Jumat, 17 Desember 2010

Tempe Oh Tempe ( Allah Lebih Tahu Apa Yang Kita Butuh Saat ini )

Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe.
Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup.
Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. "Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. .." demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh.Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang kedelai, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian.
Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang kedelai, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.

Di tengah putus asa,terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. "Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini.
Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku..." Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya.

Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan... dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacang kedelainya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Diayakin, Allah pasti sedang "memproses" doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi.

Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang,dia berdoa lagi. "Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah.Bantulah aku, kabulkan doaku..."

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe.Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan... belum jadi.
Kacang kedelai itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang kedelai tersebut. "Keajaiban Tuhan akan datang... pasti," yakinnya.

Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, "tangan" Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa... berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.

Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. "Pasti sekarang telah jadi tempe!" batinnya. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan... dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.

Air mata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Apakah Tuhan ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.

Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar... merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya.

Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan... esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan "teman-temannya" sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat...

Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. "Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya?"

Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. "Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe..." Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. "jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe..."

"Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?" tanya perempuan itu lagi.

Kepanikan melandanya lagi. "Duh Gusti... bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?" ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, sahabat?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi! "Alhamdulillah!" pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.

Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. "Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?"

"Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Shalauddin, yang kuliah S2 di Australia
ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu?"
Sumber: www.rumah-yatim-indonesia.org

Rabu, 01 Desember 2010

Jonathan Favreau Penulis Pidato Obama Di UI

November 13, 2010 · Sebuah foto beredar cepat di ranah maya. Seorang laki-laki muda berambut cepak, berkulit bersih, hidung bangir dan tubuh bagas. Foto itu beredar lewat Twitter, Facebook dan Blackberry Messenger.

Siapa dia? usut punya usut, dialah Jonathan Favreau pemuda yang ternyata masih berumur 28 tahun, Jonathan Favreau penulis pidato Obama Presiden Amerika Serikat.

Sejak kedatangan Obama, juga pidatonya yang memukau di Universitas Indonesia kemarin, Jon Favreau, begitu panggilannya menjadi perbincangan para perempuan di Twitter. Salah satu yang memposting fotonya, presenter kondang, Sarah Sechan. “I wanna do bhinneka tunggal ika with you,” tulis Sarah Sechan dalam akun Twitter-nya.

Lahir di Massachusetts, AS, Favreau merupakan lulusan terbaik College of Holly Cross, pada 2004. Setelah lulus, dia langsung bekerja pada calon presiden dari Partai Demokrat John Kerry. Waktu itu umurnya baru 23 tahun. “Semua orang melihat saya, bingung, seolah berkata ’siapa sih anak ini’,” kata Favs, panggilannya.

Namun kepiawaiannya menyusun kata membuat partai itu kesengsem. Petinggi Demokrat yang kini menjabat Sekretaris Gedung Putih, Robert Gibbs, merekomendasikan Obama untuk memakai tenaga Favs dalam kampanye senatnya. Kerja sama itu diteruskan dalam kampanye presiden 2008.

Kejadian unik dan aneh ini berlanjut karena dari Favs-lah lahir “Yes We Can,” slogan sederhana namun mendunia. Saat Obama dilantik, Januari 2009, Dia tercatat sebagai penulis termuda untuk Pidato Presiden di umur 27. Dia juga mendapat ruang kerja tersendiri di West Wing Gedung Putih, jadi nahkoda bagi tim penulis pidato yang terdiri atas penulis-penulis senior.

Dia juga sangat pandai dalam merangkai kata mutiara dan kata motivasi

Dalam melakoni kerjanya, Favs sering nongkrong bareng Obama, guna menyerap ide dan tutur Presiden ke-44 AS tersebut. Saat klub bisbol idola Obama, White Sox menyapu bersih Red Sox yang dipuja Favs 2005 lalu, Obama mendatangi mejanya dan menyapu.

