dan luar negeri. Usahanya memang padat modal, tetapi pasarnya sangat bagus dan harga produksinya tinggi.

Hanya saja, manisnya keuntungan dari bisnis bijih nikel tidak selamanya bertahan. Pasar nikel menurun pada 2008 akibat krisis global hingga akhirnya pada 2009 usaha pertambangannya ditutup sementara karena tingginya biaya produksi yang berbanding terbalik dengan omzet penjualan.

Tapi di sisi lain, lahan tambang batubaranya di Kutai Kertanegara, Kalimantan justru membuahkan keberuntungan. Harga yang tinggi dan permintaan dari China dan India yang besar tak dilewatkannya begitu saja. Didukung modal dan alat berat yang masih produktif, Amirullah mengeksploitasi lokasi tambang miliknya yang telah mendapat izin penambangan.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Makassar itu kini memiliki lebih dari 100 unit alat berat. Dia juga mengepakkan sayap bisnis dengan ekspansi usaha perkebunan kelapa sawit di Morowali, perbatasan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat.

Kepercayaan selalu diberikan Amirullah kepada karyawannya. Kunjungan ke lokasi tambang di Kalimantan pun jarang dilakukannya. Alasannya sederhana, dia tak ingin mengintervensi kebijakan karyawan yang sudah diberi kepercayaan penuh.

Ada lebih dari seribu nyawa menggantungkan hidupnya pada PT Andatu Lestary yang didirikannya. Ini juga yang menjadi alasan mengapa Amirullah memberi kepercayaan penuh kepada karyawannya. Setiap karyawan pasti akan memberikan hasil terbaik.

Amirullah mengaku sukses menjadi penambang kelas besar tidak datang begitu saja. Selain dukungan keluarga, kejujuran dan kegigihan dalam bekerja menjadi modal utamanya. Prinsip ini ditanamkan orangtuanya yang petani sejak kecil.

Disadarinya, orangtuanya tidak memberi modal berupa harta benda, tapi nasihat pentingnya kejujuran. Nasihat inilah yang membuatnya sukses seperti sekarang. Amir berpesan agar tidak cepat berputus asa menggeluti kehidupan.

Talenta entrepreneurship tidak hanya didominasi kaum laki-laki saja. Andi Indrimilacahaya, perempuan kelahiran Makassar, 21 Juli 1966, memiliki talenta melalui kecerdasan mendesain gambar.

Peluang menggeliatnya tren mode baju rajutan di kalangan kaum muda pernah ditangkapnya dengan membuka bisnis wirausaha. Dia terjun langsung berburu ke Kota Bandung mencari orang yang akan memasarkan barangnya. Namun, karena keterbatasan modal, sehingga usaha itu tidak berkembang.

Alumni Fakultas Ekonomi Unhas tahun 1991 yang pernah mencoba menjadi karyawan PT Pertamina ini lalu merintis usaha lembaga pendidikan Bahasa Inggris. Pada 12 Maret 1996, Briton International English School didirikannya.

Usaha ini dirintis berdasarkan pengalamannya saat mendalami Bahasa Inggris untuk bersaing di tengah lautan pencari kerja di Jakarta. Tanpa kemampuan bahasa internasional, seseorang sangat sulit berkompetisi.

Saat pertama kali membuka usaha, Indri hanya mempunyai satu staf administrasi dan tujuh siswa di kelas pertamanya. Modal keberanian serta visi yang sangat kuat membuat usahanya terus melaju.

Usaha lembaga kursus memiliki karakteristik berbeda dibanding usaha lain yang fokus mengejar profit. Bisnis jasa pendidikan sangat dekat dengan kepentingan publik. Produk yang ditawarkan sangat mengandalkan kualitas.

Menjadi entrepreneur sejati memiliki kemampuan memaksimalkan sumber daya yang terbatas. Wirausahawan juga harus cerdas membidik potensi pasar. Indri memilih kelas menengah sebagai segmennya.

Getirnya hidup memulai usaha juga pernah dialami bos Mawar Advertising, Mawardi Jafar. Berdagang penganan jalangkote yang membuatnya terluka di bagian punggung karena terkena kawat berduri ketika dikejar satpam hingga memulung pernah dilakukannya ketika masih kecil.

Jiwa wirausaha yang telah tertempa sejak kecil dan beberapa tahun berada dalam kondisi usaha yang kembang kempis, Mawardi sukses berkarier di bidang periklanan. Dia mendapat kepercayaan mengelola pembuatan spanduk iklan dan segala promosi outdoor PT Astra International Honda Sales Operation.