“Barack sangat mempercayainya,” ujar Penasihat Utama Obama, David Axelrod. “Dia memberika otoritas kepada Favs atas kata-kata yang akan diucapkannya.” Menurutnya, Obama tidak memberikan kepercayaan sebanyak itu pada banyak orang.

Favs terlihat sangat menikmati dunianya. Dia mengatakan posisi ini akan jadi kiprah terakhirnya di dunia politik. “Di luar ini, semuanya, adalah antiklimaks,” katanya.

Bagi anda yang ingin melihat kehebatan pemuda 28 tahun ini dalam menyusun pidato Obama di Universitas Indonesia. Anda dapat menyaksikan langsung video pidato Obama di Universitas Indonesia.

Sumber:

Sabtu, 20 November 2010

Developer Cilik, Antara Aplikasi dan Sekolah

Selasa, 16 November 2010 - 16:15 wib


Susetyo Dwi Prihadi - Okezone
Fahma Waluya Rosmansyah

Namanya Fahma Waluya Rosmansyah, umurnya baru 12 tahun, namun di usia yang terbilang sangat muda dia pantas dinobatkan sebagai developer termuda asli Indonesia. Aplikasi edutaiment-nya yang bernama BAHANA, sukses diunduh di 75 negara melalui Ovi Store.



Jika dilihat sekilas, tidak ada yang berbeda dari bocah kelahiran Bandung, 27 Mei 1998 ini, namun ketika sudah mengenalnya lebih jauh, barulah diketahui bahwa anak ini memiliki kemampuan istimewa. Bahkan ketika okezoneberbincang dengannya, dengan lugas dia memaparkan dengan bahasa Inggris yang lancar.



Berikut petikan wawancara okezone dengan Fahma, di acara Nokia Developer Metter, di Hotel Grand Mahakam, Jakarta, Selasa (16/11/2010).



Bagaimana awalnya bisa tertarik untuk membuat aplikasi?


Aku sebenarnya sejak umur 3 tahun sudah mengoprek komputer dan kebetulan aku suka menonton film-film kartun seperti Spongebob. Dari situ aku bertanya sama ayahku, gimana sih caranya kok gambar di kartun bisa bergerak? Sama ayah dikasih tahu kalau ini menggunakan Adobe Flash. Ya, sudah dari situ mulai buat gambar-gambar bergerak pakai Flash.



Lalu bisa membuat aplikasi BAHANA, bagaimana awal mulanya?


Aplikasi BAHANA itu, aplikasi pertama aku yang juga sudah masuk ke Ovi Store. Idenya sih dari keinginan aku untuk membuat game yang bisa mengajarkan adikku untuk mengenal bahasa Inggris. Aku yang membuat ide cerita dan gambarnya.



Kenapa game edutaiment dan untuk ponsel?


Pertama, semua anak-anak menyukai game. Kedua, saat ini banyak game yang aku lihat banyak yang tidak sesuai dengan umurku. Banyak darah, adegan berantem, dan banyak gambar pisau atau senjata. Dan apalagi saat ini aku baru tahu, kalau ada 5 miliar ponsel yang terjual di seluruh dunia.



Saat ini sudah ada berapa aplikasi lagi?


Sudah ada 12 aplikasi, termasuk aplikasi BAHANA. Tapi, saat ini belum aku kerjain semua seperti BAHANA. Aku masih harus ngerjain tugas-tugas sekolah.



Biasanya kalau membuat aplikasi selalu pakai Adobe?


Kadang aku memakai Adobe Flash CS3. Sesekali sih pakai software yang bisa untuk membuat animasi bergerak 3 dimensi.



Suka main game online juga?



Gak begitu sih. Apalagi yang banyak adegan kekerasannya. Kadang-kadang aku suka dibilang kuper (Kurang Pergaulan), kalau aku gak ikutan main game. Tapi sih aku biasa aja.



Kalau sudah besar mau jadi apa?


Mau jadi dosen elektro kayak bapak.



Inikan aplikasinya dah diunduh diseluruh dunia. Nanti pilih mana menjadi orang terkenal atau cari uang?


Jadi orang terkenal saja. Biar bisa banyak temannya.

Sumber:


Minggu, 31 Oktober 2010

2 Pemuda Afrika Selatan Pergi Haji dengan Bersepeda

Minggu, 31/10/2010 14:22 WIB

Nurvita Indarini - detikNews
Jeddah - Dua pemuda dari Afrika Selatan memiliki cara unik untuk pergi berhaji ke Tanah Suci. Selama 8 bulan, mereka mengayuh sepeda dari Cape Town, Afrika Selatan, hingga ke Arab Saudi untuk memenuhi rukun Islam yang ke-5.

Kedua pemuda yang penuh semangat itu adalah Nathim Cairncross (28) dan Imtiyaz Ahmad Haron (25). Ketika tiba di perbatasan Saudi, keduanya mengaku sangat senang
karena akan mewujudkan mimpinya untuk berhaji.

"Kami mengayuh dari Cape Town sampai ke Kerajaan (Arab Saudi) merupakan pengalaman yang melelahkan. Kami ingin pergi dengan cara begini sehingga kita siap menghadapi kerasnya pengalaman dalam menjalankan ibadah haji," ucap Cairncross yang bekerja sebagai perencana kota kepada Arab News melalui telepon. Demikian dikutip dari Arab News (27/10/2010).

Keduanya memulai perjalanan dengan sepedanya pada 7 Februari alias 8 bulan lalu. Mereka mengayuh melalui Botswana, Zimbabwe, Mozambique, Malawi, Tanzania, Kenya, Turki, Suriah dan Yordania sebelum mencapai perbatasan Saudi.

"Ini adalah haji pertama kami. Kami bisa datang untuk haji dengan pesawat, tapi kami ingin melakukan perjalanan dengan jalan berbeda, jadi kami memilih untuk menggunakan sepeda kami. Apalagi bersepeda adalah sesuatu yang paling kami suka," lanjut Cairncross.

Mereka berdua telah mengayuh 80 km hingga 100 km per hari dan beristirahat di tenda-tenda atau masjid setelah malam. Begitu fajar menjelang, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.

Di sepanjang jalan, mereka bertemu dengan orang-orang yang sangat baik dan sopan. Di setiap tempat yang dilewati, orang-orang memberi sambutan hangat. Bahkan saat tahu kedua pemuda itu akan berhaji, orang-orang semakin senang.

"Makanan tidak pernah menjadi masalah karena orang-orang menawari kami makanan. Tentu saja, membosankan mengayuh sepanjang perjalanan, terutama saat melewati daerah pegunungan," tambah dia.

Bahasa adalah masalah besar bagi mereka berdua. Karena itu ketika mulai memasuki negara-negara Arab, mereka memutuskan untuk sedikit belajar bahasa Arab, terutama saat perjalanan melalui Suriah dan Yordania.

"Ketika kami tiba di perbatasan Saudi, para petugas keamanan sangat ramah saat menyapa dan menyambut kami. Mereka juga senang saat tahu kami telah melakukan perjalanan sulit untuk memenuhi impian berhaji," tutur Cairncross.

"Kami datang dengan anggaran yang sangat kecil, dan kami temukan orang-orang yang menawarkan uang lokal kepada kami dan memenuhi kebutuhan kami," katannya.

Meski demikian, keduanya tidak mengalami masalah serius selama perjalanan melewati sembilan negara dalam waktu berbulan-bulan. "Yang kami lakukan adalah mengganti ban dan tabung, dan mengepaskan pedal rantai dari waktu ke waktu," ucapnya.

Ketika ditanya mengapa mereka memilih untuk naik sepeda, Cairncross berkata, "Ini memberi kita banyak kesempatan untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang yang berbeda di negara yang berbeda juga."