Mulanya, dia hanya merekrut seorang karyawan kemudian terus bertambah seiring perkembangan usahanya. Mawar Advertising merupakan perusahaan perintis bisnis digital printing di Makassar.

Kemampuannya membaca peluang pasar serta talenta mengelola ceruk pasar sangat menonjol. Motivasinya untuk belajar juga sangat tinggi. Berbagai macam ilmu seperti manajemen, pemasaran, strategi bisnis diperolehnya dari berbagai seminar. Pengidola Bob Sadino ini pernah ke China mengikuti eksibisi yang dianggapnya penting bagi pengembangan diri dan usahanya.

Kini, Mawardi telah menjadi direktur utama pada tiga perusahaan yang dirintisnya. Mawardi Advertising bergerak di bidang percetakan digital printing, Mitra Pariwara Nusantara menjadi penyalur alat-alat percetakan digital bagi perusahaan percetakan yang tumbuh bak jamur di musim hujan, serta Daeng Indonesia memproduksi t-shirt bercorak lokal untuk memperkenalkan alam dan budaya Sulawesi Selatan. (harifuddin)

Rabu, 24 Agustus 2011

Bulan Ini Pengemis Tambah Kaya?

Bulan Ini Pengemis Tambah Kaya?

HL | 24 August 2011 | 11:27 307 47 5 dari 9 Kompasianer menilai inspiratif



1314169383416278416
Istirahat sejenak setelah lelah mengemis seharian?

Hampir setiap tahun pemerintah Indonesia diperhadapkan pada situasi pelik masalah pengemis jalanan. Hampir tiap bulan Ramadhan pemerintah dengan sigapnya “mengurusi” para pengemis. Sebagian masyarakat juga dengan sukarelanya memberikan “sumbangan” bagi para pengemis tersebut.  Di beberapa kota, pengemis selalu menjadi momok menakutkan bagi keindahan kota. Dan oleh karenanya pemerintah berusaha “menyingkirkan” mereka dari pusat-pusat kota. Tapi semakin mereka digusur, semakin banyak yang bermunculan. Fenomena ini menjadi fakta menggeletik untuk ditelaah. Pertanyaannya adalah:  kenapa para pengemis ini sangat menyukai pekerjaan mengemis?
13141596281204138459Nah, pemerintah Indonesia mulai tanggal 15 Agustus lalu sampai lebaran tiba katanya akan dengan tegas melakukan penjaringan kepada para pengemis yang membawa anak-anak di jalanan. Kalau saja dalam razia yang dilakukan ditemukan bukti-bukti bahwa anak-anak sewaan dipergunakan untuk mengemis, maka pemerintah akan memprosesnya sebagai tindakan pidana dengan sangsi hukum UU23/2002 tentang perlindungan anak.
Lalu bagaimana dengan para pengemis dewasa yang hanya membawa anaknya sendiri, atau dirinya sendiri? Mereka akan diserahkan ke panti asuhan atau panti sosial untuk mendapat binaan dengan harapan tidak akan lagi menekuni aktifitas sebagai pengemis. Ini sepertinya sudah menjadi tugas tahunan pemerintah. Masalahnya kebanyakan setelah mendapatkan pembinaan, toh akhirnya mereka kembali ke jalanan sebagai pengemis. Di Manado, hari ini ditertibkan, besok mereka kembali sebagai pengemis. Saya lihat itu berulangkali.
Lalu kenapa? Ada apa dengan pekerjaan ini? Apakah pekerjaan ini membuat seseorang menjadi kaya?
Jawabannya sungguh mengejutkan. Bahwa ada pengemis yang bahkan bisa lebih kaya dari PNS atau Manager perusahaan menengah bawah sekalipun. Ini adalah “pekerjaan” yang menggiurkan.
Jangan kita kira bahwa pendapatan para pengemis yang berpakaian lusuh dan kotor, serta berpenampilan menjijikkan itu pastilah hanya cukup untuk makan sehari-hari. Bahkan ada yang mengira bahwa pendapatan itu tidak cukup untuk membuat mereka kenyang. Tapi siapa menyangka bahwa banyak di antara mereka yang penghasilannya mencapai jutaan rupiah dalam sebulan?  Bagaimana mungkin?