Cairncross dan Haron adalah mahasiswa hukum Islam dan mempelajari Syariah. "Saya bergabung dengan satu universitas lalu menyelesaikan kursus perencanaan kota dan sekarang saya bekerja di bidang konstruksi," jelas Cairncross.

Keduanya belum menikah dan sangat hobi olahraga. Cairncross menyukai selancar angin di sepanjang pantai dan laut, sedangkan Haron, gemar kickboxing dan mendaki gunung. Setelah berhaji, keduanya akan kembali ke rumah melalui Afrika Barat.
Sumber:

Jumat, 22 Oktober 2010

Pondok Ban Tan - Thailand

oleh Anies Baswedan

Sekitar seribu anak-anak menghampar di lapang rumput depan pondok. Lautan kerudung dan peci putih, melafalkan shalawat, khusuk dan menggema.

Suasana pondok Pesantren Ban Tan malam ini terasa unik. Pondok kecil ini dibangun di pedalaman Thailand Selatan. Utk mencapai-nya harus terbang dari Bangkok, jaraknya sekitar 750 km ke kota kecil Nakhon Si Thammarat lalu dari airport yang kecil itu, naik mobil kira2 satu jam ke pedalaman. Masuk di tengah2 desa-desa dan perkampungan umat Budha, disitu berdiri Pondok Ban Tan. Dibangun awal abad lalu dengan beberapa orang murid. Niatnya sederhana, menjaga aqidah umat Islam yg tersebar di kampung2 yang mayoritas penduduknya beragama Budha.

Melihat wajah anak-anak pondok, seperti kita sedang menatap masa depan. Anak-anak yang dititipkan orang tua-nya untuk sekolah ke Pondok, untuk menjaga sejarah kehadiran Islam di kerajaan Budha ini. Di propinsi ini mereka berdampingan dengan damai. Sebuah tradisi yang harus dijaga terus.

Malam ini, setelah berliku perjalanannya, seakan jadi salah satu event puncak utk keluarga pengasuh pondok ini.

Di awal tahun 1967 terjadi perdebatan panjang diantara para guru di Pondok ini. Anak tertua Haji Ismail, pemimpin pondok ini, jadi bahan perdebatan. Anak usia 17 tahun itu memenangkan bea-siswa AFS untuk sekolah SMA setahun di Amerika Serikat.

Pondok Ban Tan seakan goyah. Tak terbayangkan bagi mereka, dari perkampungan Muslim yang kecil, jauh dari keramaian, dan di pedalaman Thailand di tahun 1960an, cucu tertua pendiri Pondok akan dikirimkan ke Amerika. Umumnya santri-santri cerdas dikirim melanjutkan sekolah ke Jawa atau Kedah atau Kelantan; jika ada dana mereka akan dikirim ke Makkah atau Mesir. Tapi Amerika ?!?; tidak pernah terlintas di benak mereka akan mengirim santri belajar ke Amerika. Saat itu para guru di pondok terpecah pandangannya: separoh takut anak ini akan berubah bila dikirim ke negeri kufar (istilah yang digunakan dalam perdebatan itu), mereka tidak ingin kehilangan anak cerdas itu.

Setelah perdebatan panjang, Si Kakek, pendiri Pondok itu, mengatakan, "saya sudah didik cucu saya ini, saya percaya dia istiqomah dan saya ikhlas jika dia berangkat". Ruang musyawarah di pondok itu jadi senyap. Tidak ada yang berani melawan fatwa Sang Guru. Haji Ismail, sang ayah, mengangguk setuju. Tidak lama kemudian berangkatlah anak muda tadi ke Amerika.

Tahun demi tahun lewat. Dan dugaan guru-guru Pondok itu terjadi: anak itu tidak pernah kembali jadi guru pondok. Dia tidak meneruskan mengelola warisan kakek dan ayahnya itu. Dia pergi jauh. Anak muda itu terlempar ke orbit lain.