Fenomena pengemis yang kaya ini bukan hanya di negara maju seperti di Amerika, Inggris dan negara-negara Arab, tapi juga di Indonesia. Apalagi ketika para pengemis di negeri ini mendapat banyak sedekah di bulan Ramadhan, semakin bertambah-tambahlah “lumbung” mereka. Luar biasa. Apakah kita sudah siap beralih profesi menjadi pengemis? Jangan dulu tergesa-gesa…… Supaya lebih menggiurkan mari kita lihat beberapa survey dan pendapat berikut ini.
13141597211395673538
Ganteng-ganteng ada juga yang punya profesi sebagai pengemis (From American Homeless site
Amerika memang adalah negara super maju, baik teknologinya maupun ekonominya. Tapi akhir-akhir ini perekonomian Amerika semakin berjalan downwards. CNN beberapa hari lalu menyiarkan tentang krisis ekonomi Amerika yang luar biasa, dan itu makin terlihat dengan antrinya ribuan orang yang ingin mencari keberuntungan di salah satu job fair bertajuk For the People Jobs Initiative di Georgia Atlanta. Ada setidaknya 90 perusahaan yang ikut ambil bagian dalam menjaring karyawan itu. Tapi, yang datang melamar ribuan orang. Beberapa jalan sampai ditutup gara-gara antrian yang teramat panjang itu. Pengangguran pun semakin meningkat tak terelakkan.
Seiring dengan ekonomi yang lagi down, selain pengangguran yang meningkat juga menyebabkan peningkatan jumlah pengemis di daerah-daerah perkotaan. Jangan pikir New York itu kota kaya, maka semua penduduknya pasti kaya raya. Di sudut-sudut jalan banyak ditemukan para pengemis duduk minta-minta. Bagi mereka mungkin mengemis adalah cara paling efisien untuk menghasilkan uang. Ada pasangan pengemis bernama Jason Pancoast dan Elizabeth Johnson yang menggambarkan diri mereka sebagai ‘pengemis kaya’. Mereka berasal dari negara bagian (state) Oregon. Menurut mereka karena kegigihannya dalam mengemis, mereka berhasil menghasilkan 30.000-40.000USD atau sekitar Rp.328.000.000 dalam setahun. Sehari mereka bisa mendapatkan sekitar 20-50 USD atau kalau lagi ramai bisa mencapai 300 USD, bahkan pernah mereka mendapatkan 800 USD (hampir 7 juta) dalam satu hari! Jauh lebih tinggi dari penghasilan Manager-manager kelas McDonald, Dunkin Donuts, Burger King atau usaha-usaha sejenis itu.
Di Sydney Australia, pekerjaan mengemis dilakukan orang-oreang yang tidak punya rumah atau tunawisma. Mereka rela duduk berlama-lama menengadahkan tangannya hingga 16 jam sehari. Biasanya para pengemis senang mangkal di jalanan yang ramai seperti di daerah George and Market CBD. Pekerjaan ini terbukti mampu menghasilkan uang yang banyak, bisa mencapai 400 AUS$ dalam sehari atau setara dengan Rp.3.600.000,-
Arab merupakan salah satu negara kaya dan terkenal makmur. Tapi walaupun demikian, di negara ini bukan berarti bebas dari pengemis. Di sana pengemis memanfaatkan moment saat orang-orang berbondong-bondong datang ke mesjid untuk shalat. Menurut catatan jika sedang beruntung dalam sehari mereka mendapatkan uang sebanyak 300 Riyal atau setara Rp.700.000. Dalam sebulan rata-rata mereka bisa mengumpulkan sampai 19.000 Riyal atau setara dengan Rp.220.000.000!
Bagaimana dengan di Indonesia? Jangan kaget. Ternyata pendapatan para pengemis tertentu di negara ini juga cukup mengejutkan. Tak kalah dengan “saingan” mereka para pengemis di negara maju. Ada kesaksian dari seorang pengemis kaya asal Surabaya bahwa ia memiliki 2 sepeda motor, sebuah mobil Honda CRV, dan empat rumah! Semuanya diperoleh dari hasil mengemis. Tapi ia ternyata mempunyai kedudukan sebagai ‘boss pengemis’, artinya ia mempekerjakan beberapa pengemis jalanan lainnya (mungkin termasuk anak-anak?).
Ia tidak bekerja sendirian untuk mengais rejeki, tapi dengan mempekerjakan beberapa pengemis jalanan ternyata hasilnya cukup efektif. Ia memperoleh sekitar Rp.300.000 perhari yang berarti Rp.9.000.000 perbulan. Bahkan ibu saya yang sudah dinas hampir 30 tahun sebagai PNS, tidak memperoleh pendapatan sebanyak itu.