Malam ini anak yang dulu diperdebatkan itu pulang. Dia pulang bukan sebagai orang asing, dia pulang membawa kebanggaan untuk seluruh keluarga, seluruh pondok dan seluruh rakyat di propinsi kecil ini.

Dia pulang sebagai Sekretaris Jendral ASEAN. Pondok Ban Tan jadi terkenal, kampung halaman jadi perhatian dunia. Sebelumnya dia adalah menteri luar negeri Thailand, muslim pertama yang jadi Menlu di Negara berpenduduk mayoritas Budha.

Namanya dikenal oleh dunia sebagai Surin Pitsuwan; dikampungnya dia dikenal sebagai Abdul Halim bin Ismail.

Malam ini Surin pulang kampung membawa teman dan koleganya. Sekarang seluruh bangunan Pondok ini nampak megah. Setiap bangunan adalah dukungan dari berbagai negara. Anak ini pulang dengan membawa dukungan dunia utk Pondok mungil di pedalaman ini. Semua adiknya menjadi guru, meneruskan tradisi dakwah di kampung halamannya.

Saya menyaksikan bahwa sesungguhnya, Surin selalu "hadir" disini, dia membawa dunia. Dia menjadi jembatan lintas peradaban, dia jadi duta Muslim Thailand di dunia.

Dia tidak pernah hilang seperti ditakutkan guru-gurunya. Dia masih persis seperti kata Kakeknya. Sejak pertama kali saya ngobrol dengan Surin, 3 tahun lalu di Hanoi, tutur kata dan pikirannya seakan mengatakan: isyhadu bi ana muslimin.

Ramadhan kemarin, saat kita makan malam -Ifthar bersama- di Bangkok, Surin cerita tentang ASEAN Muslim Research Organization Network (AMRON) conference di Walailak University dan ingin undang ke Pondoknya awal Oktober. Saya jawab tidak bisa karena ada rencana acara di Bandung. Sesudah itu, dia kirim beberapa sms meyakinkan bahwa ke "Ban-Tan" lebih utama daripada ke "Ban-Dung".

Saat duduk di Masjid Al-Khalid, bersama ratusan santri, bersyukur rasanya merubah jadwal, dari ke Bandung jadi berangkat ke Ban Tan. Saya sholat Isya’ berjamaah duduk disamping Surin, selesai sholat ratusan tangan mengulur, semua berebut salaman dengannya. Wajah takjub santri-santri itu tidak bisa disembunyikan, mereka semua seakan ingin bisa seperti Surin. Dia seakan jadi visualisasi nyata, dari mimpi-mimpi para santri di kampung kecil di pedalaman Thailand.

Malam itu, di pelataran Pondok Ban Tan dibuatkan panggung utk menyambut. Santri-santri bergantian naik panggung. Mereka ragakan kemahiran bercakap melayu, inggris dan arab. Sebagai puncak acara mereka tampilkan Leke Hulu (Dzikir Hulu). Tradisi tarikat yang sudah dijadikan seni panggung. Seluruh santri ikut berdzikir, gemuruhnya menggetarkan dada.

Besok paginya Syaikhul Islam Thailand, pemimpin Muslim tertinggi di Thailand khusus datang dari Songklah, kota di sisi selatan, untuk sarapan pagi bersama di Pondoknya. Kita ngobrol panjang dan saya tanya asal keturunannya, karena garis wajahnya berbeda; dia jawab kakek saya dari Sumatera, tapi dia keturunan Hadramauth.

Hari itu saya bersyukur. Saya katakan itu pada Surin bahwa ini perjalanan luar biasa. Tapi dia belum puas, Surin panggil salah satu alumni pondoknya (seorang doktor ilmu management) untuk antarkan saya ke Masjid di kampung-kampung pesisir pantai untuk dikenalkan dengan Ustadz keturunan Minang.

Setelah melewati kampung-kampung dan pasar yang sangat-sangat sederhana, saya sampai di rumahnya yang sangat sederhana, di belakang Madrasah yg dipimpinnya. Kita berdiskusi tentang suasana disini, tentang Minang, dan tentang kemajuan. Lalu dia ambil bingkai-bingkai dari lemari, dia tunjukkan beberapa foto-foto orang tuanya, ayahnya dipaksa hijrah dari Maninjau di Ranah Minang karena perlawanan pada Belanda. Kira-kira 90 tahun yang lalu, dia sampai di Thailand Selatan dan jadi guru agama. Mengagumkan, anak-anak muda pemberani memang selalu jadi pilar kokohnya Dienul Islam. Mereka hadir dan hidup berdampingan penuh kedamaian.

Lengkap sudah perjalanan kali ini. Dalam satu rotasi ditemukan dengan komunitas yang kontras. Di Kuala Lumpur, berdialog dengan kalangan bisnis dan politik dalam ASEAN 100 Leadership Forum dengan suasana megah, di Thailand Selatan berdialog dengan kaum Muslim minoritas dengan suasana sederhana, sangat bersahaja.

Sekali lagi kita ditunjukan betapa hebatnya efek pendidikan. Beri fondasi aqidah, bekali dengan modal akhlaqul karimah lalu biarkan anak muda terbang mencari ilmu, membangun network, merajut masa depan. Anak muda tidak takut menyongsong masa depan. Kelak ia akan pulang, menjawab doa ibunya, menjawab doa ayahnya dengan membawa ilmu, membawa manfaat bagi kampung halamannya, bagi negerinya dan bagi umatnya.

Di airport kita berpisah. Saya pulang kampung ke Jakarta dan Surin berangkat ke Brussel, memimpin delegasi para kepala pemerintahan ASEAN dalam ASEAN-European Summit.

Hari ini anak yang dulu ditakutkan hilang itu akan memimpin delegasi pemimpin se-Asia Tenggara. Dan, pada hari ini juga Ibunya masih tetap tinggal di pondok Ban Tan, didalam usianya sekitar 90 tahun, tetap mendoakan anaknya seperti saat melepasnya berangkat sekolah SMA ke Amerika dulu, sekali lagi kita sakasikan betapa hebat doa seorang ibu kepada anaknya.
Seperti Sabda Rasulullah 'Dosa Seorang Ibu kepada anaknya seperti doa Seorang Rasul kepada umatnya".

Barakallahu lakum . . . .

Just landed in Jakarta; Oct 4, 2010; 00.30 am.
(Sekadar catatan pendek, sebuah perjalanan singkat. Ditulis dalam perjalanan pulang ke Jakarta)

Kamis, 14 Oktober 2010

MENGAPA SAYA?

Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yg memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; US Open (1968), Australia Open (1970), dan Wimbledon (1975).

Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yg mengharuskannya menjalani operasi bypass. Setelah dua kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui transfusi darah yang ia terima. Seorang penggemarnya menulis surat kepadanya,"Mengapa Allah SWT memilihmu untuk menderita penyakit itu?" Ashe menjawab,"Di dunia ini ada 50 juta anak yg ingin bermain tenis,diantaranya 5 juta orang yg bisa belajar bermain tenis,500 ribu orang belajar menjadi pemain tenis profesional,50 ribu datang ke arena untuk bertanding,5000 mencapai turnamen grandslam,50 orang berhasil sampai ke Wimbeldon,empat orang di semifinal, dua orang berlaga di final.

Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Allah SWT,

"Mengapa saya?", Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Allah SWT,

"Mengapa saya?"

Sadar atau tidak, kerap kali kita merasa hanya pantas menerima hal-hal baik dalam hidup ini; kesuksesan, karier yang mulus, kesehatan. Ketika yang kita terima justru sebaliknya; penyakit, kesulitan, kegagalan, kita menganggap Allah tidak adil. Sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Allah.