Secara iseng, di Manado waktu lalu saya sempat bertanya kepada seorang pengemis jalanan. Ibu ini ternyata bekerja selalu bersama anak perempuan yang masih kecil. Usia sekolah, sangat disayangkan ternyata apa lacur waktunya hanya dipakai buat mengemis. Nah, usaha mengemis yang menjamur di pusat kota Manado rupa-rupanya  semakin dimodifikasi. Tidak lagi hanya duduk diam meminta-minta sedekah. Tapi kini mereka jualan kacang bungkus kecil seharga Rp.1000,- (ada yang membelinya dengan Rp.2000) Sasaran mereka adalah rumah-rumah makan, kedai-kedai dan di depan supermarket-supermarket.
Saya menjulukinya sebagai ’semi mengemis’ sebab walau dengan alasan menjual kacang, tetap namanya adalah mengemis. Hampir selalu kacang yang dijual tidak diambil oleh si pembeli, mereka hanya memberikan uang! Lalu pendapatan mereka bagaimana? Oooh, sungguh mengasyikkan! Katanya dalam sehari mereka berdua masing-masing mendapatkan minimal Rp.40.000 jadi dikalikan 2 = Rp.80.000. Kalau seminggu (mereka ‘bekerja’ 7 hari) berarti mereka mendapatkan Rp.80.000 x 7 = Rp.560.000,- Nah, kalau sebulan berarti uang yang terkumpul kurang lebih sebanyak Rp.2.240.000,- sebuah angka yang fantastis untuk ukuran pengemis jalanan. Lebih banyak dari rata-rata gaji seorang supervisor di kota Manado.
Memang di mata sebagian masyarakat pengemis dan mengemis adalah sosok dan pekerjaan yang ‘hina’ dan dipandang sebelah mata. Bahkan banyak teman menyebutnya sebagai ’sampah masyarakat’ disejajarkan dengan pelacur dan penjudi. Wah..wah..wah…kalau begitu apa tindakan pemerintah?
Operasi penjaringan dan penertiban pengemis sebetulnya terlihat seperti menempatkan para pengemis sebagai “pelaku kriminal” sedangkan pemerintah sebagai pihak yang dirugikan. Kalau pemerintah menaruh harapan berlebihan bahwa dengan cara itu maka persoalannya akan selesai, ah…. omong kosong dan tidak efektif lah. Sebab yang menjadi pokok persoalan adalah kesenjangan sosial yang makin kentara dan makin lebar. Daripada mereka mati, mungkin mereka berpikir lebih baik “bekerja” dan di mata mereka pekerjaan mengemis tentu saja “halal”. Toh lebih baik mengemis daripada merampok, mencuri atau menjambret?
1314159879875524003
Berilah sedekahmu selagi kamu bisa….(IndonesianOneSide)
Harusnya mereka dibina bukan dicemooh sebagai sampah masyarakat atau benalu masyarakat atau bahkan ditakut-takuti dengan ancaman sweeping. Upaya apapun yang dilakukan kalau tidak menyentuh masalah yang paling hakiki, masalah yang paling krusial dan substansial rasa-rasanya akan sia-sia. Kesejahteraan sosial sebagai wujud pengamalan salah satu sila dari Pancasila harus merupakan titik gerak, atau titik loncat dalam mengatasi masalah ini. Kalau pengemis dijadikan ‘musuh’ dan dianggap ‘lawan’ atau terlebih dikatakan sebagai ’sampah’ yang harus dibersihkan dari kota-kota besar, persoalan ini akan tetap hadir dari tahun ke tahun. Kan, ternyata dengan mengemis orang bisa menjadi kaya? So, why not? Mungkin begitu pikiran sempit mereka? Daripada jadi buronan KPK dan Interpol gara-gara korupsi uang miliaran rupiah, mendingan dikejar-kejar Sat.PolPP toh tertangkap dan diusir hari ini, besok mengemis lagi di sudut kota yang lain. Easy. Nothing to worry about!
Ini bulan penuh berkat. Tentu akan ada banyak berkat juga yang bakalan diperoleh para pengemis. Anggap saja sebagai bonus tahunan mereka. Kalau PNS atau karyawan perusahaan bonafide sering dapat bonus tahunan, maka bonus tahunan para pengemis adalah bulan-bulan seperti ini. Mari kita memberi sedekah!