Tetapi tidak demikian. Ia berbeda dengan kebanyakan orang. Itulah cerminan hidup beriman; tetap teguh dalam pengharapan, pun bila beban hidup yg menekan berat.

Ketika menerima sesuatu yg buruk, ingatlah saat -saat ketika kita menerima yg baik...Karena sesungguhnya kehidupan itu selalu berimbang, selalu berpasangan...Ada kesulitan ada keberuntungan, ada datang ada pergi, ada di atas ada di bawah, dan seterusnya...

Dimana, semua itu sesungguhnya telah di tetapkan oleh ALLAH SWT dan kita tinggal menjalaninya...dengan sepenuh sekuat ikhtiar kita, namun Sang Maha Sutradara lah tetap yang mengatur "skenario kehidupan" untuk kita selanjutnya.....

Oleh :Teguh Ma pada 13 Oktober 2010 jam 10:35

Rabu, 13 Oktober 2010

Ibu, aku hanya ingin dipahami

Oleh : Muliadi Saleh

--------------------------------------------------------------------------

Ibu,
Bukannya aku malas dan suka melamun, tapi aku lagi menyiapkan diriku menerima seluruh keindahan alam semesta. Beri aku kesempatan berdiam sejenak karena gambar-gambar kehidupan yang sedang kurekam akan membuatku bisa memahami simfoni dan harmoni. Ingin sekali aku menciptakan melodi yang indah agar Ibu bisa menikmatinya sambil membuatkan aku masakan yang enak.

Ibu,
Bukannya aku tak bisa menjumlah 2 + 0 + 4, tapi aku lagi melihat seekor bebek berenang di kolam yang indah dengan deretan kursi cantik di sekelilingnya. Beri aku kesempatan merekamnya di alam kesadaranku karena ingin sekali aku membuatkan Ibu sebuah kolam renang yang indah dan kita duduk bersama di kursi yang empuk dan cantik sambil menikmati bahagianya bebek berenang.

Ibu,
Bukannya aku tak mau mendengar dan menatap mata Ibu ketika dongeng-dongeng itu dibacakan dan lagu nina bobo dinyanyikan, tapi aku lagi merasakan indahnya suara Ibu berpadu dengan suara-suara lain di kamar ini. Beri aku kesempatan menikmatinya karena suatu hari nanti akan kubuatkan sebuah ruangan agar Ibu bisa menyanyi dan mengaji. Di Ruangan itu kita bisa bernyanyi bersama dan selalu bisa kunikmati suara Ibu yang merdu melantunkan ayat-ayatNya.

Ibu,
Bukannya aku tak bisa membaca kata demi kata yang ibu ajarkan, tapi aku lagi merekam taburan kata-kata agar terangkai sebuah kalimat yang indah, layak dan sopan. Beri aku kesempatan melihat kata-kata itu saling merangkai, karena aku ingin menulis sebuah puisi yang indah yang spesial untuk aku persembahkan di hari ulang tahun Ibu.

Ibuku Sayang,
Kalau Ibu marah dan mencubit, tangis dan air mataku itu bukanlah karena aku benci atau marah. Aku hanya sedih jika cubitan dan amarah Ibu mengikis rasa sayang, cinta, dan potensiku untuk menghadiahi Ibu sebuah rumah mungil dengan kolam renang, ruang bernyanyi dan dapur yang indah. Dan hatiku akan sangat menyesal jika tak tak sanggup merangkai dan membacakan puisi indah di hari spesial Ibu. Karena bagiku : IBU ADALAH SEGALANYA.


Suara Hati dari Seorang Anak yang dominan otak kanan.
Ditulis dan Dikirim oleh: Pak Muliadi Saleh
10 komentar
Sumber :

Rabu, 30 Juni 2010