Note: Jangan pernah membaca tulisan ini sebagai bertujuan mendukung para pengemis dan atau ajakan untuk menjadi pengemis. Ini cuma sekedar referensi supaya tidak melihat para pengemis dengan ‘kaca mata kuda’ saja.
Michael Sendow.
Sumber:

Kisah sebatang Pohon Tua

Kisah sebatang Pohon Tua

Suatu ketika, di sebuah padang, tersebutlah sebatang pohon rindang. Dahannya rimbun dengan dedaunan. Batangnya tinggi menjulang. Akarnya, tampak menonjol keluar, menembus tanah hingga dalam. Pohon itu, tampak gagah di banding dengan pohon-pohon lain di sekitarnya.

Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi beberapa burung disana. Mereka membuat sarang, dan bergantung hidup pada batang-batangnya. Burung-burung itu membuat lubang, dan mengerami telur-telur mereka dalam kebesaran pohon itu. Pohon itupun merasa senang, mendapatkan teman, saat mengisi hari-harinya yang panjang.

Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap singgah, dan berteduh pada kerindangan pohon itu. Orang-orang itu sering duduk, dan membuka bekal makan, di bawah naungan dahan-dahan. "Pohon yang sangat berguna," begitu ujar mereka setiap selesai berteduh. Lagi-lagi, sang pohon pun bangga mendengar perkataan tadi.

Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai sakit-sakitan. Daun-daunnya rontok, ranting-rantingnya pun mulai
berjatuhan. Tubuhnya, kini mulai kurus dan pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dulu di milikinya.
Burung-burung pun mulai enggan bersarang disana. Orang yang lewat, tak lagi mau mampir dan singgah untuk berteduh.

Sang pohon pun bersedih. "Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang Kau berikan padaku? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa Kau ambil semua kemuliaan yang pernah aku miliki?" begitu ratap sang pohon,
hingga terdengar ke seluruh hutan. "Mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku, agar aku tak perlu merasakan siksaan ini?" Sang pohon terus menangis, membasahi tubuhnya yang kering.

Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau berubah. Sang pohon tetap kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak semakin kering. Ratap dan tangis terus terdengar setiap malam, mengisi malam-malam hening yang panjang.
Hingga pada saat pagi menjelang. "Cittt...cericirit...cittt" Ah suara apa itu? Ternyata, ada seekor anak burung yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya. "Cittt...cericirit...cittt," suara itu makin keras melengking. Ada lagi anak
burung yang baru lahir. Lama kemudian, riuhlah pohon itu atas kelahiran burung-burung baru. Satu... dua... tiga... dan empat
anak burung lahir ke dunia. "Ah, doaku di jawab-Nya," begitu seru sang pohon.

Keesokan harinya, beterbanganlah banyak burung ke arah pohon itu. Mereka,akan membuat sarang-sarang baru. Ternyata, batang kayu yang kering, mengundang burung dengan jenis tertentu tertarik untuk mau bersa rang disana.
Burung-burung itu merasa lebih hangat berada di dalam batang yang kering, ketimbang sebelumnya. Jumlahnya pun lebih banyak dan lebih beragam. "Ah, kini hariku makin cerah bersama burung-burung ini", gumam sang pohon dengan berbinar.

Sang pohon pun kembali bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah, hatinya kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul di dekat akarnya. Sang Tunas tampak tersenyum. Ah, rupanya, airmata sang pohon tua itu, membuahkan bibit baru yang akan melanjutkan pengabdiannya pada alam.

***

Teman, begitulah. Adakah hikmah yang dapat kita petik disana? Allah memangselalu punya rencana-rencana rahasia buat kita. Allah, dengan kuasa yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan jawaban-jawaban buat kita.
Walaupun kadang penyelesaiannya tak selalu mudah ditebak, namun, yakinlah, Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita.

Saat dititipkan-Nya cobaan buat kita, maka di saat lain, diberikan-Nya kita karunia yang berlimpah. Ujian yang sandingkan-Nya, bukanlah harga mati. Bukanlah suatu hal yang tak dapat disiasati. Saat Allah memberikan cobaan
pada sang Pohon, maka, sesungguhnya Allah, sedang MENUNDA memberikan kemuliaan-Nya. Allah tidak memilih untuk
menumbangkannya, sebab, Dia menyimpan sejumlah rahasia. Allah, sedang menguji kesabaran yang dimiliki.

Teman, yakinlah, apapun cobaan yang kita hadapi, adalah bagian dari rangkaian kemuliaan yang sedang dipersiapkan-Nya buat kita. Jangan putus asa, jangan lemah hati. Allah, selalu bersama orang-orang yang sabar.